Keluarga

Sebelum Menerima Khitbah, Musyawarahkan 3 Hal Ini dengan Calon Suami

...

al-Ibar.net – Bagi seorang muslimah, ketika ada lelaki salih yang akan meminangnya, itu merupakan sebuah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Namun, di balik rasa bahagia itu tentu terselip sedikit ketakutan. Apakah kehidupan dalam rumah tangga nanti sesuai yang diimpikan selama ini? Bagaimana jika nanti dia kehilangan berbagai berbagai kebebasan sebagaimana selama ini dinikmati ketika masih lajang? Dan masih banyak lagi ketakutan lainnya.

 

Ketakutan seperti itu bisa muncul dari berbagai cerita pengalaman kawan yang lebih dulu menikah. Betapa banyak laki-laki yang setelah menikah melarang istrinya untuk melakukan berbagai aktivitas, juga untuk bermuamalah dengan beberapa kalangan. Banyak laki-laki salih yang karena saking sayangnya pada istrinya, melarang sang istri ke mana-mana walaupun untuk tujuan baik, demi menjadikannya ratu di dalam istananya. Jika itu sudah terjadi, maka istri salihah tentu tidak mempunyai pilihan lain selain taat.

 

Namun, di lubuk hatinya yang terdalam ada kehampaan karena ada kebiasaan lama yang terenggut. Di satu sisi dia adalah manusia biasa yang merupakan makhluk sosial dan butuh bermasyarakat, di sisi lain dia sudah terlanjur menjadi seorang istri yang sekaligus merupakan ‘tawanan’ di rumah suaminya. Al Mubarakfuri menjelaskan dalam kitab Mir’ah al-Mafatih:

 

أن في قوله (( أخذتموهن )) دلالة على أنها كالأسيرة المحبوسة عند زوجها ، وله التصرف فيها والسلطنة عليها حسبما بينه الشرع ، ويوافقه قوله في رواية أخرى (( فإنهن عوان عندكم )) جمع عانية وهي الأسيرة ، لكنها ليست أسيرة خائفة كغيرها من الأسراء بل هي أسيرة آمنة

 

“Bahwasanya dalam sabda Nabi Muhammad (kalian telah mengambilnya, wahai para suami), menunjukkan bahwa dia (istri) bagaikan tawanan yang terpenjara di kediaman suaminya, dan suami boleh memperlakukan dan menguasainya sebagaimana dijelaskan oleh syariat. Hal ini sejalan dengan riwayat lainnya (sesungguhnya mereka adalah ‘awaan bagi kalian). ‘Awaanun adalah bentuk jamak dari ‘aaniyah yang artinya tawanan. Namun, dia bukanlah tawanan yang penuh rasa takut sebagaimana tawanan pada umumnya, tetapi dia adalah tawanan yang aman.”

 

Untuk mengantisipasi hal ini, sebaiknya para muslimah ketika hendak menerima khitbah pastikan meminta izin untuk melakukan beberapa hal berikut jika mereka sudah menikah nanti. Bahkan, jika memungkinkan dibuat saja semacam surat izin tertulis atau surat perjanjian karena pentingnya beberapa poin ini.

 

Pertama, meminta agar diperbolehkan menuntut ilmu sampai kapanpun.

 

Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana termaktub di hadis:

طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

 

Sementara dalam riwayat lain ditambahkan wa muslimatin, yaitu bagi muslimah juga demikian. Namun, faktanya banyak sekali suami yang melarang istrinya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, ikut majelis taklim, mengaji pada guru, atau sekedar menghadiri ceramah agama. Dalam pikiran si suami hanya hal yang buruk dan mafsadah (kerusakan) dengan keluarnya istri dari rumah.

 

Untuk itu alangkah baiknya ketika ada lelaki hendak melamar, izin untuk menuntut ilmu menjadi pertimbangan diterima atau tidaknya khitbah lelaki itu.

 

Kedua, meminta izin agar diperbolehkan menyambung silaturrahim kepada keluarga dan sahabat.

