Akidah

Menjadi Abdi Tuhan Yang Sebenarnya

...

al-Ibar.net – Syekh Ibrahim al-Baijuri menegaskan bahwa Tauhid, sebagaimana disiplin ilmu memiliki perspektif, perspektif syara’ dan perspektif istilah di kalangan ahli Kalam. Saya akan fokuskan tulisan ini kepada perspektif yang pertama.

Tauhid syar’i merupakan ajakan untuk mengesakan Tuhan semesta alam yang telah diserukan oleh para rasul, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW. Dalam kitab Tuhfatul Murīd, Syekh Ibrahim al-Baijuri menjelaskan Tauhid syar’i sebagaimana berikut:

إفراد المعبود بالعبادة مع اعتقاد وحدته والتصديق بها ذاتا وصفات وأفعالا

“Mengesakan dzat yang disembah dengan ibadah sekaligus meyakini dan membenarkan ketunggalan dzat, sifat dan pekerjaan.” (Lihat: Syekh Ibrahim al-Baijuri, Tuhfatul Murid, al-Haramain: 8).

Syekh Ibrahim memfokuskan definisi ini kepada Tauhid, salah satu dari ajaran penting dalam Islam atau yang akrab dengan sebutan trilogi agama. Dalam hal ini Syekh Ibrahim sangat tepat sasaran. Belum ada ulama pada era sebelum beliau yang menyimpulkan semua aspek ajaran Tauhid dalam definisi di atas. Tidak heran, para ahli menyebut Syekh Ibrahim al-Baijuri sebagai pendekar Tauhid setelah Imam as-Sanusi. Ulama yang tampil setelah beliau merujuk dan kembali kepada pemikiran Tauhid yang telah disimpulkan al-Baijuri, terutama dalam kitab Tuhfatul Murid.

Hanya demikian, penulis sedikit menyayangkan terkait definisi di atas yang harus fokus kepada Tauhid semata. Hemat penulis, sebenarnya definisi di atas – jika diperhatikan dengan teliti dan seksama – memuat dan mencakup kepada empat ajaran penting dalam agama Islam, termasuk Tauhid. Keempat ajaran inilah yang ingin penulis ungkap yang terkandung dalam definisi di atas.

Pertama, Tauhid.  Ajaran ini oleh ulama disebut ruh ilmu. Dalam arti semua keilmuan dimotori oleh ajaran tersebut. Tidak heran ulama menegaskan bahwa ajaran Tauhid harus dipelajari pertama kali sebelum ajaran-ajaran yang lain. Tidak berlebihan karena hukum-hukum akal yang notabenenya masuk dalam pembahasan Tauhid, sebagaimana penegasan Imam al-Haramain, merupakan poros akal dalam diri orang mukalaf, sedangkan akal merupakan poros khitab Allah SWT (taklif).

Melihat keterangan di atas, orang mukalaf yang tidak berakal (tidak bertauhid) tidak patut dan tidak sah menerima khitab, atau tuntutan dari Allah SWT. Sisi Tauhid dalam definisi ini tergambar pada kalimat pembuka Imam al-Baijuri di atas, ifrad al-ma’bud yang diartukan sebagai pengesaan Allah SWT.

Lebih jelas prinsip Tauhid menyatakan bahwa hulu dan hilir semua jenis dan macam gerakan yang terjadi di alam semesta ini bermuara kepada satu dzat, yaitu Allah SWT, al-Ma’būd bi haqqin. Tidak ada daya dan kekuatan apa pun di hadapan daya dan kekuatan Dzat Sang Maha Perkasa.

Kedua, Islam. Sisi ajaran ini dalam definisi di atas terletak pada kalimat bi al-ibadati. Secara ringkas, Islam adalah ketundukan dan kepatuhan kepada semua ajaran yang ada (ibadah). Defenisi yang mewakili ini adalah:

الامتثال والانقياد لما جاء به النبي صلى الله عليه وسلم مما علم من الدين بالضرورة

“Mengikuti dan mematuhi apa yang dibawa Nabi SAW. yaitu apa pun yang diketahui dari agama secara pasti.” (Lihat: Ibrahim al-Baijūri, Tuhfatul Murīd, al-Haramain: 30).

Artinya, Islam adalah aktualisasi ajaran ke dalam semua elemen tubuh dalam bentuk amal sehari-hari. Dalam beberapa keterangan, Islam juga diistilahkan dengan syukur yang mempunyai arti. Singkatnya, Islam adalah ketakwaan lahir dan batin.

