Akidah

Isra-Miraj Rasulullah dan Kisah Masyitah Memperjuangkan Akidah

...
Sumber foto: http://www.encikshino.com

Muqaddimah Isra-Mi’raj

Menurut pendapat yang masyhur bulan Rajab merupakan bulan terjadinya Isra’ dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad Saw..

Seperti yang sudah kita ketahui, umat Islam yang mayoritas berpaham aswaja (Ahlussunnah waljamaah) pada setiap momen-momen bersejarah yang penting tidak ketinggalan untuk memeringatinya yang diekpresikan dalam bentuk bersyukur kepada Allah Swt. dan sebagai bahan tafakkur serta pembalajaran yang diambi hikmahnya untuk bekal kebaikan dunia dan akhirat.

Setiap menjelang bulan Rajab, umat Islam wabil khusus yang ada di Indonesia tidak pernah lupa untuk memeringatinya dengan tema besar Isra dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw..

Sayid Muhammad bin Alawy al-Maliki dalam bukunya al-Anwar al-Bahiyyah Min Isra wa Mi’raj Khairil Bariyyah, hlm 7, menegaskan bahwa perkumpulan dalam rangka Maulid Nabi, Isra-Mi’raj, Malam Nisfu Sya’ban, Nuzul Al-Qur’an pada dasarnya lahir dari adat istiadat yang lumrah (amrun âdî) yang dilakukan umat ini.

Karena merupakan adat istiadat, dengan sendirinya tidak boleh divonis sebagai bentuk syariat sebagaimana pula tidak bisa dituduh sebagai amalan yang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama, pokok-pokok agama, akidah dan syariat.

Kemudian beliau melanjutkan dalam bukunya tersebut, bahwa tidak dapat diragukan lagi perkumpulan dalam rangka memeringati Isra-Mi’raj, selagi di dalamnya diniatkan untuk Allah, bersama Allah, sudah barang tentu diterima oleh Allah, dan perbuatan ini merupakan kebiasaan (adat istiadat) yang terpuji di sisi Allah Swt..

Menyempatkan diri untuk berkumpul yang dihiasi dengan doa bersama, zikiran, tawajjuhan kepada Allah demi mendapat nafahat, kebaikan, keberkahan adalah bentuk perbuatan yang paling agung dan mulia.

Dengan begitu, ikut andil memeringati Isra’-Mi’raj dan acara yang serupa dengannya yang dikemas dengan tausiyah, tadzkir, irsyad, nasehat, pidato, dakwah serta mengajak umat pada kebaikan, itu lebih utama daripada menolak dan melarangnya.

Juga, sudah maklum, bahwa perkumpulan yang diarahkan pada kebaikan, perbuatan ma’ruf, ihsan serta tamassuk (berpegang teguh) padanya adalah merupakan kewajiban bagi kita semua.

Arti Isra Bagi Nabi Muhammad saw.

Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari kota Masjid al-Haram Mekkah menuju Masjid al-Aqsha Palestina. Perjalanan itu dengan mengendarai Buraq yang ditemani oleh Malikat Jibril Alaihissalam.

Sebelum penulis mengurai tentang peristiwa agung yang dialami baginda Rasulillah Saw. itu, penulis terlebih dahulu akan menyinggung sedikit terkait firman Allah Swt dalam surah al-Isra ayat pertama:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat” (QS. al-Isra:1)

Peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. sebagai bukti akan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt, serta bukti akan mukzijat Nabi Muhammad.

Menurut pakar tafsir, penyebab turunnya ayat ini adalah adanya penolakan dari orang-orang musyrik akan peristiwa Isra dan sekaligus mereka mendustakannya setelah Nabi Muhammad Saw. memberitahukan mereka.

Dalam ayat ini, ada pengakuan terbaik dari Allah Swt. pada Nabi Muhammad, berupa pengakuan khusus sebagai hamba-Nya. Pengakuan istimewa dari Allah Swt.

Dalam ayat di atas, Allah mengakui bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah hamba-Nya. Tentu pengakuan ini adalah keistimewaan agung bagi Nabi Muhammad Saw..

Untuk memudahkan para pembaca, marilah kita sejenak berlogika. Ketika ada santri, murid, siswa atau mahasiswa mengagung-agungkan dan memuji-muji gurunya, menyebut-nyebut kehebatannya.

