Fiqih

Musik dalam Persimpangan Jalan; antara Haram dan Boleh

...

al-Ibar.net – Perdebatan tentang nyanyian, mulai alat musiknya, suara, konten nyanyian, gerakan tubuh dan lain sebagainya, sebenarnya telah tuntas dikaji oleh para ulama sejak ratusan tahun silam, baik yang mengharamkan maupun yang memperbolehkan.

Karenanya, hadirnya Salafi Wahabi yang membawa berbagai isu, termasuk masalah musik ini telah mulai mengusik lagi perdebatan itu. Andaikan mereka menyampaikan kedua pendapat ulama di atas tentu saja tidak akan menjadi polemik. Namun sebagaimana lumrah diketahui, sudah menjadi tabiat mereka bahwa setiap masalah yang mereka yakini adalah yang paling benar dan pendapat yang lain sudah pasti salah.

Dari polemik itulah tulisan ini lahir, menjadi penengah dan penyeimbang antara yang mengharamkan dan yang memperbolehkan. Saya sendiri memberi pujian kepada para artis yang telah hijrah dan semoga tetap istikamah dalam menyebarkan kebaikan dan terus mempelajari Islam secara mendalam.

#1 Pendapat yang Mengharamkan Musik

Tidak dipungkiri bahwa ada ulama yang mengharamkan musik, baik dari kalangan Sahabat Nabi Muhammad SAW, ulama mazhab dan lain sebagainya. Di antara dalil ayat al-Quran yang dipakai untuk mengharamkan musik adalah QS. Luqman ayat 6:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”

Imam Ibnu Katsir banyak mengutip penafsiran Lahwa al-Hadis sebagai nyanyian dan alat musik. Namun demikian, Ibnu Katsir juga menampilkan penafsiran lain dari beberapa ulama ahli tafsir.

ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻀﺤﺎﻙ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻭﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﻟﻬﻮ اﻟﺤﺪﻳﺚ}  ﻳﻌﻨﻲ: اﻟﺸﺮﻙ

“Adl-Dhahhak ketika menafsirkan firman Allah: “… dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah SWT…” (QS. Luqman: 6). Ia berkata maksudnya adalah “Syirik”.”

ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺃﺳﻠﻢ؛ ﻭاﺧﺘﺎﺭ اﺑﻦ ﺟﺮﻳﺮ ﺃﻧﻪ ﻛﻞ ﻛﻼﻡ ﻳﺼﺪ ﻋﻦ ﺁﻳﺎﺕ اﻟﻠﻪ ﻭاﺗﺒﺎﻉ ﺳﺒﻴﻠﻪ

“(seperti pendapat di atas) Demikian halnya yang dikatakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Sementara Ibnu Jarir memilih pendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah setiap perkataan yang menghalangi dari ayat-ayat Allah SWT dan mengikuti jalan-Nya.” (Lihat: Ibnu Katsir, Tafsir Ibni Katsir VI/331).

Selain al-Quran, ada juga beberapa hadis yang digunakan untuk mengharamkan musik. Di antaranya adalah riwayat al-Bukhari yang menyebutkan kalimat ma’azif.

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

“Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari).

Melalui hadis di atas, Salafi Wahabi langsung saja memvonis keharaman musik. Padahal, jika kita mau dan legowo membuka literatur lain maka akan ditemukan bahwa ulama memiliki banyak penafsiran terkait makna ma’azif sendiri.

ﻭﻫﻲ ﺁﻻﺕ اﻟﻤﻼﻫﻲ ﻭﻧﻘﻞ اﻟﻘﺮﻃﺒﻲ ﻋﻦ اﻟﺠﻮﻫﺮﻱ ﺃﻥ اﻟﻤﻌﺎﺯﻑ اﻟﻐﻨﺎء ﻭاﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﺻﺤﺎﺣﻪ ﺃﻧﻬﺎ ﺁﻻﺕ اﻟﻠﻬﻮ ﻭﻗﻴﻞ ﺃﺻﻮاﺕ اﻟﻤﻼﻫﻲ ﻭﻓﻲ ﺣﻮاﺷﻲ اﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ اﻟﻤﻌﺎﺯﻑ اﻟﺪﻓﻮﻑ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻤﺎ ﻳﻀﺮﺏ ﺑﻪ

“Ma’azif adalah alat musik. Al-Qurthubi mengutip dari Al-Jauhari bahwa Ma’azif adalah nyanyian, sedangkan yang terdapat dalam kitab Shihahnya adalah alat musik. Ada yang mengatakan bahwa Ma’azif adalah suara nyanyian. Dalam Hasyiah Ad-Dimyati disebut bahwa Ma’azif adalah gendang dan alat musik yang ditabuh.” (Lihat: Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath Al-Bari X/55).

Bisa dilihat bahwa terdapat beberapa pengertian ma’azif, antara nyanyian dan alat musik yang digunakan Jika dimaknai sebagai alat musik, nyatanya di dalam hadis sahih lainnya Nabi Muhammad SAW memperbolehkan reban atau terbangan. Karenanya, makna ma’azif masih tetap dalam perdebatan.

