Inspirasi

Ust. Multazam Muslih; Santri Harus Aktualisasi Diri

...

al-Ibar.net – Adalah Ust. Multazam Muslih, seorang santri yang kini aktif dalam dunia dakwah. Sebagian besar waktunya dia habiskan untuk menyebarkan ilmu yang telah didapatkannya di pondok pesantren. Dia berprinsip, santri harus berani dan memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan umat. Utamanya dalam paham Islam Ahlussunah Wal Jamaah.

Satu hal yang menurut dia penting untuk dilakukan oleh santri, yaitu aktualisasi diri. Seorang santri mungkin memiliki ilmu agama yang mendalam. Akan tetapi, ilmu-ilmu pesantren itu akan lebih afdal ketika diramu dengan keahlian lain, misalnya metode penyampaiannya, dan seterusnya.

“Kita sebagai santri, tentu sangat penting untuk aktualisasi diri. Sehingga kita bisa berselancar di sepanjang zaman yang terus berkembang,” kata Ust. Multazam saat memberikan sambutan di acara pelatihan Da’i Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Surabaya.

Mondok Bukan Pindah Tidur

Ust Tazam, sapaan akrabnya, memulai pendidikannya di tanah kelahirannya, Kwanyar, Bangkalan. Dalam agama, dia belajar di langgar. Setelah lulus SMP, dia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Sidogiri.

Dia menimba ilmu di pondok pesantren tua itu selama sekitar 6 tahun, sampai lulus MTS dan menjalankan tugas mengajar selama satu tahun. Setalah itu, ia melanjutkan ke perguruan tinggi UIN Sunan Ampel (kala itu masih IAIN Sunan Ampel) Surabaya.

Selama mondok, Ust. Multazam menggunakan waktu sebaik-baiknya. Dalam mempelajari kitab, Ust Multazam terbiasa belajar sampai larut malam. Hal itu karena pesan ayahnya agar belajar dengan sungguh-sungguh dan jangan banyak tidur.

“Berada di pesantren itu bukan pindah tempat tidur!” Pesan ayahnya sebelum berangkat ke pesantren.

Karenanya, tak heran jika kemudian dia dipercaya untuk menjadi penerjemah guru tugas dari Universitas Al-Azhar Mesir saat pondok pesantren Sidogiri mengambil pengajar dari Al-Azhar guna melatih bahasa Arab santri. Pengurus mengamanahkan pada Ust. Multazam menjadi khadim pengajar Al-Azhar itu selama satu tahun. Sebab, pronunciation bahasa Arab dia bagus.

“Siapapun yang bersungguh-sungguh, pasti berhasil. Baik anak petani, anak nelayan, apa lagi anak kiai,” ungkap bapak dua anak itu mengenang masa perjuangannya di pesantren.

Mahasiswa Terbaik Jurusan

Setelah boyong dari pesantren, Ust. Multazam melanjutkan pendidikan ke IAIN Sunan Ampel. Dia mengambil jurusan sastra Arab, sesuai keahliannya saat berada di pesantren.

Saat menjalani perkuliahan, Ust. Multazam sedikit kecewa. Sebab, pelajaran yang dipelajari ternyata sudah dipelajari semuanya saat di pesantren. Seakan-akan tidak ada tambahan ilmu. Namun, bukan berarti dia bermalas-malasan, malah menjadikan hal itu sebagai peluang. Sehingga di hari kelulusan, dia menjadi mahasiswa terbaik di jurusan. Baginya, kuliah adalah belajar dan berjuang. Kuliah adalah media untuk aktualisasi diri.

Pernah suatu ketika, salah satu dosen dia mempersilahkannya untuk tidak kuliah dan tetap akan mendapatkan nilai A+. Menurut dosen itu, dia sudah sangat menguasai mata kuliah. Namun, hal itu ditolak. Dia beprinsip, kuliah bukan mencari nilai, tapi mencari pengalaman. Mungkin mata pelajaran sudah dikuasai, tapi pasti ada hal baru didapatkan saat mendengarkan penjelasan dosen.