Hal demikian bukanlah termasuk sesuatu yang luar biasa dan istimewa bagi seorang murid tersebut.
Namun, jika seorang guru dengan terang-terangan memuji dan mengakui kehebatan, kesalehan, ketawaduan muridnya, barulah hal demikian merupakan sesuatu yang luar biasa dan ajib bagi seorang murid.

Begitu juga, pengakuan Allah Swt. pada Rasulullah Saw. dengan menyebutnya sebagai hamba-Nya adalah merupakan sesuatu yang luar biasa bagi Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Melaksanakan Isra’ dengan Ruh dan Jasad

Perlu dipahami bahwa terjadinya Isra dan Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad Saw dengan jasad dan ruh sekaligus, bukan dalam alam mimpi. Hal ini menjadi salah satu mukjizat yang ada pada pribadi Rasulillah Saw..

Orang-orang kafir dan musyrik seperti Abu Jahal dan para pendukungnya mendustakan dan tidak membenarkan terjadinya Isra-Mi’raj Nabi Muhammad lantaran mereka mengandalkan akal dan logika serta tidak dibantu dengan keimanan yang kuat, malah mereka menertawakan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil.

Namun, sikap dan mental oarng-orang yang beriman pada Allah Swt. dan rasul-Nya seperti Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq, mereka menyikapi kejadian perjalanan Isra-Mi’raj dengan hati dan keimanan kokoh sehingga tidak ada keraguan secuil pun.

Bahkan seandainya ada kejadian yang lebih aneh dan lebih dahsyat sekalipun mereka pasti membenarkannya.

Harum Semerbak yang Keluar dari Masyitha

Isra’-Mi’raj Nabi Muhammad Saw. merupakan suatu kejadian yang luar biasa yang tidak bisa dijangkau oleh akal, tapi mampu dijangkau oleh hati dan keimanan.

Dalam peristiwa ini, nabi Muhammad mencium bau yang sangat wangi, yaitu bau wangi yang memancar dari kuburan Masyithah, suami dan kedua anaknya.

Saat itu, Masyithah sebagai tukang sisir rambut anak gadis Fir’aun. Suatu hari, sisir rambut yang digunakan untuk menyisir anak gadis Fir’aun tejatauh. Terucaplah dari bibir Masyithah kalimat bismillah dan celakalah seorang Fir’aun.

Mendengar ucapan demikian, anak gadis Fir’aun berkata: Apakah dirimu memiliki Tuhan selain Bapakku?. Masyithah menjawab dengan tanpa ragu: Iya, saya punya Tuhan Allah Swt. Kemudian si gadis menempeli: Akan aku laporkan pada bapakku. Masyithah menjawab: Silahkan.

Setelah kejadian berlangsung, Fir’aun memanggil Masyithah dengan bertanya, benarkah dirimu punya Tuhan selain aku?. Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah Swt..

Dengan berbagai cara, Fir’aun membujuk Masyithah agar mengakui keyakinan Fir’aun dan menjadi pengkiut. Tapi dengan keimanan yang kokoh dan kuat, Masyithah tetap beriman kepada Allah dan tidak mau menjual agamanya kapada Fir’aun.

Setelah Fir’aun tidak mampu merayu dan membujuk Masyithah, akhirnya Masyithah bersama suami dan kedua anaknya yang masih kecil dilemparkan ke dalam kuali yang berisi minyak yang dipanasi dengan api yang sangat dahsyat (digoreng).

Sebelum digoreng, Masyithah berminta agar dikubur dalam satu tempat bersama dengan suami dan kedua anaknya. Bagaimana keteguhan iman pada Allah Swt. dapat mengantarkan Masyithah dan keluarnya bau harumnya tersium nabi Muhammad Saw. Dan Masyithah dan keluarganya menjadi salah satu penghuni surganya Allah Swt..

Hukuman untuk Orang yang Malas Mengerjakan Salat

Dalam perjalanan Isra’-Mi’raj Nabi Muhammad mendapati sekelompok kaum yang kepalanya dipecahkan dengan batu. Begitu kepala dihantam dengan batu besar, kepala kembali pada semula dan begitu seterusnya.

Lalau Malaikat Jibril memberitahu nabi, bahwa mereka adalah orang-orang yang kepalanya berat untuk melaksanakan sholat, alias tidak menunaikan salat yang wajib baginya.

