Kolom

Religiusitas dan Kecerdasan Berkorelasi Negatif, Benarkah?

...
Semakin cerdas semakin beragama /fr.freepik.com

Adalah Bertrand Russel (1872-1970 M) seorang filsuf sekaligus matematikawan yang cukup terkenal asal Britania Raya, pernah mengungkapkan bahwa terdapat korelasi negatif antara religiusitas seseorang dengan tingkat intelektualitasnya. Artinya semakin religius seseorang itu ia semakin bodoh dan semakin cerdas seseorang itu ia semakin sekuler dan bahkan ateis. Russel menyatakan:

“Religion is something left over from the infancy of our intelligence; it will fade away as we adopt reason and science as our guidelines”.

Selain Russel, Gerhard Meisenberg juga memiliki hipotesa yang sama dan mengamini apa yang ditegaskan Russel. Namun demikian, walaupun ditemukan paradoks —misalnya pada beberapa negara, budaya dan kondisi, religiusitas justru berbanding lurus dengan kecerdasan- dalam penelitiannya ini Meisenberg dkk tetap sampai pada kesimpulan bahwa terdapat korelasi negatif antara religiusitas dan kecerdasan, serta menganggap bahwa kecerdasan adalah penyebab terjadinya sekularisasi. Dalam tulisannya, Meisenberg mangatakan:

“…comparisons between countries suggest that higher intelligence is indeed associated with lower religiosity… Intelligence is a credible cause of secularization because the average population IQs have been rising substantially during the 20th century…”

Lalu, yang menjadi pertanyaan besar adalah benarkah religiusitas dan kecerdasan berkorelasi negatif? Diakui atau tidak, penelitian Meisenberg ini sangat kaya dengan data, bagaimana tidak? Data yang digunakan mencakup tidak kurang dari 157 negara di seluruh dunia. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Prof. Richard Lynn dkk (2010) yang juga sampai pada kesimpulan bahwa terdapat korelasi negatif antara keimanan dan kecerdasan.

Terkait penelitian ini, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi memberikan catatan merah serta menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Lynn ini mengandung dua masalah penting, yaitu masalah konseptual dan metodologi.

Menurutnya, Penelitian ini masih belum mampu menjawab apakah hubungan keduanya (religiusitas-kecerdasan) memang benar-benar merupakan hubungan kausalitas atau lebih dipengaruhi oleh faktor lain, dan pada instrumen/variabel yang digunakan untuk mengukur kecerdasan serta religiusitas seseorang -akan dibahas diakhir—.

Lalu Mengapa orang-orang Barat cenderung lebih cerdas dibanding orang-orang timur dan afrika? Jawabannya lebih karena di negara-negara Barat akses pendidikan lebih mudah dengan kualitas pendidikan yang tinggi dibanding negara-negara tersebut. Belum lagi faktor-faktor lain seperti kesejahteraan, kemiskinan, dll.

Di satu sisi, mereka yang cenderung tidak religius bahkan ateis bukan karena mereka semakin cerdas, akan tetapi lebih karena di Barat peran agama memang sengaja ‘disingkirkan’ dari ruang publik bahkan dari dunia ilmu pengetahuan. Terlebih lagi mereka memiliki ‘trauma’ psikologis terhadap agama, di masa lalu yang mereka kenang dengan sebutan dark ages (tahun kegelapan).

Akal dan Kecerdasan

Dalam mengukur tingkat kecerdasan di suatu negara, penelitian Lynn dkk menggunakan tiga tolak ukur. Pertama, rata-rata IQ. Kedua, prestasi sekolah di pentas internasional. Ketiga, keikutsertaan seseorang di sekolah formal.

Agaknya, terlalu sempit jika kecerdasan hanya diukur dengan tingginya skor IQ dan keterlibatan dalam sekolah formal. Karena kecerdasan bukan hanya tentang dua hal tersebut.

Dalam tradisi Islam, kata akal tidak hanya berkaitan dengan aspek kecerdasan nalar, hafalan, dan kemampuan berpikir logis seseorang. Akan tetapi juga mencakup keterkaitannya dengan nilai-nilai dan moral.

