Keluarga

Waspadai Futur Pascanikah

...

al-Ibar.net – Hampir semua pasangan yang akan menikah mempunyai tujuan mulia untuk melaksanakan sunah Nabi Muhammad SAW, menjalankan syariat dengan optimal, dan menjadi imam atau makmum yang terbaik.

 

Namun, begitu akad nikah sudah terlaksana dan perjalanan hidup bersama pasangan dimulai, tak jarang rencana demi rencana ibadah yang dulu telah disusun bersama tergeser oleh acara dan aktivitas pascanikah, bahkan terbentur oleh futur.

 

Secara bahasa, al-futur sendiri berasal dari kata fa-ta-ro yang artinya tenang setelah keras dan lemah setelah kencang. Secara istilah, Al futur berarti rusak dan lemah setelah kokoh dan kuat. Ini adalah penyakit yang menimpa orang-orang yang gigih dalam meraih kesempurnaan ibadah. Artinya, kegigihan ibadah yang sebelumnya sangat kuat, tiba-tiba runtuh dan melemah.

 

Hal ini tentu saja sangat berbahaya, apalagi jika penyakit ini menimpa orang-orang beriman yang biasanya produktif dalam menjalankan dakwah untuk kebangkitan umat. Demikian ini ditulis oleh Muhammad al-Jamhy dalam situs berbahasa Arab, islamway.net. Padahal, Allah SWT memuji orang-orang yang kukuh beriman itu dalam kalam-Nya:

 

 يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ الَّذِينَ

 

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah SWT sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imron [3]: 191).

 

Al-futur inilah yang banyak menimpa dan ditakutkan dalam pasangan berkeluarga. Memang betul bahwa di awal-awal pernikahan mereka disibukkan dengan silaturrahim kesana-kemari, momen bulan madu penuh romansa yang juga bagian dari ibadah yang diridai Allah SWT, juga dalam masa penyesuaian diri satu sama lain.

 

Namun, tidak sedikit pasangan yang kemudian cepat terlena dan mengalami gejala al-futur dari ibadah-ibadah yang dulunya pernah diistiqamahkan, dengan memakai alasan-alasan tersebut. Bahkan, ada pula yang menjadikan pasangan sebagai dalih, dianggapnya tidak mendukung ibadah yang dulunya dilakukan dengan  konsisten. Biasanya, hal ini terjadi pada para perempuan, dengan alasan mematuhi perintah suami.

 

“Saya gak sempat lagi mengaji, karena mau fokus menjalankan perintah suami.” “Saya tidak bisa lagi salat malam karena ingin menyenangkan suami. Mematuhi suami‘kan wajib, sementara salat malamnya‘kan sunnah.” “Sekarang sulit untuk salat Dhuha lagi karena menemani suami sarapan dan menyiapkan keperluannya.”

 

Dialog-dialog di atas sering kita dengar dari para muslimah yang baru menikah. Tentu saja pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, sebaiknya sebagai hamba Allah SWT kita harus bisa mengatur dengan baik, kapan waktu berduaan dengan pasangan, melayani kebutuhan keluarga, dan kapan pula ber-khalwat dengan Allah SWT.

 

Kita juga harus ingat bahwa Allah SWT pun bisa cemburu. Bukankah adanya menikah untuk menyempurnakan separuh agama? Bagaimana bisa sempurna jika separuhnya lagi yang sudah tertata menjadi runtuh justru setelah menikah?

 

عن أنس بن مالك: من تزوَّجَ أحرَزَ نصفَ دِينِه فلْيَتَّقِ اللهَ في النِّصفِ الباقي

 

“Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa telah menikah, maka dia mendapat setengah dari agamanya. Maka hendaklah bertaqwa kepada Allah SWT untuk setengah sisanya.

 

Hadits ini ditulis oleh Adz-Dzahabi dalam Talkhis al-‘Ilal al-Mutanahiyah, ditakhrij oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath dan Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Ilal al-Mutanahiyah dengan sedikit perbedaan.

 

Untuk bisa menjalankan kewajiban kepada pasangan sekaligus tetap menjaga sunah-sunah yang telah istiqomah dilakukan, maka para muslimah hendaknya bisa menyimak tips-tips berikut:

 

Pertama, mengetahui jadwal dan pola aktivitas suami, lalu sesuaikan jadwal kita dengan jadwalnya. Misal, pada pukul tujuh pagi suami berangkat kerja dan pulang pada pukul empat sore, maka istri yang sebelum menikah mempunyai jadwal mengaji setelah Subuh hingga masuk waktu Dhuha, tentunya harus menggeser waktu mengajinya. Entah mengaji sebelum Subuh, atau tetap mengaji setelah Subuh meskipun tidak banyak, lalu dilanjut lagi setelah suami berangkat, yang tentunya masih cukup pula waktu untuk salat Dhuha.

 

Kedua, di malam hari setelah melakukan ‘kumpul’ bersama suami, hendaknya langsung bersuci agar bisa segera melakukan ibadah sunah lainnya sebagaimana sebelum menikah dulu.

 

Ketiga, jangan memisahkan diri dari kelompok-kelompok dakwah dan kajian, meskipun sudah menikah. Sebab bersama para pejuang dakwah, jika al-futur melanda bisa dengan cepat segera kembali pada istiqamah.

 

Hal-hal di atas hanya contoh saja. Selanjutnya, buatlah tips dan trik Anda sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Intinya, ibadah kepada Allah SWT jangan sampai menjadi korban futur dengan dalih menjalankan kehidupan pasca pernikahan. Hendaknya kedua belah pihak mengingat kembali bahwa bersatunya mereka dalam ikatan halal adalah untuk menyempurnakan setengah agama, tanpa harus meruntuhkan setengahnya lagi.

Fera Andriani Djakfar

Lahir di Kediri pada 23 Oktober 1980, seorang istri, Ibu 4 anak, penulis, dosen STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Al-Mukhlishin, Pembina Majelis Ta’lim Utrujah, Pembina komunitas Pecinta Literasi.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com