Kolom

Menjawab Ustaz Salafi: Muslim Indonesia Pengikut Ulama Syafiiyah, Bukan Imam Syafi’i?

...
Facebook/KH. Ma'ruf Khozin

Seringkali kita dengar dan kita saksikan, ada banyak ceramah ustadz Salafi yang banyak menyalahkan amalan orang-orang Nahdhiyin. Hal ini wajar, karena kelompok yang menamakan diri sebagai Salafi ini tidak menggunakan sistem mazhab dalam memahami dalil.

Akibatnya, tatkala berbicara soal mazhab, mereka terlihat lucu, menggelikan sekaligus memperlihatkan batas kualitas keilmuannya. Benar yang dikatakan oleh ahli hadis dari Mazhab Syafi’i, Al-Hafidz Ibnu Hajar:

وَإِذَا تَكَلَّمَ الْمَرْء فِي غَيْر فَنّه أَتَى بِهَذِهِ الْعَجَائِب

“Jika seseorang berbicara di luar keahliannya, maka ia menyampaikan hal-hal aneh.” (Fath al-Bari, V/446)

Terkait amalam yang sering mereka salahkan ini, selanjutnya akan kami jelaskan dalil-dalilnya.

1. Niat Dalam Shalat

Menurut ustadz Salafi ini, melafalkan niat (nawaitu, ushalli dll) adalah bukan pendapat Imam as-Syafii, melainkan pendapat sebagian ulama Syafiiyah. Betulkah?! Jika kita melihat penyampaian Ibnu Muqri’ berikut, tentu saja mereka berbohong:

أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ ، ثَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ كَانَ الشَّافِعِي إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ : بِسْمِ اللهِ مُوَجِّهًا لِبَيْتِ اللهِ مُؤَدِّيًا لِفَرْضِ اللهِ عَزَّ وَجَل َّاللهُ أَكْبَرُ

“Mengabarkan kepadaku Ibnu Khuzaimah, mengabarkan kepadaku Ar-Rabi’, ia berkata: “Imam as-Syafi’i ketika akan melaksanakan Shalat mengucapkan: “Bismillah Aku menghadap ke Baitullah, menunaikkan kewajiban kepada Allah. Allahu Akbar.” (Ibnu Al-Muqri, Al-Mu’jam: 317)

Selain itu, mereka juga menyebutkan bahwa Imam an-Nawawi tidak menganjurkan bacaan seperti di atas. Hal ini sangat parah, karena dalam karyanya Minhaj Ath-Thalibin, Imam an-Nawawi mengatakan:

وَالنِّيَّةُ بِالْقَلْبِ وَيُنْدَبُ النُّطْقُ قُبَيْلَ التَّكْبِيرِ.

“Dan niat di dalam hati. Dianjurkan mengucapkan niat sebelum takbir.” (Minhaj Ath-Thalibin I/26)

2. Mengirim Pahala Al-Quran Kepada Orang yang Sudah Wafat Tidak Sampai

Terkait hal ini, lagi-lagi ustadz ini hanya membaca literatur sekunder. Kalaupun rujukannya ke sumber primer mazhab as-Syafi’i, sangat mungkin itu tidak utuh dan belum menyeluruh. Mari kita amati apa yang disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar:

وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا

“Al-Za’farani (perawi Imam as-Syafii dalam Qaul Qadim) bertanya kepada Imam as-Syafii tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau menjawab: Tidak apa-apa.” (Ibnu Qayyim, al-Ruh, I/11)

Al-Hafidz Ibnu Hajar juga berkata:

وَهَذَا نَصٌّ غَرِيْب عَنِ الشَّافِعِي وَالزَّعْفَرَانِي مِنْ رُوَاةِ الْقَدِيْمِ وَهُوَ ثِقَة وَإِذَا لَمْ يَرِدْ فِي الْجَدِيْدِ مَا يُخَالِفُ مَنْصُوْصَ الْقَدِيْمِ فَهُوَ مَعْمُوْل بِهِ يلزم من ذلك أن يكون الشافعي قائلا بوصول ثواب القرآن لأن القرآن أشرف الذكر

“Ini penjelasan yang asing dari as-Syafi’i. Al-Za’farani adalah perawi Qaul Qadim, ia orang terpercaya. Jika dalam Qaul Jadid tidak ada yang bertentangan dengan penjelasan Qaul Qadim, maka Qaul Qadim inilah yang diamalkan. Dengan begitu, asy-Syafii mengatakan sampainya pahala al-Quran, sebab al-Quran adalah dzikir yang paling mulia.” (Ibnu Hajar, al-Imta’, I/11)

