Fiqih

Pantas dan Bolehkah Ustaz Mendapatkan Upah dari Mengajar Agama?

...

al-Ibar.net – Tidak bisa dipungkiri bahwa mengajar adalah suatu hal yang bisa disebut sebagai pekerjaan, setidaknya di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari penyantuman istilah “guru” di kolom pekerjaan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP). Dari sini, terbaca dengan jelas bahwa mendapatkan upah dari mengajar adalah hal wajar.

Kata “mengajar” tentu masih sangat umum. Obyeknya apa saja, bisa berupa ilmu matematika, bahasa asing, musik, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana jika hal itu berkaitan dengan agama? Apakah mengajar agama dan mendapatkan upah darinya termasuk memanfaatkan atau memperjualbelikan ayat-ayat Tuhan? Masalah ini telah penulis bahas pada tulisan sebelumnya (Lihat: https://al-ibar.net/tafsir/266/larangan-memperjualbelikan-ayat-ayat-tuhan )

Nah, membahas hal ini tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang saja. Dibutuhkan telaah yang lebih luas agar hukum yang dihasilkan benar-benar adil dan tidak tidak berat sebelah. Berikut ini adalah beberapa bagian yang perlu dipahami:

Ustaz Juga Manusia

Mereka yang mengajarkan agama Islam, entah di lembaga formal atau non formal, di kelas atau pada kajian umum seperti masjid, musala, majelis taklim dan semacamnya, biasanya disebut guru, ustaz, kiai, buya, ajengan, atau lain.

Hal yang harus disadari adalah mereka juga manusia. Butuh makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lainnya. Baik untuk dirinya sendiri atau orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya (anak, istri, orangtua, dll).

Jika mereka sibuk dengan mengajar agama sedangkan tidak ada jaminan kesejahteraan bagi mereka, maka bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Cukup banyak kasus yang bisa kita lihat di media (atau bahkan di sekitar kita sendiri) bagaimana seorang guru ngaji hidup dengan kondisi ekonomi yang memperihatinkan.

Jika pun ada anggapan bahwa ustaz harusnya ikhlas karena yang diajarkan adalah ilmu agama, maka hal itu betul secara agama. Namun, yang harus diingat adalah ustaz juga mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga untuk mengajar. Tiga hal ini hendaknya juga diperhatikan dan dihargai. Bukankah ustaz adalah manusia yang sama-sama memiliki keterbatasan dalam tiga hal tersebut?

Dua Pendapat Mazhab

Allah Swt. berfirman:

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

“Dan berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur’an) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat) yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah, dan bertakwalah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 41)

Ketika menafsirkan ayat ini, Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa hukum mendapat upah dari mengajar Al-Qur’an terbagi dua: tidak boleh dan boleh (Lihat: Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir (Damaskus: Dar al-Fikr al-Ma’ashir, 1418 H.), hal. 151-152).

 

Pendapat pertama adalah pendapat az-Zuhri dan Ashhab al-Ra’yi (mazhab Hanafi). Ini disebabkan oleh kewajiban bagi seorang ‘alim untuk mengajarkan Al-Qur’an, yang mana harus dilandasi dengan niat ibadah dan penuh keikhlasan. Penganut pendapat ini mengiaskannya dengan salat dan puasa.

Sedangkan pendapat yang kedua (boleh mengambil upah dari mengajar Al-Qur’an) adalah pendapat mayoritas ulama selain mazhab Hanafi. Penganut pendapat ini tidak sepakat dengan pandangan pertama tentang kias mengajar dengan shalat dan puasa.

Ketidaksepakatan ini dilandasi pandangan bahwa salat dan puasa adalah ibadah untuk diri sendiri, tidak ada hubungannya dengan orang lain. Berbeda dengan mengajar Al-Qur’an. Ia berhubungan dengan pihak lain.

Mungkin akan muncul pertanyaan, “Bukankah obyek yang dibahas di atas adalah mengajar Al-Qur’an? Lantas bagaimana dengan mengajar ilmu-ilmu agama selain Al-Qur’an?” Hal ini bisa dijawab dengan kias atau analogi seperti di atas.

Jika mengajarkan Al-Qur’an (suatu yang sangat mulia) saja boleh mengambil upah, bukankah yang lain juga boleh? Apa perbedaan mendasar antara Al-Qur’an dengan ilmu lain dilihat dari sudut pandang obyek yang diajarkan?

Budaya Ewuh Pekewuh

Sebagian budaya kita juga mendukung dalam hal ini. Budaya ewuh pekewuh selalu menjadi landasannya, yakni perasaan segan-segan atau tidak enak jika memberatkan orang lain. Sebenarnya, budaya ini sangat baik asal berada pada tempat yang semestinya.

Misal, sebagian ustaz merasa tidak enak jika “mewajibkan” orang yang diajarnya untuk membayar sekian rupiah atas ilmu yang diajarkan. Oleh karenanya, si ustaz memilih diam saja jika ditanya masalah honor mengajar dan berkata, “Seikhlasnya saja”.

Di lain pihak, mereka yang diajar atau orangtua murid justru menganggap sikap atau perkataan si ustaz sebagai angin segar. Sebagian mereka kadang memberi upah yang tidak sepadan atas pekerjaan yang dilakukan si ustaz. Si ustaz pun diam saja, meskipun merasa kurang. Lagi-lagi karena budaya ewuh pekewuh

Kesadaran Bersama

Dibutuhkan kesadaran bersama antar semua pihak. Pengajar agama (guru, penceramah, dan lain-lain) hendaknya selalu ikhlas, karena memang itu adalah anjuran agama. Jikapun ‘terpaksa’ mematok tarif, hendaknya dengan tarif wajar dan disesuaikan dengan kondisi setempat.

Namun, untuk pihak yang diajar atau bahkan yang mengundang ustaz tersebut (misalnya mengundang ceramah, les privat baca tulis Al-Qur’an, memimpin doa dan lain-lain) hendaknya juga sadar, bahwa yang mereka undang itu adalah manusia. Memiliki keluarga yang harus dihidupi.

Bukankah untuk mengundang para penghibur semisal penyanyi, pelawak, atau badut, kita rela mengeluarkan biaya? Nah, bagaimana jika yang diundang adalah para pengajar agama?

Walhasil

, mayoritas ulama memperbolehkan menerima upah dari mengajarkan agama. Terlepas dari hal itu, yang harus diperhatikan adalah kesadaran semua pihak. Para ustaz sadar bahwa mengajar adalah suatu kewajiban dan karenanya dituntut untuk ikhlas. Sedangkan pihak yang diajar juga sadar bahwa ustaz juga manusia. 

Wallahu a’lam

M Nurul Huda

Seorang guru ngaji lulusan, Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, PesantrenBayt al-Qur’an Pondok Cabe, S1 PTIQ (prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lulus 2019), Pascasarjana S2 IIQ (jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2020-sekarang).

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com