Inspirasi

Ulama-Ulama yang Memilih Menjomlo Demi Ilmu

...

al-Ibar.net-Menikah adalah suatu usaha untuk mengikatkan cinta antara pria dengan wanita agar menjadi pasangan serta keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Siapa pun pasti ingin menjalani pernikahan bagi manusia yang masih membujang atau bahasa gaulnya adalah “jomlo”. Menjomlo mungkin bukanlah impian setiap manusia, karena kita sebagai manusia membutuhkan ketentraman yang salah satunya adalah menikah.

Namun siapa sangka jika pada zaman dahulu, beberapa ulama memilih untuk menjomlo seumur hidupnya. Namun mereka menjomlo bukan karena tidak laku atau tidak tertarik kepada wanita, tujuan menjomlo karena kecintaan mereka kepada ilmu sampai-sampai tidak memikirkan pernikahan. Berikut penulis akan sedikit memaparkan empat ulama klasik dan kontemporer yang menjombokan hidupnya untuk berilmu.

Iman Nawawi

Imam Nawawi adalah seorang ulama yang haus dengan ilmu dan banyak melahirkan karya-karya terkenal adalah ulama salaf yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar dan menjomlo. Beliau bernama lengkap Yahya bin Syaraf bin Muri bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam Al-Hizam Al-Haurani Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Beliau lahir pada tahun 631 H menurut kesepakatan para ulama.

Semenjak masih kanak-kanak, beliau memiliki hobi yang tidak lumrah yaitu membaca, mengkaji dan menghafal Al-Qur’an. Pernah suatu ketika ayahnya mengajak beliau ke sekolah, Imam Nawawi hanya banyak duduk sambil membacanya, sedangkan kawan-kawan sebayanya banyak yang bermain.

Menginjak usia sembilan tahun, ayahnya menyekolahkannya di Madrasah Ar-Rawahiyah. Dalam waktu empat bulan, beliau telah menghafalkan kitab At-tanbih dan Al-Muhadzab. Selain itu beliau juga mempelajari tashih, fikih, hadis, ushul, nahwu dan ilmu balaghah.

Hingga melepas masa kanak-kanak, beliau masih tetap saja belajar dan mencari ilmu. Beliau berguru kepada Al-Zain Khalid bin Yusuf untuk mempelajari kitab Al-Kamal fi Asma’ Ar-Rijal, belajar menjelaskan hadis dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim kepada Abu Ishak Ibrahim bin Al-Muradi, belajar ushul fiqih kepada Al-Qadi At-Taflisi dan belajar ilmu nahwu kepada Syaikh Ahmad Al-Mishri.

Beliau menuliskan 11 karya tulis berupa dan yang paling terkenal adalah Riyadhus Sholihin. Imam Nawawi meninggal pada usia 45 tahun tanpa menikah sama sekali.

Ibnu Taimiyah

Ulama kedua yang memilih menjomlo adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang disebut Nashr As-Sunnah (pembela sunah) oleh para pengagumnya. Semenjak usia tujuh tahun beliau menghafal dan mempelajari Al-Qur’an, Kutubus sittah, Al-Masanid. fikih, mantiq, dan filsafat. Beliau menekuninya dengan baik hingga pada usia 20 tahun diangkat menjadi mufti. Dan pada usia inilah beliau banyak menulis.

Menurut Abdul Fattah Abu Ghuddah, Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama yang luas keilmuannya, cerdas, mulia, pemberani, zuhud dan banyak dikagumi oleh pengagumnya maupun penentangnya.

Ibnu Taimiyah adalah penganut Imam Hanbali yang doktrin-doktrin keagamaannya harus berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama salaf secara tekstualis. Beliau dikenal akan fatwanya yang melarang tawasul dan ziarah kubur. Namun beliau mengeluarkan fatwa tersebut karena konteks, mengutip dari K.H. Hussein Muhammad, dikarenakan negerinya sedang dijajah oleh bangsa Mongol namun umat Islam tidak ikut berjihad.

Beliau menuliskan banyak karya yang salah satunya paling terkenal Fatawa Ibnu Taimiyah. Hingga sepanjang hidupnya beliau tidak menikah karena sibuk mencari ilmu. Seseorang pernah mengatakan mengapa beliau tidak menikah? Padahal beliau adalah pemegang sunah Nabi. Salah satu pengagumnya menuliskan bahwa Ibnu Taimiyah memilih jalan “menjomlo” karena mengutamakan ilmu pengetahuan, dakwah, jihad, transformasi sosial, dan untuk mendidik kader muslim.

