Kolom

Berdialoglah dengan al-Quran untuk Membangun Peradaban

...
Sumber foto: fr.freepik.com

al-ibar.net- Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara gradual. Al-Quran merupakan sumber dan rujukan utama umat Islam, dan pedoman hidup umat Islam. Al-Quran memuat segala hal yang dibutuhkan umat manusia dalam menjalani kehidupan dan menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Orang yang selalu berpegang teguh pada al-Quran, dijamin selamat. Hina dan celaka bagi yang mengingkari dan menjauhinya.

Namun, diakui atau tidak, saat ini banyak umat Islam yang telah jauh dari al-Quran. Mereka yang membaca dan menghafal mungkin memang banyak, tetapi sedikit sekali yang mengamalkan dan mengaktualisasikan isi, ajaran dan seruan al-Quran.

Tentu, dengan berbagai alasan yang mengada-ngada sebagai justifikasi. Alasan bahasa adalah di antaranya.

Al-Quran adalah kitab universal, yang ditujukan kepada semua umat manusia tanpa memandang letak giografis tempat mereka tinggal. Karenanya, setiap orang dianugerahi potensi untuk memahami dan mengkaji al-Quran. Tidak hanya khusus orang Arab. Allah tidak pernah membebankan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh hamba-Nya.

Allah selalu meringankan, tidak pernah mempersulit. Kita sendiri-lah yang sering mempersulit sesuatu yang mudah.

Faktanya, yang marak saat ini hanya sekedar kegiatan membaca dan menghafal al-Quran. Sedikit yang mengkaji. Bahkan, di pesantren sekalipun. Di pesantren yang sering menjadi prioritas adalah kajian fikih.

Padahal masalah umat bukan hanya mengenai hukum, tetapi juga tradisi, budaya, pendidikan, psikologis umat, dan lain-lain. Meskipun ada pesantren khusus al-Quran, tetapi aksentuasinya lebih kepada aktivitas menghafal, bukan mengkaji secara saksama dan kritis.

Lalu, salahkah orang yang hanya membaca dan menghafal al-Quran? Tentu tidak salah, hanya tidak efektif dan tak memberi pengaruh apa-apa ke masyarakat luas. Membaca dan menghafalkan al-Quran merupakan kegiatan penting nan mulia sehingga tidak boleh ditinggalkan. Para penghafal-lah yang akan menjaga kemurnian ayat-ayat al-Quran dari kekeliruan dan keselahan.

Akan tetapi yang lebih baik adalah, di samping membaca dan menghafal, juga bisa memahami al-Quran. Mengkaji dan memahami al-Quran, menurut hemat saya, lebih baik daripada sekedar menghafal dan membaca. Dengan mengkaji dan memahami al-Quran, kita dapat meningkatkan kualitas umat Islam.

Tidak dapat dipungkiri bahwa alasan utama umat Islam saat ini tertinggal jauh dari umat lain adalah karena mereka menjauhi al-Quran. Justru, seperti dikatakan Syekh Muhammad al-Ghazali, umat lainlah yang sering menerapkan dan mempraktikkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam al-Quran, muskipun mereka tidak menyadari.

Problemnya, memang, ketidakmampuan setiap orang memahami dan mengkaji al-Quran, meskipun potensinya tetap ada. Namun, hal itu tidak benar bila dijadikan justifikasi. Tempat dan sarana untuk belajar saat ini sangat mempuni, yang kita perlukan adalah mobilitas dalam mempelajari segala bidang ilmu yang dapat menyokong kita memahami al-Quran.

Artinyta, jangan hanya terpaku belajar ilmu tajwid dan metode menghafal. Ilmu-ilmu yang dapat membantu memahami dan mengkaji al-Quran, di antaranya, adalah ilmu bahasa atau sastra Arab, karena al-Quran turun berbahasa Arab; ilmu al-Quran, semacam masalah asbab al-nuzul; dan ilmu tafsir.

Lain dari itu, makna membaca tidak sekadar lisan yang berkomat-kamit, melainkan juga menghimpun, sebagaimana ditegaskan Quraish Shihab: menghimpun ilmu dan pengetahuan. Untuk dapat menghimpun tentu perlu cara, yakni menganalisis dan mengkaji secara kritis.

Syekh Muhammad al-Ghazali mengatakan: “Sebenarnya kata quriat (dibacakan) berarti bahwa risalah atau kitab (al-Quran) yang datang dan ada di tengah-tengah kita membutuhkan pemahaman yang mendalam serta perlu dipelajari secara saksama.”

Jadi, jika kita mampu mengkaji dan memahami al-Quran, kemajuan pradaban Islam sudah pasti dalam genggaman. Bukankah umat Islam di masa lampau mencapai kemajuan gemilang karena mereka selalu mengkaji nilai-nilai dalam al-Quran, menerapkannya dalam aktivitas kehidupan nyata, dan selalu berpegang teguh kepadanya?

Moh. Nadi

Alumni PP Sidogiri. Saat ini tengah melanjutkan studi Hukum Islam di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Ketua PC HMASS Yogyakarta

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com