Berdoa di Makam Wali Syirik? Ulama Ahli Hadis Ternyata Malakukannya!

...
Gambar hanya ilustrasi

al-Ibar.net – Teman-teman Salafi Wahabi menuduh pengikut Ahlussunnah Wa al-Jamaah (Aswaja) sebagai kuburiyun (penyembah kuburan). Hal ini dikarenakan masyarakat Aswaja memiliki tradisi mendatangi makam para wali. Mereka berdoa kepaa Allah SWT di makam tersebut.

Pengikut Aswaja berpendapat, berdoa kepada Allah SWT di makam wali termasuk wasilah atau tawassul. Sedangkan mencari wasilah atau tawasul adalah perintah dalam al-Quran. Artinya, berdoa di makam para wali atau makam orang saleh tidak melanggar syariat, apa lagi sampai kafir. Sebab, tawasul adalah perintah al-Quran. Allah SWT berfriman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dan carilah wasilah…” (QS. al-Maidah: 35)

Hakikat tawasul adalah mencari sebab agar kita sampai pada apa yang kita inginkan. Contoh, saat sakit, kita minum obat agar sembuh. Minum obat ini adalah tawasul, penyebab kesembuhan. Sedangkan yang menyembuhkan adalah Allah SWT.

Sama dengan orang-orang Aswaja saat berdoa di makam para wali, ulama, dan orang-orang saleh. Itu hanya mencari penyebab. Artinya, mereka berdoa kepada Allah SWT di makam orang yang dekat dengan-Nya. Harapannya, Allah SWT mengabulkan doa sebab kekasih-Nya itu.

Faktanya, para ulama hadis juga melakukan doa di makam kekasih Allah SWT. Ahli Hadis bertawasul dan melakukan tabaruk (mencari berkah) sehingga apa yang diinginkan tercapai dan penuh berkah.

Berikut ini bukti-bukti bahwa ulama ahli Hadis berdoa di makam wali. Mereka juga berpendapat bahwa berdoa dan bertabaruk di makam wali boleh menurut syariat.

#1 Kuburan Imam Bukhari dan Imam Muslim Ramai Dikunjungi

Imam al-Hafizh adz-Dzahabi, seorang ulama ahli hadis dan ilmu rawi menulis tentang biografi Imam Malik dan Imam Muslim. Beliau mengatakan, bahwa kuburan dua ulama besar tersebut ramai dikunjungi. Beliau menulis tentang maqbarah Imam Malik dan Imam Muslim seperti ini,

وَدُفِنَ (اْلاِمَامُ مَالِكٌ) بِالْبَقِيْعِ اِتِّفَاقًا، وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ، رَحِمَهُ الله

“Para ulama sepakat bahwa Imam Malik dikebumikan di Baqi’ (Masjid Nabawi, Madinah). Makam Imam Malik terkenal dan diziarahi.”

تُوُفِّيَ مُسْلِمٌ فِي شَهْرِ رَجَبَ سَنَةَ إِحْدَى وَسِتِّيْنَ وَمِئَتَيْنِ بِنَيْسَابُوْرَ، عَنْ بِضْعٍ وَخَمْسِيْنَ سَنَةً، وَقَبْرُهُ يُزَارُ

“Imam Muslim wafat pada bulan Rajab tahun 261 H. di Naisabur pada usia 50 tahun lebih. Makam Imam Muslim diziarahi.”

#2 Imam al-Bukhari Bertabaruk pada Kuburan Nabi SAW

Sahih al-Bukhari adalah kitab hadis yang paling sahih. Kitab ini menempati urutan kedua setelah al-Quran dalam refensi Islam. Ternyata, Imam al-Bukhari bertabaruk (mencari berkah) di makam Nabi Muhammad SAW. Imam al-Bukhari pernah berkata sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari,

قَالَ فَلَمَّا طَعَنْتُ فِي ثَمَانِيَ عَشَرَةَ وَصَنَّفْتُ كِتَابَ قَضَايَا الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ ثُمَّ صَنَّفْتُ التَّارِيْخَ فِي الْمَدِيْنَةِ عِنْدَ قَبْرِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ أَكْتُبُهُ فِي اللَّيَالِي الْمُقْمِرَةِ

“Ketika saya (Imam al-Bukhari) berusia 18 tahun, saya menulis kitab himpunan nama Sahabat dan Tabiin. Kemudian saya mengarang kitab “Tarikh” di Madinah, di dekat makam Nabi SAW. Saya menulis kitab “Tarikh” itu di malam-malam purnama.”

Imam al-Bukhari mengarang kitab ini di dekat makam Rasulullah SAW. Hal ini dalam rangka mencari berkah agar kitab beliau banyak manfaatnya. Ternyata betul, kitab itu banyak manfaatnya.

Abu al-Wafa’ al-Afghani, musahih kitab “Tarikh” Imam al-Bukhari berkata bahwa kitab “Tarikh” Imam al-Bukhari ini banyak manfaatnya karena mendapakan berkah saat penulisan berada di dekat makam Rasulullah SAW.