3. Dzikir dengan Suara Keras Setelah Shalat

Untuk hal ini, saya tidak tahu apakah ustadz Salafi ini benar-benar melihat langsung ke kitab Al-Umm atau cuma sekadar mendengarkan. Baik, akan saya bantu untuk memperlihatkan:

(قال الشافعي) وهذا من المباح للامام وغير المأموم قال وأى إمام ذكر الله بما وصفت جهرا أو سرا أو بغيره فحسن

Asy-Syafi’i berkata: “Ini adalah sesuatu yang boleh, bagi imam atau selain makmum. Ia berkata: Jika ada imam yang berdzikir kepada Allah dengan suara yang dikeraskan, dilirihkan atau lainnya, maka ini baik.” (Al-Umm I/150)

Jadi, soal dzikir dengan suara keras dan tidaknya ada dua pilihan, antara yang baik dan yang lebih baik. Kemudian, Imam as-Syafii memilih (ikhtiar) yang lebih baik yaitu lirih. Tapi, andaikan dikeraskan juga tidak apa-apa karena juga baik.

Dari sini, bisa kita lihat bahwa dalam Al-Umm tidak ada kata-kata Imam Syafi’i yang melarang dzikir dengan suara keras setelah shalat. Artinya, ustadz ini telah berbohong lagi atas nama Imam as-Syafii.

4. Mencukur Jenggot Haram

Masalah ini sebenarnya sudah dijelaskan oleh banyak ulama, di antaranya adalah Imam an-Nawawi dan ar-Rafii, sebagaimana berikut:

( فَائِدَةٌ ) قَالَ الشَّيْخَانِ يُكْرَهُ حَلْقُ اللِّحْيَةِ وَاعْتَرَضَهُ ابْنُ الرِّفْعَةُ فِي حَاشِيَةِ الْكَافِيَةِ بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ نَصَّ فِي الْأُمِّ عَلَى التَّحْرِيمِ

“Ar-Rafii dan An-Nawawi berkata bahwa makruh memotong jenggot. Hal ini ditentang oleh Ibnu Rif’ah bahwa Asy-Syafii menjelaskan dalam kitab Al-Umm hukumnya haram.” (Tuhfah 41/204)

Mengapa Iman ar-Rafi’i dan Imam an-Nawawi sampai berbeda dengan imam mazhabnya, as-Syafii? Sebab, kedua imam tersebut memiliki otoritas untuk mentarjih (memilih pendapat yang lebih kuat dalilnya) beberapa pendapat Imam as-Syafii.

Terkait masalah ini, ternyata ditemukan sebuah riwayat dalam kitab Al-Bukhari bahwa Sahabat Ibnu Umar pernah memotong jenggot. Jika memotong jenggot adalah haram secara mutlak, tentu tidak akan dilakukan oleh Ibnu Umar.

5. Menulis Nama di Batu Nisan

Ustadz ini lagi-lagi tidak memiliki bekal keilmuan yang cukup, yang memadai dalam istinbath hukum, yakni Ushul Fikih. Misal, kata-kata “nahy” (larangan) ini sebenarnya memiliki makna haram dan ada yang makruh.

Ketika menyampaikan larangan menulis di kuburan, ustadz ini mengutip hadis yang terdapat dalam riwayat Imam Muslim tentang Tajshish. Anehnya, ketika saya cek berkali-kali, riwayat ini tidak ditemukan dalam Sahih Muslim.

Larangan menulis di kuburan itu riwayat An-Nasai, bukan di Sahih Muslim. Larangan menulis itu menurut sebagian ulama tidak haram, tapi makruh. Bahkan dalam riwayat Al-Hakim, beliau menyampaikan:

و ليس العمل عليها فإن أئمة المسلمين من الشرق إلى الغرب مكتوب على قبورهم و هو عمل أخذ به الخلف عن السلف

“Bukan ini (menulis di kuburan) yang diamalkan. Sebab, para imam dari Timur dan Barat (nisannya) tertulis dimakam mereka. Ini adalah amal yang telah diambil oleh ulama Khalaf dari ulama Salaf.” (Al-Mustadrak, I/525. Menurut Imam Adz-Dzahabi, tetap disebut sebagai muhdats/sesuatu yang baru)

Kesimpulannya, bisa kita lihat bahwa banyak riwayat yang mereka kemukakan ternyata salah dan tidak utuh. Oleh karenanya, saat mereka menyampaikan kesimpulan, ternyata banyak salahnya. Saat menyampaikan riwayat suatu hadis ternyata juga salah.

Makanya, semoga kita tetap diberi jalan yang benar, juga kelapangan untuk menerima ya sesuatu yang benar. Wallahu A’lam.

KH. Ma’ruf Khozin

Direktur Aswaja PWNU Jawa Timur, Penulis, dan Aktivis Dakwah

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com