Keluarga

Pentingnya Membina Akhlak Mulia bagi Anak

...

al-Ibar.net – Pepatah mengatakan, “ajari akhlak pada anak terlebih dahulu, kemudian ilmu, karena anak yang berakhlak mulia tidak akan pernah miskin etika”.

Persaingan teknologi dan ilmu pengetahuan membuat orang tua berlomba-lomba membimbing anaknya pada kecerdasan kognitif dan kecanggihan teknologi. Padahal ada hal yang lebih penting dan harus diutamakan, yaitu akhlak.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada zaman saat ini anak berpikir lebih maju dibanding orang tuanya. Hal ini dapat dilihat dengan lebih mudahnya mereka memahami teknologi dibanding pemahaman orang tuanya. Sangking mahirnya si anak pada teknologi, sampai-sampai si orang tua yang belajar teknologi pada anaknya.

Dari waktu ke waktu, zaman berjalan begitu cepat dan dinamis. Banyak orang berilmu namun miskin etika. Semakin tinggi ilmunya semakin tinggi keangkuhannya. Hal ini berbeda dengan orang berilmu yang disertai akhlak mulia, ia akan berkepribadian layaknya padi, semakin berisi maka semakin merunduk. Sedangkan orang berilmu yang miskin etikatak ubahnya tong yang nyaring bunyinya namun sebenarnya kosong akhlaknya.

Untuk membangun generasi berakhlak mulia, hendaknya para orang tua membina akhlak anak karena anak adalah sumber daya manusia, aset atau masa depan suatu bangsa.  Anak harus dididik agar memiliki pengetahuan dan kepribadian baik. Semakin baik kepribadian dan ilmu yang dimilikinya, maka akan semakin bagus pula masa depan bangsa.

Proses perkembangan anak-anak menjadi dewasa merupakan proses yang sangat panjang dan memerlukan pengawasan yang ketat, tentunya hal tersebut bertujuan agar anak tumbuh dengan akhlak yang baik. Anak dalam perspektif Islam merupakan amanah dari Allah SWT.

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ اِنَاثًا وَّيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ الذُّكُوْرَ

“Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi, dia menciptakan apa yang dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang dia kehendaki.” (QS. As-Syura: 49)

Menurut Ibnu Miskawaih, akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Akhlak sendiri memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, bahkan merupakan bagian yang tidak dipisahkan dalam kehidupan manusia. Kepentingan akhlak ini tidak saja hanya dirasakan oleh manusia itu sendiri dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarkat, bahkan dalam kehidupan bernegara.

Akhlak berguna secara efektif dalam upaya membersihkan diri manusia dari perbuatan dosa dan maksiat. Seperti diketahui bahwa manusia memiliki jasmani dan rohani. Apabila tujuan tersebut dapat tercapai, maka manusia akan memiliki kebersihan batin yang pada gilirannya melahirkan perbuatan terpuji. Dari perbuatan tersebut akan lahir keadaan masyarakat yang damai, harmonis, rukun, dan sejahtera.

Selain itu, akhlak merupakan sistem moral yang berlandaskan pada ajaran Islam, yakni bermuara dari aqidah yang diwahyukan Allah SWT kepada Rasul-Nya, yang kemudian disampaikan kepada manusia. Sumber moral sebagai pedoman hidup dalam Islam menjelaskan kriteria baik-buruk perilaku manusia adalah al-Qur’an dan sunnah Rasul. Kedua dasar itulah yang telah memberikan pondasi secara jelas dan terarah bagi keselamatan umat manusia.

Pentingnya membina akhlak adalah sebagai penuntun kebaikan Rasulullah SAW sebagai tauladan utama, karena beliau mengetahui akhlak mulia akan menjadi penuntun kebaikan manusia.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad SAW) berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam : 4).

Bisa dipahami bahwa kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting sekali, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat dan bangsa. Hal ini menjadi wajar sebab jatuh bangunnya bangsa, sejahtera dan rusaknya tergantung bagaimana akhlak elemen masyarakatnya.

M. Athiyah al-Abrasy menjelaskan pentingnya membina akhlak adalah agar mempunyai kehendak yang kuat, perbuatan-perbuatan yang baik, meresapkan fadhilah ke dalam jiwa dengan perasaan, cinta kepada fadhilah dan menjauhi kekejian. Wallahu a’lam.

Nurul Makrifah

Dosen STIT Al-Ibrohimy Galis Bangkalan

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com