#3 Imam Ibnu Hibban Berdoa di Makam Wali

Imam Ibnu Hibban adalah ulama ahli hadis. Beliau murid dari Imam an-Nasai yang juga ahli hadis. Bahkan, beliau punya karangan kitab hadis yang bernama Sahih Ibnu Hibban. Beliau bercerita dalam kitab ats-Tsiqat bahwa dirinya bertawasul, tabaruk dan berdoa di makam atau kuburan ulama.

وقبره بسنا باذ خارج النوقان مشهور يزار بجنب قبر الرشيد قد زرته مرارا كثيرة وما حلت بي شدة في وقت مقامى بطوس فزرت قبر على بن موسى الرضا صلوات الله على جده وعليه ودعوت الله إزالتها عنى إلا أستجيب لي وزالت عنى تلك الشدة وهذا شيء جربته مرارا فوجدته كذلك أماتنا الله على محبة المصطفى وأهل بيته صلى الله عليه و سلم الله عليه وعليهم أجمعين

“Makam Ali bin Musa di Sanabadz sebelah luar Nauqan sudah terkenal dan diziarahi di dekat makam ar-Rasyid. Saya juga sudah berkali-kali berziarah ke makam beliau. Saya tidak mengalami kesulitan ketika berada di Thus, kemudian saya berziarah ke makam Ali bin Musa -semoga Salawat dari Allah SWT dihaturkan kepada kakeknya (Nabi Muhammad SAW)-  dan saya berdoa kepada Allah SWT untuk menghilangkan kesulitan tersebut. Doa itu dikabulkan dan kesulitan saya pun hilang. Hal ini saya alami berkali-kali dan hasilnya selalu begitu. Semoga Allah SWT mewafatkan kita dalam keadaan cinta kepada Nabi dan keluarganya Saw”.

#4 Imam an-Nawawi Menjelaskan Bahwa Umat Islam Bertabarruk dengan Kuburan Sayidina Hamzah

Imam an-Nawawi adalah ulama fikih mazhab as-Syafi’i. Beliau juga terkenal sebagai ulama ahli hadis. Karyanya sangat banyak, termasuk kitab Syarah Sahih Muslim yang menjelaskan panjang lebar isi dari kita Hadis Shahih Muslim. Dalam kitab Tahdzib al-Asma’, beliau menjelaskan bahwa umat Islam bertabaruk dengan makam paman Nabi, Sayidina Hamzah.

اُسْتُشْهِدَ حَمْزَةُ يَوْمَ أُحُدٍ فِى نِصْفِ شَوَّالٍ مِنَ السَّنَةِ الثَّالِثَةِ مِنَ الْهِجْرَةِ بَعْدَ أَنْ قَتَلَ أَحَدًا وَثَلاَثِيْنَ مِنَ الْكُفَّارِ، وَدُفِنَ عِنْدَ أُحُدٍ فِى مَوْضِعِهِ، وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ وَيُتَبَرَّكُ بِهِ

“Sayidina Hamzah meninggal secara syahid waktu perang Uhud di pertengahan Syawal tahun ke tiga hijriyah. Hal itu terjadi setelah beliau berhasil membunuh 31 orang kafir. Makam Sayidina Hamzah terkenal, diziarahi dan dicari berkahnya”

#5 Fatwa Imam Adz-Dzahabi tentang Doa, Tawasul, dan Tabaruk di Makam

Imam Adz-Dzahabi, salah satu ulama hadis mengatakan bahwa berdoa di makam para nabi dan para wali itu mustajab (cepat dikabulkan). Beliau menulis dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’,

قُلْتُ: وَالدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ عِنْدَ قُبُوْرِ اْلاَنْبِيَاءِ وَاْلاَوْلِيَاءِ وَفِي سَائِرِ الْبِقَاعِ، لَكِنْ سَبَبُ اْلاِجَابَةِ حُضُوْرُ الدَّاعِي وَخُشُوْعُهُ وَابْتِهَالُهُ، وَبِلاَ رَيْبٍ فِي اْلبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ وَفِي الْمَسْجِدِ وَفِي السَّحَرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَتَحَصَّلُ ذَلِكَ لِلدَّاعِي كَثِيْرًا

Saya (Imam adz-Dzahabi) berkata: Doa itu mustajab (dikabulkan) ketika dilakukan di dekat makam para Nabi dan wali, juga di beberapa tempat. Namun penyebab terkabulnya doa adalah konsentrasi dan kekhuyukan orang yang berdoa. Juga tidak diragukan lagi, berdoa di tempat-tempat yang diberkati, di masjid, saat sahur dan sebagainya itu juga sangat berperan untuk orang yang berdoa dalam diterimanya doa.”

Dari semua penjelasan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa berdoa, tawasul dan mencari berkah di makam para nabi, wali, ulama, dan orang saleh itu sudah dilakukan dari zaman dahulu, termasuk dilakukan oleh ulama ahli hadis. Dengan demikian, berdoa di makam wali  tidak syirik apalagi kafir. Wallahu a’lam.

Shohibul Ilmi

Da’i muda yang kini tinggal di Bangkalan

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com