Akidah

Doa Buka Puasa “Allahumma Laka Shumtu” Bid’ah(?)

...

al-Ibar.net – Masyarakat Indonesia sangat antusias menyambut bulan Ramadan. Mereka berbondong-bondong berpuasa dan melakukan ibadah. Mereka juga berusaha membaca doa di setiap aktivitas mereka. Termasuk membaca doa berbuka puasa.

Doa buka puasa yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia adalah:

اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ

Ada juga doa buka puasa yang lebih pendek, yaitu:

اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ برحمتك يا أرحم الراحمين

Namun demikian, ada sebagian kalangan umat Islam yang menyangsikan doa buka puasa ini. Menurut mereka, doa buka puasa ini tidak ada dalilnya. Pun jika ada, hadisnya, daif. Tidak boleh diamalkan.

Menurut kelompok ini, doa berbuka puasa yang boleh diamalkan adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ

Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk memahami dalil doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” di atas. Agar kita tidak mudah menyalahkan, apalagi mem-bid’ah-kan. Menurut penulis, sangat keterlaluan jika doa buka puasa “Allahuma Laka Shumtu” itu dianggap salah atau bid’ah.

Malah penulis beranggapan, membaca doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” sebagaimana sudah lumrah di kalangan masyarakat Indonesia adalah sunah dan berpahala. Hal ini karena beberapa alasan:

1.  Berdoa boleh dengan bahasa apa saja

Sebagaimana yang kita tahu, berdoa kepada Allah Swt. boleh dengan bahasa apa saja. Boleh menggunakan bahasa Arab, bahasa Indonesia, Jawa, dan lainnya. Yang terpenting doa tersebut tidak berupa keburukan dan tidak bertentangan dengan akidah Islam.

Tentu, orang yang berdoa akan mendapatkan pahala. Karena berdoa termasuk beribadah dan menghamba kepada Allah. Dengan demikian, berdoa dengan doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” juga sunah dan berpahala. Karena isi doa buka puasa tersebut baik dan tidak bertentangan dengan Islam.

2. Ada riwayat yang bisa dipertanggungjawabkan dari beberapa ulama hadis

Kalau ditelusuri, ternyata doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” terdapat dalam banyak riwayat hadis. Ada yang mursal, ada yang marfu’. Adapun redaksi hadisnya sebagaimana berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ


“Dari Mu’adz bin Zuhrah bahwa sebuah hadis sampai kepadanya, “Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. ketika berbuka puasa, membaca, “Allahumma Laka Shumtu Wa Ala Rizkia Afthortu.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam al-Baihaqi, Imam Thabrani, dan Imam Ibnu Abi Syaibah.

Lantas apakah hadis ini sahih atau daif? Dalam riwayat Imam Abu Daud, hadis ini termasuk hadis yang tidak dikomentari oleh Imam Abu Daud. Dengan demikian, hadis ini termasuk hadis salih (layak dan bisa) untuk dijadikan hujjah. Sebab, Imam Abu Daud pernah menulis risalah untuk penduduk Makkah, bahwa setiap hadis beliau yang tidak dikomentari, berarti hadis tersebut salih (layak dijadijkan hujjah).

Namun demikian, dalam catatan kaki kitab Jami’ al-Ushul, sebuah kitab yang dikarang oleh Imam Ibnu Atsir, dengan tahqiq Abdul Qadir Arnauth yang disempurnakan oleh Basyir Uyun, dijelaskan hadis ini mursal (daif). Tapi, ada syahid yang menguatkannya.

Dengan berlandasakan dua konsep ini, hadis buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” bisa dijadikan hujjah dan bisa diamalkan.

3.  Doa buka puasa yang dianjurkan oleh ulama empat mazhab

Jika kita mengkaji lebih dalam, doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” adalah doa yang dianjurkan oleh para ulama dari empat mazhab. Dengan demikian, doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu …” adalah doa yang dianjurkan oleh mayoritas ulama Ahlussunnah. Bahkan bisa jadi disepakati oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah.