Sekali lagi, keharaman musik dan nyanyian adalah masalah yang bersifat ijtihad dari penafsiran ayat al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Dan seperti biasanya, Salafi Wahabi menggunakan satu penafsiran yang dianggap sebagai tafsir tunggal yang paling benar. Padahal, masih banyak ijtihad ulama lainnya yang memperbolehkan.

#2 Pendapat yang Mengatakan Boleh dengan Syarat Tertentu

Sebelum masuk dalam pembahasan ini, perlu ditekankan bahwa pendapat yang mengharamkan musik bersumber dari ijtihad ulama, bukan langsung haram dari al-Quran maupun Hadis. Sebab, andaikan kedua dalil tersebut memvonis haram, sudah pasti tidak akan pernah ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Faktanya, masih ditemukan beberapa Sahabat Nabi Muhammad SAW dan ulama yang memperbolehkan. Imam Al-Ghazali berkata:

ﻭﻧﻘﻞ ﺃﺑﻮ ﻃﺎﻟﺐ اﻟﻤﻜﻲ ﺇﺑﺎﺣﺔ اﻟﺴﻤﺎﻉ ﻣﻦ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﺳﻤﻊ ﻣﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺟﻌﻔﺮ ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ اﻟﺰﺑﻴﺮ ﻭاﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ ﻭﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻭﻗﺎﻝ ﻗﺪ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﺴﻠﻒ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺻﺤﺎﺑﻲ ﻭﺗﺎﺑﻌﻲ ﺑﺈﺣﺴﺎﻥ

“Abu Thalib Al-Makki mengutip dari sekelompok ulama tentang kebolehan mendengar (syair atau nyanyian). Ada di antara Sahabat Nabi adalah Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Zubair, Mughirah, Muawiyah dan lainnya. Abu Thalib Al-Makki mengatakan bahwa banyak ulama Salafus Shaleh, Sahabat atau Tabiin yang melakukannya.”

ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻢ ﻳﺰﻝ اﻟﺤﺠﺎﺯﻳﻮﻥ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺑﻤﻜﺔ ﻳﺴﻤﻌﻮﻥ اﻟﺴﻤﺎﻉ ﻓﻲ ﺃﻓﻀﻞ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﻫﻰ اﻻﻳﺎﻡ اﻟﻤﻌﺪﻭﺩاﺕ اﻟﺘﻲ ﺃﻣﺮ اﻟﻠﻪ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﺬﻛﺮﻩ ﻛﺄﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻭﻟﻢ ﻳﺰﻝ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﻮاﻇﺒﻴﻦ ﻛﺄﻫﻞ ﻣﻜﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﺴﻤﺎﻉ ﺇﻟﻰ ﺯﻣﺎﻧﻨﺎ ﻫﺬا ﻓﺄﺩﺭﻛﻨﺎ ﺃﺑﺎ ﻣﺮﻭاﻥ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭﻟﻪ ﺟﻮاﺭ ﻳﺴﻤﻌﻦ اﻟﻨﺎﺱ اﻟﺘﻠﺤﻴﻦ ﻗﺪ ﺃﻋﺪﻫﻦ ﻟﻠﺼﻮﻓﻴﺔ ﻗﺎﻝ ﻭﻛﺎﻥ ﻟﻌﻄﺎء ﺟﺎﺭﻳﺘﺎﻥ ﻳﻠﺤﻨﺎﻥ ﻓﻜﺎﻥ ﺇﺧﻮاﻧﻪ ﻳﺴﺘﻤﻌﻮﻥ ﺇﻟﻴﻬﻤﺎ

“Abu Thalib Al-Makki mengatakan bahwa ulama Hijaz (Makkah dan Madinah, dahulu) selalu mendengarkan nyanyian pada hari utama dalam setahun, yaitu hari yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyebut nama-Nya seperti hari Tasyriq. Demikian pula dengan penduduk Madinah sampai zaman kami saat ini.” Hingga kami menemukan Qadli Marwan, ia memiliki beberapa budak wanita yang bernyanyi untuk manusia dan ia siapkan untuk para Sufi. Atha’ juga memiliki 2 budak wanita yang bernyanyi, maka saudara-saudaranya mendengarkan keduanya.”

Selain itu, Abu Thalib Al-Makki mengatakan bahwa ada yang bertanya kepada Abu Hasan bin Salim: “Bagaimana engkau ingkar (melarang) mendengarkan nyanyi, padahal Al-Junaid, Sari as-Saqathi, Dzun Nun al-Mishri memperbolehkan?” Ia menjawab: “Bagaimana aku melarang mendengarkan nyanyian padahal ada orang yang lebih baik dariku yang memperbolehkan dan mendengarkannya? Sungguh Abdullah bin Ja’far Ath-Thayyar mendengarkan nyanyian. Yang aku ingkari adalah permainan yang ada dalam nyanyian” (Lihat: Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, II/269)

Faktor Keharaman

Pertama, seperti yang disampaikan di atas yaitu faktor eksternal, permainan yang menyertai nyanyian. Artinya, jika nyanyian hanya sekedar nyanyian saja dan tidak ada permainan berupa kemungkaran seperti mabuk dan semacamnya, maka tidak apa-apa.

