Kolom

Metode Dakwah Nabi; Akhlak Dulu Baru Ilmu

...

Jika kita membuka ilmu ulum al-Qu’an, akan kita dapati pemetakan surat yang ada di dalam al-Qu’an menjadi dua kelompok: Makkiyah dan Madaniyah. Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum nabi hijrah, sedang Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah nabi hijrah.

Penamaan surat semacam ini penting diketahui untuk menentukan periodik penurunan, sehingga mudah untuk menentukan hukum ketika ada dua dalil yang terkesan bertentangan.

Selain itu, periodik penurunan surat ini bisa menjadi satu bahan renungan bagaimana Allah SWT menyusun metode dakwah nabi dalam mengajak umat manusia memeluk agama Islam.

Kalau kita perhatikan, isi surat-surat Makkiyah didominasi oleh tujuan awal agama Islam diturunkan, yaitu mengesakan Allah SWT dilengkapi dengan hujjah-hujjah kebenarannya. Juga menjelaskan peringatan akan siksaan, huru-hara akhir zaman dan kiamat.

Selain itu, dalam surat Makkiyah juga jarang ditemukan penjelasan tentang hukum syari’at secara rinci. Justru surat Makkiyah banyak berbicara tentang pentingnya prilaku luhur dan akhlaq yang mulia (makarim al-akhlaq), yang juga menjadi poin penting diutusnya nabi.

Baru setelah nabi hijrah, Allah SWT menurukan surat-surat yang berbicara tentang hukum syari’at secara rinci.

Metode al-Qur’an dalam menyusun penurunan surat ini sebenarnya juga ditegaskan dalam beberapa ayat. Allah SWT berfirman:

كَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا فِیكُمۡ رَسُولࣰا مِّنكُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡكُمۡ ءَایَـٰتِنَا وَیُزَكِّیكُمۡ وَیُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَیُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُوا۟ تَعۡلَمُونَ

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 151)

Sebagaimana tergambar dari proses turunnya surat-surat dalam al-Qur’an, dakwah nabi juga dimulai dengan menyampaikan tanda-tanda keesaan, keagungan, dan kekuasaan Allah SWT, kemudian disusul dengan menyucikan diri umat dengan mengajarkan akhlaq mulia.

Setelah semua itu selesai, barulah disusul dengan pengajaran hukum syariat, dan pengetahuan-pengetahuan yang lain.

Menurut Syekh Isma’il Haqqi, urutan ini penting. Sebab, ilmu, lebih-lebih berkaitan dengan agama, sebenarnya terletak di dalam hati bukan di dalam otak. Hal ini sebagaimana juga dijelaskan dalam al-Qur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah).” [QS. Al-A’raf: 179)

Otak sebenarnya hanyalah media untuk menggapai ilmu, wadahnya tetaplah hati. Tentu ilmu yang didapat akan menjadi keruh, jika wadah itu tidak dibersihkan dulu.

Oleh karena itu, Imam al-Nawawi pernah bercerita, para salafush-shalih tidak akan mengirimkan anak-anaknya ke madrasah-madrasah, masjid-masjid, dan ribath untuk mendalami ilmu, sebelum mereka dididik dengan prilaku luhur dan akhlak mulia terlebih dahulu di rumahnya masing-masing.

Bahkan rata-rata dari mereka baru dimadrasahkan dan dimondokkan setelah berumur 20 tahun untuk mendapatkan pengajaran akhlaq terlebih dahulu dari orang tuanya.

Hal demikian dilakukan karena sejatinya, pendidikan akhlaq yang baik, memang diberikan oleh orang tua. Anak lebih mudah meniru apa yang dilakukan dan disampaikan orang tua dibanding orang lain. Genetik dalam diri mereka sama, maka akan tertarik pada hal yang sama.

Ditambah lagi, rumah adalah madrasah pertama bagi anak, dan itu yang akan melekat erat dalam sanubari anak, yang akan membentuk karakter anak.

Namun bagaimana jika lingkungan dan kehidupan keluarga anak justru tidak mendukung, karena akhlak orang tua kurang baik, atau sudah baik tapi tidak perduli dengan akhlak anak?

Jika demikian, maka pendidikan di luar rumah menjadi alternatif darurat, dan inilah kenapa mungkin keberhasilan pendidikan zaman sekarang sangat minim dibandingkan dengan zaman salafs-shalih dulu.

Namun demikian, bagaimanapun juga zaman telah berubah, pendidikan dini sudah jarang ditemukan di rumah-rumah. Maka madrasah, majelis taklim, dan pesantren yang harus mengambil peran dalam menjalankan metode ini. Pentingkan dulu akhlak anak didik, baru keilmuan mereka.

Mukhtar Syafa’at

Penulis dan Aktivis Dakwah

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com