Keluarga

Urgennya Komunikasi Antara Suami dan Istri

...
Sumber gambar: islampos.com

al-ibar.net – Komunikasi merupakan kunci penting untuk sebuah jalinan apapun, apalagi dalam ikatan suci pernikahan. Komunikasi yang dilandasi kejujuran akan membawa maslahat pada pasangan suami istri. Sebaliknya, kurangnya komunikasi atau ada komunikasi tapi palsu yang hanya sekedar basa basi, apalagi bercampur dusta, akan menyebabkan kehancuran dan perpecahan.

Suami istri dengan jalinan komunikasi yang buruk akan mudah terkena fitnah dan hasutan dari pihak lain, bahkan dampaknya bisa sangat buruk hingga berujung pada pertumpahan darah. Simak kisah sepasang suami istri dalam buku Min Kunuz al-Sunnah karya Dr. Raja Mohammad Thaha berikut ini:

Dikisahkan dari Hammad bin Salamah, di kawasan Arab saat itu ada sepasang suami istri dari dua kabilah yang berbeda, baru saja menikah. Suatu hari, mereka membutuhkan seorang budak untuk membantu urusan domestik mereka. Pilihan dijatuhkan pada seorang pelayan yang tampaknya kuat dan memenuhi syarat. Namun si pemilik sejak awal sudah memperingatkan, bahwa si hamba sahaya ini mempunyai sifat buruk, yaitu pada lisannya. Ternyata menurut pasangan itu, hal tersebut bukan masalah besar.

Suatu hari, si budak mulai melakukan aksinya. Dia mendatangi nyonya rumah, mengatakan bahwa suaminya tidak mencintainya. “Kalau ingin suami Anda mencintai Anda, nanti malam ketika memasuki kamar, potonglah beberapa helai rambut di bagian belakang kepalanya dengan memakai pisau. Nanti dengan potongan rambut itu saya akan membuatnya tersihir untuk mencintai Anda.”

Kepada tuannya, si hamba sahaya juga menyampaikan pesan, ”Istri Anda mempunyai selingkuhan. Dia ingin membunuh Anda malam ini. Kalau tidak percaya, berpura-puralah tidur di tempat Anda biasanya. Nanti perhatikan saja, istri Anda akan masuk dengan membawa pisau.”

Selanjutnya yang terjadi adalah seperti yang diharapkan oleh budak licik itu. Sang istri masuk kamar dengan membawa pisau untuk memotong rambut suaminya, sementara suaminya menyangka si istri akan membunuhnya. Maka dia lebih dulu merebut pisau itu dari istrinya, lalu membunuhnya.

Mendengar pembunuhan itu, kabilah istrinya melakukan balas dendam dengan membunuh si suami. Terjadilah pertumpahan darah antara dua kabilah itu.

Kisah semacam itu bukanlah sekali dua kali terjadi dalam waktu dan tempat yang berbeda. Kita sering mendengar adanya percekcokan yang terjadi akibat kesalahpahaman yang bermula dari kurangnya komunikasi. Betapa banyak suami atau istri yang lebih memercayai pihak lain dari pasa pasangannya sendiri. Bagaimana meminimalisir hal tersebut?

Berikut adalah kiat-kiat untuk mengharmoniskan komunikasi antara suami dan istri:

Pertama, biasakan jujur dan terbuka sejak awal menikah, bahkan sejak masa khitbah. Jangan ada kisah yang ditutupi tentang masa lalu, karena itu bisa jadi pemicu keretakan rumah tangga. Masa lalu hendaknya diceritakan kepada pasangan untuk kemudian bersama-sama disimpan rapat, tidak usah diungkit-ungkit lagi. Hendaknya pasangan jangan berkutat di masa lalu, tapi sama-sama fokus untuk masa depan.

Kedua, menutup segala celah yang dapat menyebabkan kecemburuan, bahkan keretakan. Misalnya hubungan dengan mantan ataupun yang hanya sekedar pengagum. Alangkah baiknya jika pasangan sama-sama mengetahui sosial media masing-masing, mengetahui teman-teman di dunia maya, untuk saling mengontrol dan bertanya langsung jika ada peristiwa yang kurang mengenakkan.

Ketiga, jika sudah terlanjur terjadi konflik, hendaknya pasangan jangan gegabah memutuskan sendiri keberlangsungan pernikahan mereka. Libatkan pihak lain yang bijaksana, baik dari keluarga istri maupun suami.

وَاِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِّنْ اَهْلِه وَحَكَمًا مِّنْ اَهْلِهَا ۚ اِنْ يُّرِيْدَآ اِصْلَاحًا يُّوَفِّقِ اللّٰهُ بَيْنَهُمَا اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا خَبِيْرًا

“Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah SWT memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Maha Teliti, lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa’ [4]: 35)

Dalam Tafsir Al-Misbah disebutkan, fungsi utama hakam adalah untuk mendamaikan. Namun jika mereka gagal mendamaikan, maka ada dua pendapat. Pertama, hakam tadi berhak menetapkan hukum baik disetujui oleh kedua pihak yang bertikai, ataupun tidak disetujui. Pendapat itu dianut oleh sebagian sahabat Nabi Muhammad, Imam Malik dan Ahmad Ibn Hanbal. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam as-Syafi’i tidak memberi wewenang pada hakam itu, tugas mereka hanya mendamaikan, dan keputusan cerai tetap berada di tangan suami.

Bagaimanapun juga, intinya tetap pada komunikasi yang baik antara suami istri, juga di antaranya juru damai dari kedua belah pihak. Jika semua menghendaki islah atau perbaikan, maka Allah SWT yang akan memberikan petunjuk demi keharmonisan, menuju kehidupan rumah tangga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah.

Fera Andriani Djakfar

Lahir di Kediri pada era 80-an, Ibu 5 anak, penulis, dosen STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Al-Mukhlishin, Pembina Majelis Ta’lim Utrujah, Pembina komunitas Pecinta Literasi.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com