Kajian

Siapa yang Lebih Tampan antara Nabi Yusuf dan Nabi Muhammad?

...

al-Ibar.net – Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa ada banyak wanita yang terlena oleh ketampanan Nabi Yusuf a.s. Saat melihat wajah Nabi Yusuf, para wanita itu tertegun lalu melukai jemari mereka.

Allah swt. berfirman

{فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ } [يوسف: 31

“Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (Q.S. Yusuf: 31)

Dalam sebuah keterangan, Rasulullah saw. adalah insan yang sempurna. Dilihat dari segala aspek, baik dalam aspek akhlak atau fisik. Sebagaimana kesaksian salah seorang sahabat, bahwa wajah Rasulullah adalah paling tampan.

Sahabat Barra’ mengakatan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُمْ خَلْقًا

“Beliau adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling indah ciptaannya….” (H.R. Muslim)

Lalu, siapakah yang paling tampan antara Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Muhammad saw?

Menurut Sayid Muhammad al-Maliki, orang yang paling tampan di dunia ini adalah Rasulullah saw. Dalam kitabnya, Muhammad al-Insan al-Kamil Sayid Muhammad menjelaskan bahwa Rasulullah saw. diberi seluruh ketampanan. Ada pun Nabi Yusuf a.s., hanya diberi separuh ketampanan.

Pertanyaannya kemudian, kenapa tidak ada riwayat yang menjelaskan ada wanita yang terpana oleh ketampanan Rasulullah, hingga melukai jemari mereka?

Menurut analisis Sayid Muhamad al-Maliki, setidaknya ada dua alasan kenapa ketampanan Rasulullah saw. tidak menjerat para wanita. Pertama, disebabkan kewibawaan keagungan Rasulullah saw. Rasulullah saw. memiliki kewibawaan yang begitu agung. Kewibawaan itu menutupi ketampanan Rasulullah saw. Oleh karenanya, ketika para sahabat memandang Rasulullah, maka yang tampak bukanlah ketampanan beliau, tetapi kewibawaan beliau.

Hal demikian sebagaimana ungkapan Sayyidina Ali yang dikutip oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Syamai’il,

من رأه بديهة هابه

“Barang siapa yang melihat Rasulullah secara spontan, dia merasakan takut.”

Dalam kitab yang sama, Imam Tirmidzi juga mengutip perkataan Ibnu Abi Halah,

وكان اذا تكلم أطرق جلساؤه كأنما على رأوسهم الطير

“Jika Rasulullah bicara, maka sahabat-sahabat diam, seakan di kepala mereka ada burung.”

Begitulah haibah keagungan Rasulullah saw. Ketika ada orang bertemu Rasulullah, maka dia akan merasakan sungkan. Dia pun tidak berani melihat wajah Rasulullah saw. dengan lekat-lekat. Hal ini sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Sahabat Amer bin Ash, “Andaikan aku diminta untuk menceritakan (tentang fisik) Rasulullah saw., aku tidak akan mampu. Hal itu dikarenakan aku tidak pernah memandang Rasulullah saw. lekat-lekat.”

Tak heran jika Rasulullah bersikap lembut pada sahabat-sahabat. Bahkan dalam banyak riwayat, Rasulullah saw. juga mencandai mereka. Hal itu dimaksudkan untuk menghilangkan rasa takut dan gemetar di hati para sahabat Rasulullah saw.

Kedua, ketampanan Rasulullah saw. tidak tampak karena tertutupi oleh cahaya. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadis. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.” (Q.S. Al-Ma’idah: 15).

Ulama tafsir menjelaskan bahwa lafal Nûr (cahaya) adalah Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa yang datang dari Allah adalah Nabi Muhammad saw.

Selain itu, Imam Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadis,

ورأينا كأن النور يخرج من فيه

“Kita melihat seakan-akan cahaya keluar dari mulut Rasulullah saw.”

Imam Ali Zainal Abidin juga meriwayatkan dari Sayidina Husain dari Rassulullah saw. bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Aku adalah cahaya di hadapan tuhanku.”

Lalu, apa yang dimaksud dengan Nabi Muhammad adalah cahaya? Apakah badan Rasulullah saw. bersinar seperti lampu? Jawabannya, tidak. Cahaya Rasulullah saw. lebih agung dan lebih mulia untuk disamakan dengan cahaya lampu. Lalu, seperti apa? Wallahu ‘Alam. Hanya Allah Yang Mahatahu.

Meski demikian, boleh jadi badan Rasulullah bersinar seperti lampu di waktu tertentu sebagai bentuk mukjizat. Hal demikian pernah dialami oleh salah satu sahabat, seseorang yang derajatnya lebih rendah dari Rasulullah saw., yaitu Sahabat Thufail.

Suatu ketika, Sahabat Thufail datang kepada Rasulullah saw. sebagai utusan. Ketika ingin pulang, Sahabat Thufail berkata kepada Rasulullah, “Jadikanlah tanda untukku!” Rasulullah saw. pun berdoa, “Ya Allah, berilah dia cahaya!” Lalu, bercahayalah di antara kedua mata Thufail.

Mendengar doa Rasulullah itu, Sahabat Tufail juga berdoa, “Ya Allah, aku takut mereka mengatakan bahwa cahaya ini hukuman.” Kemudian cahaya itu berpindah ke ujung pecutnya. Di waktu malam, pecut itu bercahaya.

Aalakullihal, Nabi Muhammad saw. adalah insan paling tampan. Namun, ketampanan Rasulullah saw. tertutupi oleh kewibawaan dan cahaya. Andaikan ketampanan Rasulullah saw. ditampakkan, kita tidak akan mampu memandang beliau. Imam Qurthubi berkata, “Ketampanan Rasulullah saw. tidak ditampakkan kepada kita dengan sempurna. Sebab, jika ketampanan Rasulullah saw. ditampakkan dengan paripurna, mata kita tidak akan mampu melihat Rasulullah saw.”

Tak heran jika sebagian ulama mengatakan, andai saja wanita yang melihat Nabi Yusuf itu memandang Nabi Muhammad saw., mereka tidak akan mengiris jari, tapi melukai hati.

Saifuddin Syadiri

Kader HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com