صرف العبد ما أنعم به عليه إلى ما خلق لأجله ، وهو الطاعة والتفكير للاعتبار

“Mengembalikan segala nikmat kepada objek diciptakannya nikmat itu, yaitu taat dan berpikir untuk mengambil ibrah.” (Lihat: Muhammad Saleh Musa Husain, Syarhul Farāid al-Bahiyah fī Nazhmil Qawāid al-Fiqhiyah, Muassasatur-Risālah Nāsyirūn: 17).

Ketiga, ajaran Makrifat. Sisi ajaran ini dalam definisi di atas terletak pada kalimat, ma’a i’tiqadi. Makrifat adalah kebalikan dari kata taqlīd, ikut atau membebek dalam hal akidah. Dalam urusan ushuliddin, ikut atau taqlīd ini sama sekali tidak dibenarkan.

Oleh demikian, ma’rifat sangat penting dipahami oleh kita, sebagai bentuk penghambaan yang benar dan tepat. Kenapa ma’rifat penting? Karena tidak mungkin seseorang menghamba kepada suatu dzat yang tidak ia ketahui. ma’rifat sendiri didefinisikan sebagaimana berikut:

الاعتقاد الجازم في عقائد الإيمان المطابق للواقع عدليل

“Keyakinan yang mantap dalam akidah yang sesuai dengan fakta kenyataan berdasarkan argumen.”

Syekh Ibrahim meletakkan ilmu dan ma’rifat sebagai dua kata sinonim (mutarādif) yang mempunyai arti yang sama:

الجزم المطابق للواقع عن دليل

“Kemantapan yang sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil.”

Menghamba kepada suatu dzat tentu didasari keyakinan dan kemantapan kepada dzat itu, bahwa dia betul-betul Tuhan. Hakikat dan semua hal mengenai dzat itu telah dia yakini dengan dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, tanpa keraguan sama sekali.

Keempat, ajaran Iman. Sisi ajaran ini dalam definisi di atas terletak pada kalimat al-tashdiq. Di kalangan ahli bahasa, iman diartikan dengan pembenaran yang mutlak (mutlaq al-tashdiq).

Pengertian ini tentu kurang pas karena akan memasukan orang yang hanya ikut-ikutan dalam berakidah, yang disebut dengan muqallid. Karenanya, ulama Tauhid menjelaskan bahwa Iman adalah,

تصديق النبي صلى الله عليه وسلم في كل ما جاء به و علم من الدين بالضرورة

“Membenarkan Nabi SAW dalam semua yang dibawa dan diketahui dengan pasti.”

Maksud “diketahui dengan pasti” adalah ajaran yang sama-sama diketahui oleh orang awam dan orang khusus, seperti salat, puasa dan sebagainya. Mengingkari ajaran seperti salat dan semacamnya, dalam arti tidak membenarkan akan mengantarkan pada kekufuran. Dalam kitab Syarhul Kharidatul Bahiyah, Syekh Ahmad ad-Dardir menjelaskan bahwa Iman adalah,

حديث النفس التابع للمعرفة

“Perkataan hati sesuai dengan makrifat.”

Berdasarkan definisi ini, kekuatan iman seorang hamba akan selurus dengan kekuatan ma’rifat yang dia miliki. Semakin seseorang ma’rifat kepada Allah SWT maka semakin kuat dan kental nilai keimanan dalam hatinya.

Dari ulasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa perjalan manusia menuju abdi Allah SWT yang sebenarnya harus melewati empat jalan yang saling berhubungan. Tauhid, Islam, Ma’rifat dan Iman harus dimiliki oleh seorang abdi sejati dan diaktualisasikan bersamaan.

Sebagai penutup, penulis kutip perkataan al-Hakim at-Tirmidzi dalam kitabnya, Bayānul Farqi bainas-Shadri wal Qolbi wal Fu’ādi wal-Lubbi,

التوحيد سر والمعرفة بر والإيمان محافظة السر ومشاهدة البر والإسلام الشكر على البر وتسليم القلب للسر

“Tauhid adalah rahasia, Ma’rifat adalah kebaikan, Iman adalah menjaga rahasia dan menyaksikan kebaikan, dan Islam adalah syukur atas kebaikan dan pasrahnya hati kepada rahasia.” Wallāhu A’lam.

Ahmad Dailami

Aktifis Muda di kota Bangkalan. Eks. Staf Pengajar MMU Tingkat Tsanawiyah Pondok Pesantren Sidogiri

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com