Akidah

Hukum Mengusap Wajah setelah Berdoa Menurut Sunah

...

al-Ibar.net – Mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa sudah biasa diamalkan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi, karna mayoritas masyarakat Indonesia penganut mazhab as-Syafi’i.

Namun demikian, dalam beberapa tahun belakangan, ada sebagian kelompok umat Islam yang menentang amaliah ini. Menurut mereka, mengusap wajah setelah berdoa hanyalah tradisi. Bukan bagian dari ajaran Islam.

Bahkan ada sebagian mereka yang bilang, mengusap wajah setelah berdoa bukan ajaran Rasulullah SAW. Karenanya, menurut mereka hal ini disebut bidah. Menurut mereka, tidak ada satupun hadis yang menjelaskan Rasulullah SAW mengusap wajah setelah berdoa.

Oleh karenanya, penulis akan mengulas hukum mengusap wajah setelah berdoa menurut sunah atau hadis Rasulullah SAW. Maksudnya, adakah hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah mengusap wajah setelah berdoa?

 

Hadis Mengusap Wajah setelah Berdoa

Ternyata, jika kita kaji kitab-kitab hadis, tuduhan kelompok umat Islam itu tidak benar. Sebab, dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Rasulullah mengusap wajah setelah berdoa. Dengan demikian, tuduhan bid’ah pada orang yang mengusap wajah setelah berdoa itu tidak bisa dibenarkan.

Berikut ini hadis-hadis yang menjelaskan mengusap wajah setelah berdoa:

#1. Riwayat Imam at-Turmudzi

كان إذا رفع يديه فى الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه

“Ketika Rasulullah saw. mengangkat tangan untuk berdoa, beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajah beliau dengan kedua tangan beliau.” (HR. at-Turmudzi).

Selain at-Turmudzi, hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Hakim. Menurut Imam Turmudzi, hadis ini sahih gharib. Menurut sebagian ulama, hadis ini daif. Akan tetapi, menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Bulugh al-Maram, hadis ini memiliki penguat. Oleh karenanya, darajat hadis ini meningkat menjadi Hasan li Ghairihi.

Dengan demikian, hadis ini bisa dijadikan pijakan hukum. Al-Mubarakfuri juga mengatakan dalam Tuhfah al-Ahwadzi bahwa hadis di atas menunjukkan bahwa mengusap wajah setelah berdoa itu disyariatkan. Artinya, mengusap wajah setelah berdoa termasuk ajaran Islam.

Selain pemaparan di atas, menurut sebagian ulama mengusap wajah setelah berdoa itu ada hikmahnya. Misal, ketika seseorang berdoa maka Allah SWT tidak akan membuatnya kecewa. Allah SWT memberi rahmat di kedua tangan orang yang berdoa tersebut. Selesai berdoa, tangan itu diusapkan ke wajah agar wajah juga terkena rahmat. Sebab wajah adalah anggota tubuh paling mulia.

#2. Riwayat Imam Ahmad dan Abi Daud

كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ

“Ketika Rasulullah berdoa dan mengangkat tangan, maka Rasulullah mengusap wajahnya dengan kedua tangan beliau.” (HR. Ahmad)

Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnadnya ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam al-Sunannya. Hadis ini termasuk hadis yang tidak dikomentari oleh Imam Abu Daud. Artinya, hadis ini termasuk hadis shalih. Yakni, hadis yang bisa dijadikan hujjah dalam hukum.

Dari penjelasan di atas, sudah jelas bahwa hukum mengusap wajah setelah berdoa menurut sunah (hadis) bukan bidah. Sebab, Rasulullah SAW pun melakukannya. Selain itu, hadis di atas juga dapat dipertanggung jawabkan oleh ulama hadis terkemuka seperti Imam at-Turmudzi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Imam Abu Daud.

 

Mengusap Wajah setelah Berdoa Menurut Mazhab as-Syafii

Mengusap wajah setelah berdoa ternyata memiliki beberapa cabang pembahasan: mengusap wajah setelah berdoa di luar salat dan di dalam salat.

#1. Mengusap Wajah di Luar Salat

Dalam mazhab as-Syafi’i, ulama berbeda pendapat mengenai mengusap wajah setelah berdoa di luar salat. Ada yang mengatakan tidak sunah seperti Imam Ibnu Abdissalam. Ada juga yang mengatakan sunah seperti Imam as-Suyuthi, Syekh Abu Bakar al-Syatha dan Imam an-Nawawi. Mengenai hal ini, Imam as-Syarbini menulisnya dalam Mughni al-Muhtaj:

وَأَمَّا مَسْحُ الْوَجْهِ عَقِبَ الدُّعَاءِ خَارِجَ الصَّلَاةِ ، فَقَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ بَعْدَ نَهْيِهِ عَنْهُ لَا يَفْعَلُهُ إلَّا جَاهِلٌ ا هـ. وَقَدْ وَرَدَ فِي الْمَسْحِ بِهِمَا أَخْبَارٌ بَعْضُهَا غَرِيبٌ وَبَعْضُهَا ضَعِيفٌ ، وَمَعَ هَذَا جَزَمَ فِي التَّحْقِيقِ بِاسْتِحْبَابِهِ .

“Adapun mengusap wajah setelah berdoa di luar salat, Imam Ibnu Abdissalam melarangnya dan mengatakan bahwa orang yang melakukannya adalah orang bodoh. (Namun,) sungguh ada banyak hadis mengenai mengusap wajah setelah doa ini. Sebagian ada yang berstatus gharib, sebagian ada yang daif. Tetapi meski demikian, Imam an-Nawawi dalam kitab at-Tahqiq mengatakan, sunah mengusap wajah setelah berdoa di luar salat.”

Sayid Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur menulis dalam kitabnya Bughyah al-Musytarsyidin:

وكذا يسنّ مسح الوجه ، وقد روي عن ابن عمر أنه قال : ما مدّ رسول الله يديه في دعاء قط فقبضهما حتى يمسح بهما وجهه ، أخرجه الطبراني.

“Begitu juga disunahkan mengusap wajah (setelah berdoa di luar salat). Sebagaimaan riwayat dari Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah tidak pernah memanjangkan kedua tanganya dalam berdoa lalu mengembalikannya kecuali (setelah) mengusapkan kedua tangan beliau pada wajah beliau.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani.”

#2. Mengusap Wajah di dalam Salat

Adapun mengusap wajah setelah berdoa yang dilakukan di dalam salat, ulama fikih mazhab syafii juga berbeda pendapat. Namun demikian, menurut Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’, pendapat yang sahih adalah tidak sunah. Dalam kitab Bughyah al-Musytarsidin juga disebutkan:

لا يسنّ مسح الوجه في أدعية الصلاة أصلاً عندنا ، بل ولا رفع اليدين إلا في القنوت للاتباع

“Tidak disunahkan mengusap wajah setelah berdoa yang dilakukan di dalam salat, menurut kami. Bahkan tidak disunahkan mengangkat tangan kecuali di dalam qunut.”

Demikianlah beberapa pendapat mengenai mengusap wajah setelah berdoa, baik itu di luar salat ataupun di dalam salat. Terlepas dari semua perbedaan pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa menjalankan amaliah ini bukanlah bidah. Seberapa banyak perbedaan itu ada, tak ada satu pun ulama yang kompeten di bidang ini yang membidahkan. Wallahu A’lam.

Saifuddin Syadiri

Kader HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com