Akidah

Dalil-Dalil Keselamatan Ayah-Ibunda Nabi Muhammad; Menjawab Tuduhan Miring Wahabi

...
Sumber foto: laduni.id

“Ada sebagian kelompok yang beranggapan bahwa kedua orang tua Rasulullah masuk neraka. Benarkah?”

al-ibar.net – Setiap umat manusia berhak mengaku cinta pada nabi Muhammad Saw dengan segala bentuk pengakuan. Tapi pecinta sejati tidaklah mungkin pernah menyakiti hati kekasih yang dicintainya, apalagi membencinya. Sebab ia sadar bahwa cinta dan benci tidak akan pernah menyatu, bagai malam dan siang yang tidak akan pernah kunjung bertemu dalam satu waktu dan keadaan. Para pecinta sejati tidak akan pernah melakukan hal-hal yang dapat menyakiti perasaan dan hati kekasihnya.

Begitu juga umat nabi Muhammad yang mengaku cinta padanya tidak akan pernah melakukan hal yang dapat menyakiti hati dan perasaan nabi Muhammad Saw. Jika ada yang mengaku cinta, tapi menyakiti yang dicintainya, dapat dipastikan cintanya adalah palsu. Termasuk hal yang menyakiti perasaan dan hati nabi Muhammad adalah berucap buruk pada kedua orang tua nabi Muhammad, mengatakan ayah-ibu nabi tidak selamat, dan masuk neraka. (Wal iyadzu billah min dzalik).

Perhatikan, bagaimana ancaman bagi orang-orang yang menyakiti hati nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini Allah Swt berfirman:

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ ۚ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.” (QS: Al-Taubah:61)

Sebagaimana juga dikatakan oleh Al-Qadi Iyadl, ‘’kita tidak akan pernah berbicara selain sesuatu yang diridhoi Allah dan Rasulullah, dan kita tidak akan pernah berani berbicara atas keluhuran kedudukan Nabi dengan sesuatu yang tidak diridhoinya dan apalagi sampai menyakitinya’’. (Ali Jumah, al-Mutasyaddidun:115).

Oleh karenanya, penulis akan menguraikan terkait dalil-dalil yang menjelaskan keselamatan orang tua nabi dengan diperkuat pendapat para ulama Ahlussunnah wal-jamaah.

Dalil Al-Qur’an dan Pandangan Ulama Aswaja

Seluruh ulama Ahlussunnah wal-jamaah berpendapat bahwa seorang yang terjerumus pada jurang kesyirikan di zaman fatrah (masa kekosongan sebelum terutusnya nabi) tidak akan mendapatkan ancaman siksa. Hal ini berdasarkan al-Quran surah al-Isra :

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS: al-Isra: 15).

Senada dengan ayat ini, Allah swt telah menjelaskan pada surah Saba’ ayat 44, Al-Qashash ayat 47, Al-Qashash ayat 59, Asy-Syu’ara ayat 208, dan surah An-Nisa ayat 165.

Ayat-ayat di atas memberikan indikasi (dilalah) bahwa Allah Swt dengan rahmat dan fadl-Nya tidak akan pernah menyiksa (adzab) siapa pun, hingga diutusnya seorang rasul pembawa peringatan. Dengan demikan, kedua orang tua Nabi tidak akan pernah disiksa. Bukan karena keduanya merupakan orang tua Nabi, tapi karena tergolong penduduk yang hidup di zaman fatrah, zaman sebelum terutusnya nabi Muhammad Saw dan zaman setelah terangkatnya Nabi Isa As ke langit.

Hal ini juga dipertegas oleh Imam al-Syatibi dalam kitab Al-Muwafaqât hal 377 :

“Ketentuan (sunnah) Allah Swt berlaku untuk makhluknya berupa Allah Swt tidak mungkin memberi siksaan, kecuali setelah terutusnya para Rasul, maka jika telah datang hujjah atas mereka, baginya boleh memilih mukmin dan boleh memilih kafir. Namun dalam setiap pilihannya, ada konsekwensi balasan yang sesuai dengan pilihannya.”

Bahkan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa 13/393 mengatakan:

ان الكتاب والسنة قد دلا على ان الله لايعذب احدا إلا بعد ابلاغ الرسالة

“Sesungguhnya Al-Qur’an dan hadits telah memberikan petunjuk bahwa Allah Swt tidak akan pernah mengadzab (menyiksa) siapa pun, kecuali setelah tersampainya dakwah kerasulan seorang Rasul.”

Dari kedua pendapat ulama ini sangat jelas, sangkaan yang dikatakan oleh kelompok wahabi telah terbantahkan dengan sendirinya. Maka aneh, jika kelompok ini dengan lantang menyuarakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada kedua orang tua nabi, yang tentunya sangat menyakiti hati dan perasaan umat Islam.

Hadis Shahih sebagai Hujjah atas Tuduhan Miring Wahabi

Kebiasaan kaum wahabi pada umumnya, pasti yang ditanya, “mana hadis sahih yang secara sharih (jelas) menyatakan keselamatan orang tua nabi?” Sebenarnya banyak sekali dalil hadis yang membahas keselamatan orang tua nabi Muhammad Saw. Hanya saja, mereka sengaja menyembunyikannya.

Mari kita cermati dan pahami hadis berikut yang dapat menjawab keraguan tentang kedua orang tua nabi terselamtakan dan tidak masuk neraka.

