Akidah

Tauhid Uluhiyah, Rububiyah, dan Asma Wa Sifat Bukan Ajaran Salaf!

...

al-ibar.net – Di antara sekte Islam yang menyimpang adalah sekte Wahabi. Kelompok Islam yang pertama kali bercokol di Arab Saudi ini kini menamakan dirinya sebagai Salafi. Menurut mereka, nama Salafi cocok disematkan kepada mereka karena mereka pengikut ulama salaf. Ulama salaf sendiri adalah ulama yang hidup di tiga abad pertama. Masyhur sebagai golong shahabat, tabiin dan tabi’ at-tabiin.

Pengakuan di atas tentu saja tidak berdasar. Sebab ulama panutan utama Wahabi, Syekh Ibnu Taimiyah hidup di abad ke delapan hijriyah. Apalagi jika ikutkan kepada Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri sekte wahabi. Hal ini tambah jauh karena Ibnu Abdul Wahhab hidup pada abad ke-11 H.

Di samping hal itu, Wahabi mengaku sebagai Ahlussunnah wal al-Jamaah, padahal pandangan mereka memiliki banyak perbedaan dengan ulama Ahlussunnah wal al-Jamaah. Misal dalam akidah, Wahabi memiliki konsep sendiri dalam tauhid.

Wahabi membagi tauhid menjadi tiga, tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma was sifat. Hal ini berbeda dengan Ahlussunnah wal al-Jamaah yang memiliki konsep sifat 20. Konsep sifat 20 ini dicetuskan oleh al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Ulama yang hidup jauh sebelum Syekh Ibnu Taimiyah. Artinya, konsep akidah sifat 20 lebih dahulu tampil dan diterima banyak kalangan jika dibandingkan dengan konsep tauhid ala Wahabi itu.

Tauhid rububiyah sendiri adalah keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya pencipta, pengatur, dan penggerak jagad raya ini. Makna singkatnya adalah penyembahan itu hanya kepada Allah SWT.

Menurut Syekh Ibnu Taimiyah, semua orang bertauhid rububiyah, termasuk orang-orang kafir. Akan tetapi, tidak semua orang bertauhid uluhiyah, termasuk umat Islam sendiri. Contohnya, orang yang bertawasul kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan para wali. Mereka bertauhid rububiyah, tapi tidak bertahid uluhiyah. Menurut Syekh Ibnu Taimiyah, orang yang bertawasul itu termasuk menyekutukan Allah SWT.

Bisa dilihat bahwa tujuan Ibnu Taimiyah membuat konsep tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat adalah ingin mengkafirkan orang-orang yang bertawasul dan beristighasah. Celakanya, hal ini sudah disemarakkan oleh ustadz-ustadz Salafi Wahabi di Inodonesia.

Mereka menuduh orang yang berziarah ke makam para wali sebagai penyembah kuburan. Padahal jika boleh jujur, orang yang paling bodoh sekalipun tak pernah punya pemikiran bahwa mereka pergi berziarah ke makam wali untuk menyembah kuburan.

Di samping itu, Salafi Wahabi di Indonesia ini sangat lihai mengelabui orang awam. Mereka mengatakan bahwa mereka pengikut ulama salaf. Tauhid mereka juga berasal dari ulama salaf. Padahal, hal tersebut tidak benar. Tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat bukan bagian dari ulama salaf.

Sayyid Alawi bin Hamid, salah satu ulama Hadramaut Yaman menegaskan dalam kitabnya, Intabih Dinuka fi Khathar bahwa tauhid Wahabi bukan tauhid ulama salaf. Tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, sahabat, tabiin, dan ulama salaf. Tidak pernah!

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat adalah bidah dalalah (sesat menyesatkan) karena bertentangan dengan al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, jelaslah bahwa tauhid Wahabi Salafi bukanlah ajaran ulama salaf. Tauhid Wahabi ini adalah konsep yang dicetuskan oleh Syekh Ibnu Taimiyah yang lahir pada tahun 661 H. dan wafat pada tahun 728 H. Beliau orang alim, memiliki banyak karangan, dan ulama besar sehingga dijuluki Syaikhul Islam. Tak heran jika beliau mendapat pujian dari banyak ulama.

Akan tetapi, dalam masa hidupnya beliau terkenal sebagai orang yang kontroversial. Banyak pendapat-pendapat beliau yang menyalahi mayoritas ulama Ahlussunnah Wa al-Jamaah. Tak heran jika beliau juga mendapatkan kritikan pedas dari para ulama. Imam as-Subki mengatakan, Ibnu Taimiyah tidak bisa dijadikan pegangan dan tidak bisa diikuti. Sebagaimana yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al-Kubra, Imam as-Subki mengatakan:

وهذا الرجل كنت رددت عليه في حياته في إنكاره السفر لزيارة النبي وفي إنكاره وقوع الطلاق إذا حلف به ثم ظهر لي من حاله ما يقتضي أنه ليس ممن يعتمد عليه في نقل تفرد به لمسارعته إلى النقل بفهمه

“Saya sudah membantah terhadap keingkaran Ibnu Taimiyah dalam ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan talak dengan sumpah. Ibnu Taimiyah tidak dapat dijadikan pegangan saat berbeda dengan ulama yang lain karena kecerobohannya dalam berpendapat.”

Bahkan, Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan, Syekh Ibnu Taimiyah adalah orang yang dihinakan oleh Allah SWT. Beliau menulis dalam Fatawa al-Kubra,

ابن تيمية عبد خذله الله وأضله وأعماه وأصمه وأذله ، وبذلك صرح الأئمة الذين بينوا فساد أحواله وكذب أقواله

“Ibnu Taimiyah adalah seorang hamba yang direndahkan oleh Allah SWT, disesatkan, dibutakan dan ditulikan. Atas hal ini telah dijelaskan oleh para imam tentang kerusakan perilakunya dan kebohongan pendapatnya.”

Tidak hanya itu, salah satu murid Ibnu Taimiyah sendiri, Imam adz-Dzahabi pernah menulis surat untuk menasehati gurunya itu. Sebab, Ibnu Taimiyah sering mencela ulama-ulama terdahulu dan memiliki pemikiran yang ekstrem.

Alhasil, melalui banyak pembantahan ulama di atas, bisa disimpulkan bahwa konsep tauhid yang dicetuskan oleh Ibnu Taimiyah ini sangatlah berbahaya. Mereka yang ikut dan tunduk pada konsep ini bisa dipasikan akan sangat mudah mengakafirkan orang lain. Naudzu billah.

Shohibul Ilmi

Da’i muda yang kini tinggal di Bangkalan

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com