Ekonomi Syariah

Saat Al-Quran Berbicara tentang Wirausaha

...

al-Ibar.net – Suatu pagi, Nabi Muhammad SAW duduk bersama para sahabatnya. Kemudian, mereka melihat pemuda gagah dan kuat berangkat bekerja. Para sahabat berkata, “Celakalah dia, andaikan masa muda dan kekuatannya ia gunakan dijalan Allah SWT, niscaya itu lebih baik”. Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa jika pemuda ini bekerja untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka dia sedang berjuang di jalan Allah SWT. Jika dia keluar untuk bekerja agar dirinya terhindar dari barang haram, maka dia juga sedang berada di jalan Allah SWT. Jika dia berangkat kerja karena riya’ dan membanggakan diri, maka dia berada di jalan setan.

Premis di atas adalah menjelaskan bahwa bekerja, membangun wirausaha adalah pekerjaan yang baik. Asal niat dan cara kerjanya baik. Tidak heran jika kemudian Rasulullah SAW pernah bersabda:

لأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِخُزْمَةِ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوْهُ

“Sungguh seseorang dari kalian yang mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya, sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya. Maka, itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada manusia, (yang kadang) mereka memberinya (dan kadang) tidak memberinya.” (HR. Al-Bukhari).

Selain itu juga sangat banyak ayat suci al-Quran yang menjelaskan tentang anjuran untuk bekerja, di antaranya:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).

Pada dasarnya, ayat di atas memang memiliki banyak pemahaman. Masyhurnya, para ahli tafsir seperti Ath-Thabari, al-Alusi, dan lain-lain menjelaskan bahwa ayat di atas hadir untuk mendeskripsikan orang-orang yang beramal saleh, maka mereka pantas mendapatkan pahala. Namun demikian, ayat di atas tetap bisa digunakan dalam masalah kewirausahaan, bahwa yang didapat oleh manusia itu apa yang mereka kerjakan, bukan apa yang mereka angankan.

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,” (QS. An-Naba’: 11).

Ayat inilah yang dengan jelas menyebut frase penghidupan, bekerja. Begitu banyak ahli tafsir seperti Fakhruddin al-Razi, al-Baghawi, Ibnu Jauzi dan lain sebagainya yang sepekat bahwa di samping menciptakan malam sebagai selimut (istirahat), Allah SWT menciptakan siang hari sebagai tempat mencari rejeki, dan keperluan dunia yang lain. Terkhusus, pekerjaan yang paling baik, sabda Nabi Muhammad SAW, adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri. Misal, usaha sendiri, membangun jaringannya sendiri, dan lain sebagainya.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Terlepas dari banyaknya penafsiran ulama terkait frase “maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah”, yang pasti Imam al-Baghawi menyebutkan dalam Ma’alim at-Tanzil-nya:

قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ ﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ﴾ أَيْ إِذَا فُرِغَ مِنَ الصَّلَاةِ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ لِلتِّجَارَةِ وَالتَّصَرُّفِ فِي حَوَائِجِكُمْ ﴿وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ﴾ يَعْنِي الرِّزْقَ وَهَذَا أَمْرُ إِبَاحَةٍ

Firman Allah SWT (bila telah ditunaikan shalat Jumat, maka bertebaranlah di bumi) itu maksudnya bila telah selesai shalat Jumat, maka bertebaranlah di muka bumi untuk berdagang dan mentasharrufkan (menjalankan) harta untuk kebutuhan kalian; (dan carilah dari anugerah Allah) maksudnya adalah rejeki. Demikian ini adalah perintah ibahah (memperbolehkan).

Selain itu, Allah SWT juga berfirman sebagai lanjutan dari QS. Al-Jumu’ah di atas sebagai berikut:

وَإِذَا رَأَوْا۟ تِجَٰرَةً أَوْ لَهْوًا ٱنفَضُّوٓا۟ إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا قُلْ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ ٱللَّهْوِ وَمِنَ ٱلتِّجَٰرَةِ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu (Muhammad SAW) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah SWT lebih baik daripada permainan dan perniagaan, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (QS. Al-Jumu’ah: 11).

Titik terpenting dari bagian ini adalah frase dari firmah Allah SWT yang berbunyi “Apa yang di sisi Allah SWT lebih baik daripada permainan dan perniagaan”. Imam al-Qurthubi menukil dari Shahih Muslim bahwa saat itu Rasulullah SAW sedang melaksanakan khutbah Jumat. Kemudian datanglah rombongan dagang dari tanah Syam. Banyak orang yang kemudian berpaling dari beliau, kecuali 12 shahabat. Maka, turunlah ayat ini.

Dari penjelaskan di atas, bisa dipahami bahwa bekerja, membangun kewirausahaan dan semacamnya termasuk sesuatu yang sangat penting bagi semua orang. Ia menjadi begitu urgen karena dengannya orang-orang akan terselamatkan dari meminta-minta. Rasullulah menekankan hal ini dengan sabdanya, bahwa “tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (penerima)” (HR. Muslim).

Selain itu, Nabi Muhammad juga pernah bersabda mengenai ancaman yang sangat serius, yang perlu diperhatikan oleh semua orang:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ القَيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Jika seseorang terus-menerus meminta-minta pada orang lain, maka dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan wajahnya tidak memiliki sekerat daging sama sekali.” (HR. Muttafaqun ‘alahi).

Namun demikian, melihat ayat terakhir dalam tulisan ini (QS. Al-Jumu’ah: 11) bisa dipahami bahwa sepenting dan se-urgen apapun bekerja dan mencari rejeki, jangan sampai melalaikan seseorang dari kewajibannya beribdah kepada Allah SWT, karena Dia-lah Dzat Pemberi Rejeki. Jika Sang Pemberi Rejeki kita jauhi (karena bekerja), maka rejeki mana yang kita cari!?

Ali Imron

Alumni PP Sidogiri. Aktif sebagai Ketua PC HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan Direktur K2ASF PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Rayon Adab dan Humaniora UINSA Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com