Pertama, hadis dari Watsilah bin al-Asqo’ bahwa Nabi bersabda:

إن الله اصطفى من ولد ابراهيم اسماعيل، واصطفى من ولد اسماعيل بني كنانة، واصطفى من بني كنانة قريشا، واصطفى من قريش بني هاشم، واصطفاني من بني هاشم.

“Sesungguhnya Allah Swt telah memilih dari putra Nabi Ibrahin yaitu Nabi Ismail, memilih dari putra Ismail Bani Kinanah, memilih dari Bani Kinanah Bangsa Quraisy, memilih dari Bangsa Quraisy Bani Hasyim, dan Allah telah memilihku dari Bani Hasyim”. (Hadits telah di takhrij oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 4/107, Imam Muslim dalam kitab Shohihnya 4/1782).

Kedua, hadis dari Imam Ahmad dan Imam Al-Tirmidzi,

ان الله خلق الخلق فجعلني من خيرهم، من خير قرنهم، ثم تخير القبائل فجعلني من خير قبيلة، ثم تخير البيوت فجعلني من خير بيوتهم، فأنا خيرهم نفسا وخيرهم بيتا

“Sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan makhluknya, kemudian menjadikan aku sebaik-baiknya ciptaannya (makhluk) dan generasi/masa. Kemudian Allah memilih tiap-tiap kabilah dan menjadikan aku sebaik-baiknya kabilah. Kemudian Allah memilih tempat tingga bagi kabilah dan menjadikan tempat tinggalku sebaik-baiknya tempat, dan aku sebaik-baiknya manusia (jiwa) dan tempat tinggalku adalah sebaik-baiknya tempat tinggal.” (Hadits ini di takhrij oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 4/165, Imam Al-Tirmidzi dalam kitab Sunannya 5/584).

Kedua hadis diatas, menegaskan kemuliaan dan kebaikan nasab orang tua nabi yang tidak pernah memiliki sifat kufur dan syirik. Kalau beliau sendiri menyatakan terlahir dari nasab yang baik, tidak pernah melakukan kesyirikan, kejelekan dan hal-hal yang dipandang bertentangan dengan syariah, lalu mengapa ada sekelompok aliran dengan lancangnya menyatakan keluarga nabi Muhammad berada di neraka.

Mereka sebenarnya gagal paham memahami hadis yang dijadikan argumentasi ketidakselamatan kedua orang tua nabi, mereka menganggap ayah-ibunda Nabi kekal di neraka. Mari kita pahami dengan benar hadis tersebut agar kita tidak mengikuti alur paham wahabi yang salah dalam menelaah dan memahami dalil agama Islam.

Pertama, hadis yang di takhrij Imam Muslim dalam kitab Shahih Bukhari 2/671:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إستأذنت ربي أن استغفر لأمي فلم يأذن لي ، وأستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي

“Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: aku meminta ijin pada Rabb-ku memintakan ampunan (berdoa) untuk ibuku, lalu Allah tidak mengijinkan. Dan aku meminta ijin untuk menziarahi kuburan ibuku, lalu Allah Swt memberikan ijin.”

Perhatikan hadis ini, bahwa tidak ada satu katapun yang menyatakan bahwa ibunda nabi ada di neraka. Maknanya adalah, Allah Swt tidak memberikan izin untuk mendoakannya bukan berarti dipahami ibunda nabi itu musyrik. Mengapa? Loginya sederhana, seandainya ibunda nabi diklaim musyrik, maka Allah tidak akan memberikan izin kepada nabi untuk menziarahi kuburannya. Kerana sudah jelas bahwa menziarahi kuburan orang musyrik dilarang dalam Islam. Tapi faktanya, Allah Swt memperkenankan pada nabi untuk menziarahi kuburannya.

Kedua, hadis yang ditakhrij oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim 1/191:

أن رجلا قال: يارسول الله أين أبي ؟ قال في النار فلما مضى دعاه فقال: إن أبي وأباك في النار

“Sesungguhnya seorang lelaki bertanya kepada Nabi, di manakah Ayahku?. Nabi menjawab: di neraka. Lalu setelah itu, Nabi memanggil lelaki tersebut, seraya berkata: sesungguhnya Ayahku dan ayahmu berada di neraka.”

Maksud dari kata “abii” (ayahku) bermakna ‘’paman’’, bukan ayah kandung. Paman nabi yang bernama Abu Thalib meninggal dunia setelah terutusnya nabi Muhammad Saw. Tradisi di kalangan bangsa Arab menyebut seorang paman dengan sebutan ayah (abii). Seperti yang terjadi pada nabi Ibrahim As yang menyebut pamannya dengan sebutan ‘’abii’’ (ayah).

Sebagimana dalam al-Quran surah Al-An’am 74. Nabi Ibrahim menyebut Azar – pembuat patung- dengan ayah. Padahal menurut Ibnu Katsir ayah Nabi Ibrahim adalah ‘’Tarah’’ atau ‘’Tarakh’’.

Alhasil, melalui berbagai dalil al-Qur’an, hadis serta pendapat ulama Ahlussunah Wal Jamaah, orang tua nabi terselamatkan dan bukan termasuk ahli neraka. Jika ada kelompok, ustadz, dengan lantangnya mengatakan orang tua nabi tidak selamat dan masuk neraka, dapat dipastikan hatinya belum ada rasa cinta yang mendalam pada baginda nabi Muhammad Saw. Semoga kita termasuk golongan yang cinta dan dicintai oleh nabi Muhammad Saw. Amiin. [.]

M. Rofi’i

Alumni PP. Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Aktif: Sekjen IMASS (Ikatan Mahasiswa dan Sarjana Santri Syaichona Moh. Cholil) dan Pengajar di STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com