Nabawiyah Musa

Ulama ketiga yang penulis pilih adalah seorang perempuan feminis yang bernama Nabawiyah Musa. Beliau dikenal sebagai seorang sastrawan, penulis, aktivis kesetaraan gender dan perempuan pertama yang menjadi sarjana muda di Mesir. Jika dikontekskan dengan Indonesia, Nabawiyah Musa adalah seorang “Kartini” di negaranya yang masih menganggap perempuan hanya melakukan pekerjaan domestik belaka.

Pada usia 13 tahun, beliau bersekolah di Madrasah As-Sunniyah yaitu sekolah khusus perempuan. Meskipun keluarganya melarangnya, namun ia bersikeras untuk belajar di sekolah tersebut. Dalam autobiografinya, ia mengatakan bahwa sempat mencuri cincin ayahnya untuk biaya belajar di sekolahnya tersebut.

Setamat dari Madrasah As-Sunniyah, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Mua’allimat lalu ke perguruan tinggi dan lulus menjadi seorang sarjana pertama di Mesir. Seusai berkuliah, Nabawiyah Musa menjadi seorang aktivis feminis di Mesir dan berjuang melalui cara menulis artikel, menerbitkan koran, dan majalah, mendirikan sekolah bagi perempuan dan organisasi perempuan.

Selain itu beliau juga berjuang melalui jalur politik, advokasi kebijakan publik di parlemen yang terkait dengan hak-hak wanita di dalam publik. Selama hidupnya Nabawiyah Musa terus menyuarakan kesetaraan gender di Mesir hingga sampai meninggal dunia tidak pernah sekalipun menikah.

Sa’id Nursi

Ulama selanjutnya adalah seorang tokoh sufi yang berasal dari Turki yaitu Sa’id Nursi. Beliau lahir pada tahun 1877 M di desa Nurs, bagian timur Anatolia. Pada masa kanak-kanak, Sa’id Nursi menempuh pendidikan tradisional di madrasah dan di lembaga pendidikan sekitar desanya. Beliau dianugerahi oleh Allah Swt. kecerdasan yang melampaui anak-anak sebayanya. Diceritakan bahwa beliau mampu menghafal Al-Qur’an dalam waktu yang singkat dan puluhan kitab kuning standar serta berukuran tebal.

Pada usia 15 tahun, Sa’id Nursi mampu menghafal kitab Jam’al-Jawami’ karya Taqiyuddin As-Subki, Qamus Al-Muhith karya Fairuz Abadi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Hakam karya Ibnu Hajib, Syarh Al-Mawaqif karya Syarif Ali bin Muhammad Al-Jurjani, dan Tuhfah Al-Muhtaj bi Syarh Al-Minhaj karya Ibnu Hajar Al-Haitami.

Selain menghafal kitab, beliau juga sering menghadiri diskusi dan mengadakan forum kajian bersama ulama terkemuka. Dalam berbagai pertemuan ilmiah itu, Sa’id Nursi begitu menonjol dalam mengemukakan pendapat sehingga beliau disanjung oleh para ulama. Sebagian orang menyebut sebagai anak muda dengan pikiran cemerlang.

Pada tahun 1897, beliau pergi ke kota Wan untuk memperdalam pengetahuannya dengan mengkaji ilmu geografi, ekonomi, matematika, filsafat, fisika, kimia, bilogi, psikologi, dan sejarah. Dalam waktu singkat pula beliau mampu menguasai ilmu-ilmu tersebut sehingga Sa’id Nursi mendapatkan gelar “Badi’uzzaman” yang berarti kecemerlangan zaman.

Sepuluh tahun kemudian, beliau mengajukan proposal kepada Sultan Hamid II untuk mendirikan universitas yang diberi nama Az-Zahra. Tujuan didirikannya yaitu untuk mereformasi pendidikan dengan memadukan antara ilmu keagamaan dengan ilmu sains, sosial, dan humaniora.

Sepanjang hidupnya Sa’id Nursi Badi’uzzaman menghabiskan waktunya untuk menulis, mengkaji, berdiskusi, advokasi, demonstransi, dan beribadah. Beliau menuliskan 13 kitab dan salah satu yang terkenal adalah Rasail An-Nur.

Dan itulah beberapa ulama yang menghabiskan waktunya untuk belajar sampai lupa untuk menikah. Apakah pembaca ingin menyamai mereka?[]

Thoriq Kemal

Penulis memiliki nama lengkap Thoriq Kemal, biasa dipanggil Cak Thor. Lahir di Surabaya, 18 Desember 1998. Penulis merupakan aktivis IMM komisariat Al-Qossam di bidang keilmuan 2019-2020. Saat ini aktif di organisasi Forum Lingkar Pena Cabang Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com