Humor

5 Kisah Humor Kiai Hasyim Muzadi yang akan Membuatmu Terpingkal-pingkal

...

al-ibar.net - Kiai Hasyim Muzadi adalah salah satu kiai yang berkepribadian santun dan lemah lembut. Beliau juga sangat bijak dalam menyikapi perbedaan. Tak heran jika Ketua PBNU tahun 1999-2010 itu bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. 

Selain itu, beliau juga termasuk seorang yang humoris. Hal ini bisa kita lihat saat beliau berpidato. Di sela-sela penyamapaian pidatonya, pasti terdapat hal-hal yang membuat hadirin tertawa. Nah, berikut ini kisah-kisah humor yang pernah dikisahkan oleh Kiai Hasyim Muzadi:

Kalau tidak ada papan namanya, berarti sekolah NU

Suatu ketika, Kiai Hasyim Muzadi jalan-jalan menemani orang asing ke daerah-daerah. Orang asing itu ingin tahu sekolah-sekolah Islam di Indonesia. Setelah berputar-putar mengelilingi banyak tempat, ada hal yang mengganjal dalam benak orang asing itu.

Orang asing itu pun bertanya, “Katanya NU organisasi Islam terbesar di Indonesia dan memiliki ribuan sekolah, tapi kenapa dari tadi saya melihat papan nama sekolah Muhammadiyah terus? Mana sekolahnya NU?”

“Pokoknya yang tidak ada tulisan Muhammadiahnya, itu semua sekolah NU,” kata Kiai Hasyim Muzadi sambil tertawa.

Pembeli buah yang tidak jadi marah

Dalam suatu kesempatan, Kiai Hasyim Muzadi bercerita tentang pembeli dan penjual buah. Dikisahkan ada seseorang mendatangi pasar buah. Dia ingin membeli buah jeruk.

“Pak, ini jeruknya manis apa tidak?” Tanyanya. “Kalau memang manis, saya mau beli satu kilo.”

“Jeruk di sini dijamin manis Pak. Silahkan dicoba. Itu contohnya sudah dibuka,” jawab si penjual.

Orang yang ingin membeli itu pun mencicipi jeruknya. Ternyata memang manis. Lau, dia membeli jeruknya sebanyak satu kilo.

Namun, satu jam kemudian, pembeli tadi datang lagi ke pasar buah. Dia ingin protes pada penjual jeruk.

“Bapak ini gimana, sih? Katanya jeruknya dijamin manis. Kok, setelah sampai rumah, jeruknya malah mentah semua. Saya minta balikin uang saya!” Kata pembeli itu.

Penjual jeruk tidak kalah akal. Dia tidak mau jeruk yang sudah dibeli malah dikembalikan lagi. Penjual jeruk balik berkata,

“Aduh, Bapak gimana, sih. Gara-gara jeruk mentah satu kilo saja marah-marah. Ini bapak lihat, tiga keranjang besar jeruk milik saya malah mentah semua, tapi saya tidak marah.” 

Dikira tidak ada polisi

Kiai Hasyim Muzadi juga pernah menceritakan kisah pengendara motor yang menerobos lampu merah. Kata beliau, ada pengendara motor di Jalan Gunung Sahari Jakarta yang ngebut dan menerobos lampu merah.

Betapa kagetnya setelah dia dicegat polisi dan diminta minggir. Lalu polisi itu bertanya, “Selamat siang, Pak. Bapak pasti sudah tahu tadi lampu merah sudah menyala. Kenapa Bapak masih menerobos?”

“Iya, Pak. Maaf. Saya memang tahu lampu merahnya sudah menyala. Tapi saya tidak tahu kalau di sini ternyata ada polisi,” jawab pengendara motor seakan tidak punya dosa.

Tukang becak yang ditilang

Kiai Hasyim Muzadi juga pernah bercerita tentang tukang becak yang berdebat dengan polisi. Penyebabnya, tukang becak itu tidak mau ditilang, padahal dia memang salah. Tukang becak itu masuk ke jalan yang tidak boleh dilewati becak.

“Bapak tahu salahnya apa?” Kata polisi.

“Ya tidak tahu Pak. Saya kan tidak salah apa-apa,” jawab tukang becak.

“Itu kan ada rambu larangan masuk untuk becak. Coba lihat. Itu ada gambar becak yang dicoret warna merah. Itu kan sudah jelas, becak tidak boleh lewat.”

“Oh, kalau gambar itu saya sudah tahu Pak. Tapi kan beda masalahnya.”

“Maksudnya?” Polisinya kepo.

“Di rambu itu gambar becaknya kosong. Kalau becak saya kan tidak kosong, sedang ada penumpangnya. Makanya saya berani lewat sini,” jawab tukang becak.

Dengan geregetan, polisi meminta tukang becak untuk menurunkan penumpangnya sebentar. Tukang becak pun menuruti.

“Nah, sekarang becaknya saya tahan di sini, saya tilang. Becaknya kan sudah kosong. Silahkan Bapak berjalan saja mengantarkan penumpangnya,” kata polisi.

“Waduh, saya kalah!” Kata tukang becak. 

Semangka yang pucat karena kaget

Di lain waktu, Kiai Hasyim Muzadi juga bercerita seseorang yang ingin membeli buah semangka. Sesampainya di pasar, dia mencari semangka yang merah dan manis. 

Orang itu kemudian mendapati tumpukan semangka yang dijual. Dilihatnya contohnya merah dan manis saat dicicipi. Sebelum membeli, dia ingin memastikan apakah semangka di situ merah dan manis semua atau tidak.

“Semua semangka saya ini merah dan manis, Pak. Saya jamin!” Kata si penjual.

Akhirnya orang itu membeli satu semangka yang masih utuh, belum ada luka sama sekali.

“Pokoknya nanti kalau tidak merah atau tidak manis, saya kembalikan, pak!” Pembeli menegaskan.

“Iya tidak apa-apa. Boleh ditukar atau uangnya diminta lagi.”

Sang pembeli pulang sembari membawa semangkanya. Semangka itu diikat dengan tali dan digantung di sisi sepeda motor. Celakanya, semangka itu jatuh ketika melintasi jalan yang tidak rata. Semangka itu pecah karena membentur aspal.

Pembeli itu melihat bagian dalam semangka dari celah yang pecah. Ternyata masih kuning mentah. Pembeli itu pun putar balik ingin mengembalikan semangkanya karena ternyata mentah.

“Katanya semangkanya merah semua? Ini yang saya beli kok masih kuning mentah?” Protes pembeli itu.

“Tidak mungkin Pak. Semangka yang saya jual di sini sudah mateng semua dan merah semua. Itu gimana ceritanya kok bisa retak-retak gitu semangkanya?” Kata penjual.

“Tadi semangkanya jatuh di jalan dan retak. Ketika saya lihat di dalamnya, ternyata masih kuning dan mentah.”

“Oh, wajar kalau begitu ceritanya,” sahut penjual.

“Wajar bagaimana pak?” kata pembeli.

“Saya yakin, sebenarnya tadi semangkanya itu merah dan masak. Tidak kuning seperti itu. Tapi karena mendadak jatuh, ya kaget. Akhirnya mendadak jadi pucat, warnanya jadi kuning,” kata penjual tak mau kalah.

*Disarikan dari buku Keping Cerita Kiai Hasyim Muzadi 

Saifuddin Syadiri

Kader HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com