Akidah

Apakah Rasulullah SAW Pernah Memakai Celana Cingkrang?

...

al-Ibar.net – Sering kita dengar bahwa celana cingkrang adalah pakaian sunah. Bahkan ada meme membandingkan antara celana cingkrang dan sarung. Celana cingkrang dilabeli pakaian sunah, sedang sarung dilabeli pakaian bidah. Pertanyaannya kemudian, apakah Rasulullah SAW memang memakai celana cingkrang?

Sebenarnya, celana cingkrang termasuk pakaian pada umumnya. Tidak perlu diperdebatkan. Pakaian apa saja selagi menutupi aurat, tidak masalah. Hanya saja, ketika celana cingkrang dianggap pakaian sunah dan yang lain tidak, itu yang butuh kita kaji.

Kalau kita membaca-baca hadis, pakaian umat Islam di masa nabi yang paling umum adalah gamis. Nabi juga suka memakai pakaian gamis. Celana bukan pakaian umum bagi umat Islam kala itu. Bahkan ada riwayat sahih, celana adalah pakaian Ahlu Kitab (orang Yahudi dan Nasrani).

قلنا يا رسول الله إن أهل الكتاب يتسرولون ولا يأتزرون فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : تسرولوا وائتزروا وخالفوا أهل الكتاب

“Kami (para sahabat nabi) berakta, “Wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) memakai celana dan tidak memakai sarung.” Lalu Rasulullah SAW berkata, pakailah celana disertai sarung dan berbedalah dengan Ahli Kitab.” (HR. Ahmad)

Hadis sahih ini menunjukkan, di masa Rasulullah SAW celana adalah pakaian orang Yahudi dan Nasrani. Oleh karenanya, Rasulullah SAW memerintah jika para sahabat ingin memakai celana, harus disertai sarung. Hal itu bertujuan agar tidak menyamai Yahudi dan Nasrani.

Imam Syaukani dalam kitab Nayl al-Authar mengatakan, hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengizinkan para sahabat memakai celana. Tetapi, disertai sarung agar tidak sama dengan Ahlu Kitab.

Lalu, apakah Rasulullah SAW pernah memakai celana? Tidak ada hadis sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memakai celana cingkrang. Hadis yang ada hanya menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah membeli celana, sebagai berikut:

وعن مالك بن عمير قال : بعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم رجل سراويل قبل الهجرة فوزن لي فأرجح لي

“Dari Malik bin Umair, dia berkata, “Aku menjual kepada Rasulullah SAW kaki celana-celana (pakaian yang dibuat menutupi bagian bawah) sebelum hijrah. Lalu Rasulullah SAW menimbangnya untukku dan lebih mengunggulkan bagianku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis di atas yang juga berstatus sahih ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW membeli celana. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab al-Hadyu, Rasulullah SAW membeli celana untuk dipakai. Hanya saja kesimpulan beliau ini ditolak oleh ulama lain. Bahkan Syekh Abu Abdillah al-Hijazi mengatakan apa yang ditulis oleh Ibnu Qayyim ini sebagai sabaqul qalam (kesalahan tulisan tanpa sengaja).

Dalam hadis lain, ada penjelasan bahwa Rasulullah SAW memakai celana. Hanya saja, menurut as-Syaukani hadis ini sangat daif (lemah). Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah itu disebutkan,

قلت يا رسول الله وإنك لتلبس السراويل قال : أجل في السفر والحضر والليل والنهار فإني أمرت بالستر فلم أجد شيئا أستر منه

“Aku (Abu Hurairah) berkata, “Wahai Rasulullah SAW, apakah engkau memakai celana?” Rasulullah SAW berkata, “Iya, waktu perjalanan dan waktu tidak perjalanan. Waktu malam dan waktu siang. Sesungguhnya aku diperintah untuk menutupi (aurat) dan aku tidak menemukan pakaian yang lebih menutup selain celana.”

Hadis di atas diriwatkan oleh Imam at-Thabrani dalam kitab al-Ausath, Ibnu Hibban dalam ad-Duafa, ad-Dar Qutni dalam al-Afrad.

Sekali lagi, apakah Rasulullah SAW pernah memakai celana cingkrang?  Menurut Buya Dr. Arrazy Hasyim dalam salah satu videonya, ulama sepakat bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memakai celana. Hanya satu ulama saja yang berpendapat bahwa Rasulullah SAW memakai celana, yaitu Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Pendapat Ibnu Qayyim ini pun menurut Syekh Abu Abdillah al-Hijazi adalah kekeliruan.

Al-Imam as-Syaukani menjelaskan, dengan mengutip pendapat al-Imam al-Qasthalani bahwa ulama berbeda pendapat, apakah Rasulullah SAW memakai celana atau tidak. Sebagian ulama bersikukuh bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memakai celana.

Di antara dalil yang dibuat landasan adalah Sayidina Utsman bin Affan tidak pernah memakai celana sampai wafat. Baik di waktu Jahiliyah mupun sesudah masuk Islam. Padahal, beliau adalah orang yang paling gemar mengikuti Rasulullah SAW.

Lalu, as-Syaukani memberi kesimpulan, memang ada hadis sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW membeli celana. Hanya saja tidak ada hadis sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memakainya.

Jadi, apakah Rasulullah SAW memakai celana cingkrang? Dalam hadis sahih tidak ada penjelasan bahwa Rasulullah SAW memakai celana, apalagi celana cingkrang. Lalu bagaimana hukum memakai celana cingkrang itu sendiri? Insyaallah juga akan dibahas di website ini pada tulisan berikutnya.

Saifuddin Syadiri

Kader HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com