Kedua, tidak ada instrumen alat musik yang dilarang. Imam Al-Ghazali berkata:

ﻭﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ اﻟﻤﺰاﻣﻴﺮ ﻭاﻷﻭﺗﺎﺭ اﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺭ اﻷﺷﺮاﺭ

“Semua alat musik itu boleh kecuali seruling dan gitar, karena (keduanya) bagian dari syiar orang-orang yang buruk.” (Lihat: Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, II/276)

ﻭﺑﻬﺬﻩ اﻟﻌﻠﺔ ﻳﺤﺮﻡ ﺿﺮﺏ اﻟﻜﻮﺑﺔ ﻭﻫﻮ ﻃﺒﻞ ﻣﺴﺘﻄﻴﻞ ﺩﻗﻴﻖ اﻟﻮﺳﻂ ﻭاﺳﻊ اﻟﻄﺮﻓﻴﻦ ﻭﺿﺮﺑﻬﺎ ﻋﺎﺩﺓ اﻟﻤﺨﻨﺜﻴﻦ ﻭﻟﻮﻻ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﺘﺸﺒﻪ ﻟﻜﺎﻥ ﻣﺜﻞ ﻃﺒﻞ اﻟﺤﺠﻴﺞ ﻭاﻟﻐﺰﻭ

“Dengan alasan ini pula haram menabuh gendang atau drum, yaitu sejenis alat musik tabuh panjang yang memiliki lobang di tengah dan lebar kedua sisinya. Menabuh gendang ini adalah kebiasaan waria. Andaikan tidak ada kesamaan dengan kebiasaan waria maka boleh seperti gendang haji dan perang.” (Lihat: Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, II/272)

Berkenaan dengan alat musik yang diharamkan ini, ada yang melarangnya berdasarkan teks hadis dan ada yang melihat faktor alasannya, yaitu karena alat musik tiup (seruling) dan alat musik petik (gitar), dahulu sangat identik dengan alat musiknya para pemabuk, pezina dan sebagainya.

Sudah dimaklumi dalam hukum fikih jika faktor alasannya hilang maka hukumnya juga akan berubah. Hari ini, gitar dan seruling bukan hal yang identik dengan musik-musik orang buruk.

Kesimpulan

Untuk akhir dari tulisan, penulis akan mengutip kesimpulan yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin:

ﻓﻬﺬﻩ اﻟﻤﻘﺎﻳﻴﺲ ﻭاﻟﻨﺼﻮﺹ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺇﺑﺎﺣﺔ اﻟﻐﻨﺎء ﻭاﻟﺮﻗﺺ ﻭاﻟﻀﺮﺏ ﺑﺎﻟﺪﻑ ﻭاﻟﻠﻌﺐ ﺑﺎﻟﺪﺭﻕ ﻭاﻟﺤﺮاﺏ ﻭاﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺭﻗﺺ اﻟﺤﺒﺸﺔ ﻭاﻟﺰﻧﻮﺝ ﻓﻲ ﺃﻭﻗﺎﺕ اﻟﺴﺮﻭﺭ ﻛﻠﻬﺎ ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ اﻟﻌﻴﺪ ﻓﺈﻧﻪ ﻭﻗﺖ ﺳﺮﻭﺭ ﻭﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻳﻮﻡ اﻟﻌﺮﺱ ﻭاﻟﻮﻟﻴﻤﺔ ﻭاﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻭاﻟﺨﺘﺎﻥ ﻭﻳﻮﻡ اﻟﻘﺪﻭﻡ ﻣﻦ اﻟﺴﻔﺮ ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺃﺳﺒﺎﺏ اﻟﻔﺮﺡ ﻭﻫﻮ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺑﻪ اﻟﻔﺮﺡ ﺷﺮﻋﺎ ﻭﻳﺠﻮﺯ اﻟﻔﺮﺡ ﺑﺰﻳﺎﺭﺓ اﻹﺧﻮاﻥ ﻭﻟﻘﺎﺋﻬﻢ ﻭاﺟﺘﻤﺎﻋﻬﻢ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﻭاﺣﺪ ﻋﻠﻰ ﻃﻌﺎﻡ ﺃﻭ ﻛﻼﻡ

Berdasarkan dalil qiyas dan dalil nash ini, (keduanya) menunjukkan diperbolehkannya nyanyian, menggerakkan tubuh (asalkan tidak menimbulkan syahwat), menabuh terbang, mainan perang-perangan, melihat gerakan tubuh orang habasyah (kulit hitam) di waktu bahagia yaitu hari raya, pernikahan, walimah, aqiqah, khitan, kedatangan tamu dan bentuk kebahagiaan yang lain. Yaitu hal yang diperbolehkan dalam syariat maka boleh untuk bersenang-senang, mengunjungi saudara, bertemu dengan kawan, berkumpul dalam satu tempat untuk makan-makan atau berdiskusi.” (Lihat: Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin II/279).

 

*Diambil dari akun FB KH. Ma’ruf Khozin

KH. Ma’ruf Khozin

Direktur Aswaja PWNU Jawa Timur, Penulis, dan Aktivis Dakwah

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com