 

Menyambung silaturrahim merupakan amalan mulia yang mempunyai banyak faedah seperti kelancaran rezeki dan panjangnya umur. Namun, bagi seorang istri tentunya hal ini bergantung pada izin suami untuknya. Jika suami melarang, maka perginya istri untuk silaturrahim menjadi haram. Jangankan untuk keliling kepada kerabat atau reunian bersama teman, ke masjid untuk iktikaf pun bisa menjadi haram jika suami tidak mengizinkan.

Untuk itu alangkah baiknya jika sejak awal hal ini sudah dibicarakan dan dimintakan izin secara khusus agar nantinya istri masih boleh menjalin kekerabatan dan berteman dengan sahabat-sahabat perempuannya. Boleh juga jika terjadi tawar-menawar, yaitu calon suami memberikan batasan-batasan tertentu sebagai tanda ketegasan, agar tidak terlalu lepas kendali dalam memberi izin.

 

Ketiga, meminta izin agar boleh memberikan uang untuk orang tuanya.

 

Sekilas hal ini tampak mustahil, mana ada suami yang melarang istrinya memberi uang kepada orang tuanya. Namun, begitulah adanya. Ada kawan penulis yang menceritakan bahwa suaminya sangat royal dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Kebetulan si istri ini juga dilarang bekerja. Berapapun yang istrinya minta untuk kebutuhannya dan anak-anak, selalu diberikan tanpa batas baik untuk kebutuhan pokok maupun kebutuhan yang tidak terlalu urgen seperti rekreasi dan perawatan di salon.

 

Herannya, ketika sang istri meminta izin untuk memberikan sedikit dari uang itu untuk orang tuanya (mertua suaminya), sang suami malah marah-marah. Dia mengatakan bahwa orang tua istrinya bukanlah tanggungannya. Padahal yang akan diberikan itu tidak sampai sepuluh persen dari uang belanja mereka.

 

Mungkin di antara pembaca ada juga yang setuju dengan suami seperti ini. Namun, coba pikirkan situasi dan kondisi keluarga asal si istri. Dia berasal dari keluarga menengah ke bawah, orang tuanya bekerja keras banting tulang agar nantinya si sulung yang perempuan ini bisa membawa perubahan dalam kondisi keluarga. Kenyataannya, anak perempuan yang menjadi tumpuan itu dinikahi oleh lelaki yang cukup pelit kepada keluarga istrinya.

 

Dulu di masa Rasulullah ada suami yang pelit. Lalu, istrinya yang bernama Hindun melaporkan kepada Rasulullah saw.. Baginda Nabi membolehkan Hindun untuk mengambil seperlunya untuk dia dan anak-anaknya. Dalam hadis ini tidak dicantumkan untuk orang tua istrinya. Inilah yang dipakai si suami untuk melarang istrinya memberi uang kepada oran tua istri. Semestinya si lelaki paham kondisi mertuanya. Maka dari itu untuk mengantisipasi kejadian ini, sebaiknya dibicarakan sejak awal.

 

Demikian di antara hal-hal yang semestinya diminta atau dipertanyakan oleh muslimah ketika akan menerima khitbah. Bagi yang sudah terlanjur mengalami kejadian dan kondisi tidak enak sebagai ‘tawanan’, hendaknya bersabar dan selalu berdoa agar hati suaminya dilembutkan oleh Allah. Setidak enak apapun kondisi menjadi seorang istri, kelak di akhirat dia bisa bebas, tidak mempunyai pertanggungjawaban atas perbuatan suaminya. Sebaliknya, seberapa besar kuasa suami selama di dunia, kelak di akhirat dia mempunyai pertanggungjawaban atas perbuatan istri dan anak-anaknya.

 

Wallahu a’lam bish shawab…

Fera Andriani Djakfar

Lahir di Kediri pada era 80-an, Ibu 5 anak, penulis, dosen STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Al-Mukhlishin, Pembina Majelis Ta’lim Utrujah, Pembina komunitas Pecinta Literasi.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com