Kolom

Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis

...
Negara Indonesia /www.pngkit.com

Kira-kira apa yang menyebabkan ISIS menjadi kelompok teroris yang demikian barbar, brutal dan tak berprikemanusiaan; tega membunuh siapa saja dan menghancurkan apa saja? Salah satu jawabannya karena mereka memahami tanah air secara keliru.

ISIS memahami bahwa tanah air bukanlah sesuatu yang berharga. Tanah air hanyalah tanah, air, bangunan, tumbuhan, hewan-hewan, dan lain sebagainya yang semuanya pada hakekatnya tidak mulia dan tidak berharga. Karena itu, ISIS memandang cinta tanah air merupakan kemaksiatan yang dilarang dalam Islam. ISIS juga berpandangan bahwa konsep tanah air dan kecintaan terhadapnya bertentangan dengan konsep khilafah. Karena itu cinta tanah air bertentangan dengan Islam.

Bagaimanapun, pandangan keliru terhadap tanah air ini justru bertentangan dengan syariat Islam. Sebab tanah air adalah gambaran utuh akan sebuah kehidupan umat yang sangat dihormati dalam Islam. Di dalam tanah air ada manusia, ulama, para pakar, karya-karya yang sangat berharga, tradisi, sejarah, peradaban, dan hal-hal lain yang tak ternilai harganya, dan semuanya dihormati, dimuliakan, dan dilindungi oleh syariat Islam.

Itulah sebabnya kecintaan tanah air ini dapat kita temukan dasarnya yang sangat kuat dalam al-Quran, hadis, pernyataan para ulama ahli tafsir, ahli hadis, ahli fikih, dan lain sebagainya, yang menunjukkan betapa cinta terhadap tanah air merupakan sesuatu yang disyariatkan dalam Islam.

Dalam al-Quran disebutkan:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ (النساء [4]: 66)

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 66)

Ayat di atas dengan tegas menunjukkan kesetaraan antara “pembunuhan” dan “pengusiran dari tanah air”. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap tanah air memang merupakan sesuatu yang secara alamiah tertanam dalam jiwa setiap orang, sehingga takutnya seseorang untuk meninggalkan tanah airnya setara dengan ketakutannya terhadap kematian.

Itulah sebabnya kenapa ketika membahas ayat ini, al-Imam ar-Razi dalam Tafsîr al-Kabîr (15/165) menyatakan bahwa dengan demikian, Allah SWT. menyetarakan antara kematian dan berpisah dengan tanah air. Jadi, dengan demikian bagi siapapun tanah air adalah sesuatu yang penting bagi jiwa, amat bermakna, dan karena itu kecintaan terhadap tanah air bukanlah hal yang mengada-ada atau sia-sia.

Dalam ayat lain juga disebutkan:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ (البقرة [2]: 191)

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 191).

Ketika menguraikan ayat ini, al-‘Allamah al-Mulla ‘Ali al-Qari dalam Mirqâtul-Mafâtîh (7/582) mengatakan bahwa berpisah dengan tanah air merupakan bencana yang paling parah, karena itu kata “fitnah” dalam ayat di atas ditafsiri dengan “mengusir dari tanah air”, sebab kalimat “الفتنة أشد من القتل” terletak setelah “وأخرجواهم”. Dengan demikian, arti dari ayat di atas adalah: mengusir dari tanah air itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.

Karena itu, keutamaan-keutamaan dan pahala yang luar biasa besar dalam “hijrah”, sesungguhnya kembali pada asas yang diisyaratkan dalam ayat al-Quran di atas. Karena hijrah berarti pergi jauh meninggalkan tanah air menuju tempat asing untuk mempertahankan agama. Sedang meninggalkan tanah air merupakan hal yang teramat berat bagi siapapun, butuh keteguhan hati, kekuatan, kesabaran dan ketabahan.

Selain landasan dari al-Quran, cinta tanah air juga bisa kita dapati landasannya dari sejumlah hadis Nabi SAW., yang akan menunjukkan bahwa cinta tanah air memang memiliki landasan keagamaan yang kuat, selain memang ia adalah watak yang tertanam dalam jiwa setiap orang. Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا (رواه البخاري)

“Dari Anas t, bahwa Nabi SAW. jika datang dari bepergian lalu melihat dinding-dinding kota Madinah sudah dekat, beliau mempercepat perjalanannya. Dan bila beliau sedang berada di atas kendaraan, maka beliau memacunya, disebabkan kecintaan beliau terhadap kota Madinah.” (HR. al-Bukhari).

Hadis di atas merupakan petunjuk Nabawi terhadap bagaimana mestinya seorang Muslim memandang tanah airnya dengan penuh kecintaan dan kerinduan, sehingga Nabi SAW. mempercepat perjalanan atau memacu kendaraan beliau ketika beliau sudah mendakati tanah air beliau, disebabkan kecintaan beliau terhadap tanah air beliau. Karena itu dalam Fathul-Bârî (3/621), Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadis ini menunjukkan terhadap keutamaan kota Madinah, disyriatkannya cinta tanah air dan rindu terhadapnya.

Dalam Siyar A‘lâmin-Nubalâ’ (15/394), al-Imam adz-Dzahabi menuliskan bahwa RasulullahSAW. itu mencintai Sayyidah Aisyah sekaligus mencintai ayah beliau, mencintai Usamah, mencintai Hasan dan Husain, mencintai yang manis-manis dan madu, mencintai gunung Uhud, mencintai tanah airnya, mencintai sahabat Anshar, serta mencintai hal-hal lain yang tak terbatas yang tak boleh diabaikan oleh seorang Muslim pun.

Jadi dengan demikian, adakah cinta pada tanah air dan segenap apa yang ada di dalamnya bertentangan dengan kecintaan terhadap Allah SWT. dan Rasul-Nya SAW? Tentu saja tidak. Justru dari Rasulullah SAW. kita belajar mencintai anak, istri, guru, murid, tetangga, orang-orang fakir-miskin, binatang, pepohonan, tanah air dan segala apa yang ada di dalamnya.

*Tulisan ini sudah diterbitkan di blog peribadi penulis dengan judul “Cinta Tanah Air dalam Islam”.

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com