Salah satu ulama dari Mazhab Hanafi, yaitu Imam Fakhruddin Utsman bin Ali az-Zaila’i menulis dalam kitab Tabyin al-Haqaiq Syarah Kanzu al-Daqaiq:

وَمِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْت وَعَلَيْك تَوَكَّلْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .


“Termasuk sunah, ketika berbuka puasa membaca: “Allahumma Laka Shumtu Wa Bika Amantu Wa Alaika Tawakkaltu Wa Ala Rizqika Afthartu (Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).”

Salah satu ulama bermazhab Maliki, yaitu Syaikh Ahmad bin Ghunaim dalam kitab al-Fawakih al-Dawani Ala Risalah Ibni Abi Zaid al-Qirwani mengatakan:

وَيَقُولُ نَدْبًا عِنْدَ الْفِطْرِ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت ، أَوْ يَقُولُ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .


“Dan sunah ketika berbuka puasa berdoa, “Allahumma Laka Shumtu Wa Ala Rizqika Afthortu Faghfirli Ma Qaddamtu Wa Maakhartu (Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang)” atau berdoa dengan doa, “Allahumma Laka Shumtu Wa Ala Rizqika Afthortu, Dzahaba adh-Dhoma’u Wabtallat al-Uruqu Wa Tsabata al-Ajru, Insyaallah (Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah)”.

Berikutnya, salah satu ulama Ahli Hadis yang bermazhab Syafi’i, yaitu Imam Nawawi menulis dalam kitab al-Majmu’:

والمستحب أن يقول عند إفطاره اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت لما روى أبو هريرة قال “ كان رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا صام ثم أفطر قال اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .


“Dan yang disunnahkan ketika berbuka puasa untuk berdoa, “Allahumma laka shumtu wa ala rizqika afthortu”. Hal ini dikarenkan ketika Rasulullah berpuasa lalu berbuka, beliau berdoa dengan doa tersebut.”

Salah satu ulama dari mazhab Hanbali, yaitu Imam Ibnu Qudamah juga menulis dalam kitab Syarah al-Kabir,

وأن يقول عند فطره اللَّهُمَّ لَك صُمْت ، وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، سُبْحَانَك وَبِحَمْدِك ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي إنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 

“Dan sunah ketika berbuka puasa untuk berdoa, “Allahumma laka shumtu wa ala rizqika afthortu, subhanaka wa bihamdika, Allahumma taqabbal minni innaka antas samiul alim.

Dari penjelasan ini bisa kita pahami, bahwa doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” telah diamalkan dan dianjurkan oleh para ulama lintas mazhab. Meski ada pengurangan dan penambahan redaksi.

4.  Para ulama menggabungkan riwayat-riwayat doa berbuka pausa

Jika kita baca riwayat-riwayat hadis tentang doa berbuka puasa, maka kita akan menemukan redaksi-redaksi yang ada perbedaan. Dengan demikian, doa buka puasa yang sudah lumrah dibaca oleh masyarakat Indonesia merupakan doa buka puasa yang digabung dari riwayat-riwayat hadis.

5.  Hadis daif bukan berarti haram diamalkan

Menurut ulama Ahlussunnah Wal Jamaah, hadis daif boleh diamalkan dalam keutamaan-keutamaan. Oleh karenanya, andaipun hadis doa buka puasa “Allahumma laka shumtu” adalah daif, hadis tersebut masih bisa diamalkan. Karena bukan dalam masalah hukum atau akidah.

Alakullihal, doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” sebagaimana masyhur dibaca oleh masyarakat Indonesia boleh bahkan sunah kita amalkan. Karena doa buka puasa Allahumma laka shumtu berlandasan hadis yang layak dijadikan hujjah serta dianjurkan oleh ulama lintas mazhab empat. Siapa pun yang melarangnya, berarti meyalahi mayoritas ulama.

Saifuddin Syadiri

Kader HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com