Keluarga

Efek Jika Terlalu Gampang Memukul Seorang Anak!

...
Sumber gambar: bincangsyariah.com

al-ibar.net – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan orang tua yang menghukum anaknya untuk menerapkan disiplin. Menurut para ahli pendidikan, hukuman adalah sebuah aksi atau tindakan yang ditimpakan pada anak dengan sengaja dan penuh kesadaran sehingga menyebabkan nestapa. Kemudian dengan rasa nestapa itu anak diharapkan akan menjadi sadar akan perbuatannya dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahannya.

Pendapat Tokoh Barat tentang Hukuman

Para tokoh pendidikan mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai efektivitas hukuman ini. Menurut BF. Skinner, hukuman hanya akan menekan perilaku. Namun ketika ancaman hukuman dihilangkan, maka tingkat perilaku akan kembali seperti semula. Jadi, hukuman hanya akan memberikan efek temporer atau sementara saja. Alih-alih menjadi solusi, menurut Skinner hukuman hanya akan menyebabkan efek samping emosional yang buruk, membuat anak hidup dalam ketakutan, dan malah tidak memberikan pelajaran baru bagi si anak. Untuk itu, Skinner lebih menyetujui pemberian penghargaan dari pada hukuman. Pendapatnya ini juga didukung oleh J.B. Watson dan E.L. Thorndike.

Namun demikian, ada juga salah satu ahli pendidikan dari Barat, Edwin Guthrie yang setuju dengan penerapan hukuman. Akan tetapi hukuman tersebut harus efektif. Dia mencontohkan hukuman untuk anjing yang suka mengejar-ngejar mobil. Hukuman yang efektif adalah memukul moncong anjing itu agar menghentikan larinya. Bukan memukul pantatnya yang justru makin mempercepat larinya. Meskipun sama-sama menyakitkan, tapi hukuman yang satu bisa jadi efektif sementara yang lain tidak efektif.

Menurutnya, hal penting mengenai hukuman adalah bukan rasa sakit yang ditimbulkan, tetapi dorongan apa yang membuat organisme itu berbuat. Agar efektif, hukuman harus diaplikasikan bersama dengan stimulasi yang menimbulkan perilaku pada yang dihukum.

Contoh kecil untuk masalah di atas, misal ada seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang melemparkan topi dan jaketnya ke lantai setiap kali dia pulang ke rumah. Setiap kali dia melakukan itu, ibunya akan mengomelinya. Tetapi kelakuan itu berlanjut sampai sang ibu menduga bahwa anaknya menunggu omelan sebagai petunjuk untuk menggantungkan baju dan jaketnya.

Setelah menyadari hal ini, setiap kali si anak melempar topi dan jaketnya ke lantai, si ibu menyuruhnya mengambilnya lagi dan menyuruhnya keluar rumah. Setelah masuk kembali, si ibu memerintahkannya segera menggantungkan topi dan jaketnya. Ha itu dilakukan terus-menerus hingga kebiasaan buruk si anak hilang.

Pandangan Islam Mengenai Hukuman

Dalam Islam, kita menemukan beberapa anjuran untuk memberikan hukuman, seperti dalam hadis berikut ini:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع

“Perintahkan anak-anakmu melakukan salat di waktu dia berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka kalau sudah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka (maksudnya antara anak laki-laki dan perempuan)”. (HR. Abu Daud)

Hadis di atas menunjukkan betapa pentingnya perintah untuk salat, hingga anak kecil yang sudah mencapai usia 10 tahun boleh diberi hukuman berupa pukulan jika tidak melakukannya. Namun, orang tua hendaknya jangan fokus pada pukulan itu saja. Ada hal lain yang harus diperhatikan, yaitu proses menyuruh yang terus-menerus sejak usia anak 7 tahun. Hadits tersebut berkaitan erat dengan ayat tentang perintah untuk mengajak salat kepada keluarga dengan penuh kesabaran:

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ

Contoh lain dari penerapan hukuman efektif yang diterapkan Rasulullah SAW adalah hadis berikut ini:

قال كلدة بْنَ حَنْبَلٍ: اَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ وَلَمْ أُسَلِّمْ وَلَمْ أَسْتَأْذِنْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ فَقُلْ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ؟

Kildah bin Hanbal berkata: “Saya mendatangi Nabi Muhammad SAW tanpa mengucap salam dan tanpa meminta izin (untuk masuk). Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Ulangilah, kemudian katakan Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?’” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits tersebut menjadi contoh nyata bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya sekedar mengajari teori bagaimana cara masuk rumah, tapi juga mendidik dengan hukuman yang tepat sasaran agar sahabat beliau tidak mengulangi lagi perbuatan menyelonong ke rumah seseorang tanpa izin.

Untuk itu, dapat disimpulkan bahwa dalam Islam, hukuman dalam mendidik anak boleh dilakukan dengan beberapa catatan:

Pertama, hukuman merupakan pilihan terakhir jika cara-cara yang lain sudah tidak berhasil

Kedua, pendidik sudah memberi ajakan dan menerapkan pembiasaan sebelumnya, sehingga anak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sebagai contoh, ajakan untuk salat sudah dilakukan sejak anak berumur 7 tahun, namun penerapan hukuman baru setelah anak berumur 10 tahun. Ada waktu 3 tahun untuk sounding atau memerintahkan terus-menerus

Ketiga, macam dan jenis hukuman hendaknya masuk akal dan sudah disepakati sebelumnya, jika perlu ada beberapa pilihan. Disertai dengan penjelasan pendidik akan kesalahan anak.

Keempat, hukuman fisik merupakan alternatif terakhir, dengan syarat tidak boleh menyakitkan, tidak menimbulkan bekas, dan tidak boleh diarahkan ke wajah yang akan merendahkan harga diri anak

Kelima, Hukuman dengan materi hanya akan membuat anak berpikir materialistis. Sebagai contoh: jika anak tidak mengerjakan PR, maka sebagai hukuman, uang sakunya akan dikurangi. Hukuman semacam itu akan menimbulkan sebuah ide dalam diri anak sekarang yang relatif kritis: “Berarti jika aku punya banyak uang, tidak apa-apa tidak mengerjakan PR. Toh uangku sudah banyak.” Dengan demikian, anak itu akan meremehkan kesalahannya jika sudah mempunyai cukup uang.

Keenam, hukuman hendaknya berhubungan dengan kesalahan yang dilakukan. Jangan memberikan hukuman yang tidak “nyambung”. Misalnya kesalahan karena terlalu lama bermain HP, berikan hukuman seperti jam belajar yang lebih lama. Jangan dengan mengurung di kamar mandi, misalnya.

Akhiran, semoga tulisan ini bermanfaat bagi para orang tua dan guru dalam menerapkan hukuman pada anak. [.]

Fera Andriani Djakfar

Lahir di Kediri pada era 80-an, Ibu 5 anak, penulis, dosen STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Al-Mukhlishin, Pembina Majelis Ta’lim Utrujah, Pembina komunitas Pecinta Literasi.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com