Kemudian juga ditampakkan pada Nabi Muhammad saw sekelompok kaum di tangan kanannya memegang daging matang yang bagus, dan daging mentah yang busuk. Mereka memakan daging mentah yang busuk dan meninggalkan daging matang yang bagus.

Lalu Malaikat Jibril memberitahukan nabi bahwa mereka adalah seorang suami yang sudah memiliki istri yang halal, tapi dia mendatangi perempuan lain yang tidak halal baginya. Lalu bermalam di sisi wanita yang haram tersebut.

Begitu juga, seorang wanita yang telah memiliki suami yang halal, tapi ia mendatangi lelaki haram dan bermalam dengannya.

Pelajaran Berharga Peristiwa Isra-Mi’raj

Pelajaran yang sangat berharga yang perlu pembaca ketahui dari perjalan Isra’-Mi’raj baginda Nabi Muhammad Saw. adalah keutamaan Nabi Muhammad Saw. dibandingkan dengan nabi-nabi sebelumnya.

Hal ini dapat diketahui salah satunya adalah Allah Swt. tidak pernah memanggil nama beginda nabi dengan namanya saja, namun Allah menyebut dan memanggil nama Nabi Muhammad dengan kebaikan sifat-sifat yang dimilik Nabi Muhammad, seperti Ya Ayyuhannabi, Ya Ayyuharrasul.

Keistimewaan ini tidak dimiliki selain Nabi Muhammad. Tatkala Allah Swt memanggil Nabi Adam, Allah menyebutnya dengan namanya saja (QS: al-A’rah: 19). Tatkala memanggil Nabi Isa, Allah sebut nama Nabi Isa (QS: al-Maidah: 110). Tatkala Allah memanggil Nabi Nuh, Allah sebut nama Nuh (QS: Hud 43). Begitu juga ketika Allah menyebut nama-nama Nabi selain nama Nabi Muhammad Saw.

Pelajaran selanjutnya yang dapat dipahami adalah Nabi Muhammad menjadi imam dari nabi-nabi yang lain. Hal ini dibuktikan dengan dimintanya Nabi Muhammad menjadi imam saat melaksanakan salat bersama para Nabi yang lain.

Ini bukti nyata bahwa Nabi Muhammad Saw memiliki pangkat, kedudukan yang paling mulia dan agung di sisi Allah Swt. Dengan demikian Nabi Muhammad adalah nabinya para nabi.

Pelajaran terakhir yang sangat penting dari kisah isra’-mi’raj Nabi Muhammad Saw. adalah salat.
Tatkala Nabi Muhammad Mi’raj (naik) ke Sidratul Muntaha bertemu dan berkomunikasi lansung dengan Allah Swt, tanpa ditemani Malaikat Jibril. Di situlah Allah mewajibkan pada Nabi Muhammad dan umatnya untuk menunaikan kewajiban salat.

Nabi Muhammad Saw. melaksanakan Mi’raj dengan jasad dan ruh, begitu juga umatnya melaksanakan salat dengan jasad dan ruh. Umat Nabi Muhammad mi’raj dengan ruh ketika mereka bertemu dengan Allah secara ruh disaat melaksanakan salat lima waktu.

Hati dan ruh umat Nabi Muhammad ber-mi’raj (ingat) pada Allah Swt lima kali sehari-semalam. Menyaksikan akan keagungan, kekuasaan, keesaan Allah Swt. dengan mi’raj salat.

Salat merupakan amal ibadah yang paling agung, sehingga siapa saja yang mampu menjaga salatnya dengan baik, ia pasti mendapati keberuntungan dan keselamatan. Tapi sebaliknya, siapa saja yang menyia-nyiakan sholat, pasti ia rugi dan celaka. Jangan heran kalau sholat menjadi barometer kesuksesan, keberuntungan dan kebahagiaan dunia akhirat.

Hal ini ditegaskan langsung oleh baginda Nabi Muhammad Saw: “Pertama kali sesuatu yang dihisab bagi seorang hamba adalah sholatnya. Maka jika sholatnya baik, baik pula seluruh amal perbuatan lainnya. Dan jika sholatnya rusak, maka dipastikan rusak pula seluruh amal perbuatan lainnya” (HR: Imam at-Thobroni).

M. Rofi’i

Alumni PP. Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Aktif: Sekjen IMASS (Ikatan Mahasiswa dan Sarjana Santri Syaichona Moh. Cholil) dan Pengajar di STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com