Di sambing itu, terkadang juga ada teman yang bertanya tentang ilmu agama kepadanya, sehingga kuliah baginya bukan hanya untuk belajar, tapi juga menyebarkan ilmu yang diperoleh di pesantren.

Sisi perjuangan lainnya adalah masalah ekonomi. Agar bisa melanjutkan kuliah dan bertahan di Surabaya, Ust. Multazam tentu saja harus mencari rezeki tambahan. Sebab, biaya dari orang tua tidak cukup untuk semua kebutuhan. Maklum, orang tuanya bukan orang berada. Ditambah masih ada adik-adik yang lebih butuh biaya pendidikan.

“Orang tua mensuport dan membantu sesuai kemampuan. Kadang bibik dan paman juga membantu. Tapi, ya tentu kita juga perlu belajar mandiri,” katanya.

Maka, dia coba membuka jasa translate bahasa Arab ke bahasa Indonesia, atau pun sebaliknya. Alhamdulillah, ternyata banyak orang yang minat. Dari sanalah segala biaya kuliah dapat teratasi. Dia yakin, jika kita memiliki keinginan, Allah SWT akan memberikan jalan.

Berani Melamar

Setelah lulus S-1, dia memantapkan diri untuk menikah, padahal kala itu dia belum memiliki pekerjaan tetap. Namun demikian, dia yakin bahwa Allah SWT akan menolong hamba-Nya yang memiliki keinginan untuk berkeluarga.

“Saya yakin, jika kita memiliki niat baik untuk berkeluarga, Allah SWT pasti menolong kita,” ujar dosen UINSA tersebut.

Semua keadaan hidup yang masih belum ajeg itu dia komunikasikan kepada calon istri. Dia katakan semuanya apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Menurutnya, dalam membangun keluarga memang harus transfaran agar lahir saling percaya dan saling memahami. Calon istri pun menerima dia apa adanya.

Saat melamar pada calon mertua, sempat ditanya apa sudah bekerja atau belum. Dia ceritakan dengan sejujurnya. Saat itu dia meyakinkan calon mertuanya bahwa dia bisa bertanggung jawab. Calon istri tidak mungkin kelaparan.

“Saya bilang ke mertua, tidak bekerja saja bisa makan kok, apa lagi jika kita berusaha. Allah itu ar-Razzaq, Dzat yang Maha Memberi rezeki. Saya tidak ragu.” Cetusnya lagi sambil tersenyum.

“Alhamdulillah, di bulan pertama saya mendapatkan uang 300 ribu, di bulan kedua 600 ribu, di bulan ketiga 900 ribu, dan terus meningkat. Puncaknya setelah istri hamil, rezeki seakan ditumpahkan oleh Allah SWT,” lanjut ustadz yang pernah aktif di Aswaja Center PWNU Jatim itu.

Khidmah pada Guru Tidak Bisa Ditawar

Di tengah kesibukannya menyebarkan ilmu, dia menyempatkan diri berkhidmah pada pondok pesantren. Dia bersedia menjadi ketua FDASS (Forum Dai Alumni Santri Sidogiri) Surabaya. Dia niatkan semuanya sebagai sebagai khidamah pada pesantren yang telah mengajarinya kehidupan.

“Bagi saya, ketika diminta untuk mengurusi lembaga milik pondok, itu seperti perintah guru. Sebagai santri, tidak mungkin saya menolak perintah guru,” kisahnya.

Sebelumnya, dia juga pernah mengajar di DAS (Darul Aitam Sidogiri) Surabaya. Hal ini juga diniati untuk khidmah pada pondok Sidogiri, berkhidmah kepada guru. Oleh karena niat khidmahnya itu, dia tidak memikirkan bisyarah. Sekecil apapun bisyrahnya, dia tetap istikamah mengajar di lembaga milik Sidogiri itu.

“Justru saat itulah saya mendapatkan rezeki dari pintu-pintu yang lain. Sehingga saya bisa membangun rumah. Ya, berkahnya khidmah pada guru,” kenang laki-laki yang kini juga menjadi Ketua Bidang Keuangan PPTQ Safinda itu.

Saifuddin Syadiri

Kader HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com