Ibn Manzhur menyebutkan:

…والعقل: القلب, والقلب العقل, وسُمي العقل عقلا لأنه يعقل صاحبه عن التورط في المهالك, أي يحبسه, وقيل: العقل هو التمييز الذي به يتميز الإنسان من سائر الحيوان…

“Akal adalah hati, sedangkan hati adalah akal. Akal diberi nama akal karena ia mampu menjaga (ya’qilu) pemiliknya terjerumus dalam kerusakan. Konon, Akal adalah yang membedakan manusia dengan hewan.”

Ada dua poin penting terkait konsep akal dari petikan di atas. Pertama, Akal berfungsi untuk menjaga dan mengendalikan pemiliknya agar tak terjerumus dalam berbagai kerusakan. Kedua, Akal itulah yang membedakan manusia dari hewan dan berpotensi menjadikannya lebih mulia daripada malaikat atau menjadikannya lebih hina daripada hewan.

Selain itu, dalam satu kesemparan Rasulullah ﷺ bersabda:

…الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت… رواه الترمذي.

“Orang yang cerdas adalah orang yang memiliki pengendalian diri yang baik -mengendalikan nafsu, mempu memotivasi diri, kepedulian, dll— dan melakukan amalan-amalan yang berorientasi pada pencapaian akhirat.” (HR. Imam Turmudzi)

Iman dan Religiusitas

Dalam mengukur tingkat religiusitas seseorang, penelitian ini menggunakan variabel berikut, 1). Golongan agama yang dianut, 2). Presentase kehadiran dalam ritual keagamaan, berupa kuesioner dengan 7 pilihan jawaban dari ‘tidak pernah’ sampai ‘lebih dari sekali dalam seminggu’, diberikan pada 333.620 responden, 3). Keyakinan terhadap agama, dilakukan kepada 345.743 responden, berisi empat pertanyaan beserta pilihan.

Dalam Islma, antara kepercayaan kepada Tuhan tak bisa dipisahkan dengan amal perbuatan, karena klaim keimanan memerlukan pembuktian. Imam Ibn Rajab al-hambali menyatakan bahwa harus ada keselarasan antara keimanan dalam hati dengan amal-amal anggota tubuh. Para ulama salaf sangat mengingkari siapapun yang memisahkan antara iman dan amal, karena keduanya harus berjalan beriringan.

Selain soal keyakinan dan menghadiri ritual-ritual keagamaan, umat Islam juga dituntut untuk melakukan amal-amal saleh berbentuk habl min al-nas, seperti berakhlak baik dan lain-lain. Sehingga menjadi sangat sulit untuk mengukur ‘kadar’ religiusitas seseorang dan pertanyaan-pertanyaan diatas tidak cukup untuk mewakili hal tersebut.

Religiusitas dan Kecerdasan Harus Berjalan Beriringan

Seharusnya tidak ada pertentangan antara religiusitas dengan kecerdasan -khususnya dalam Islam—, karena Islam sendiri memotivasi pemeluknya untuk menuntut ilmu. Bahkan mereka yang berilmu akan ditinggikan derajatnya.

Imam al-Syafi’i juga pernah mengatakan:

…من أراد الدنيا فعليه بالعلم, ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم, وقال: من لا يحب العلم فلا خير فيه فلا يكن بينك وبينه معرفة ولا صداقة…

‘…barangsiapa yang menghendaki dunia, maka ada ilmunya. Dan barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka harus dengan ilmunya. Barangsiapa yang tidak mencintai ilmu, maka tidak ada kebaikan pada dirinya, maka janganlah engkau berkenalan apalagi berteman dengannya…’.

Tak hanya al-Syafii, Imam al-Alusi juga mengatakan sebagaimana yang dinukil dari pernyataan Syekh Abdul Wahab al-Sya’rani:

…لِأَنَّهُ كُلَّمَا تَرَقّٰى العَبدُ فِي بَابِ الأَدَبِ مَعَ اللّٰه تعالى دَقَّ كَلَامُهُ عَلٰى الأَفهَامِ…

“Semakin dekat seorang hamba kepada Allah maka akan semakin sensitif dan mudah paham pula ia terhadap ayat-ayatNya. Which means, semakin banyak ibadah seorang hamba kepada Allah, semakin banyak pula rahmat Allah atasnya, yang pada akhirnya menjadikan ia semakin sensitif dan mudah memahami ayat-ayat Allah.”

Sebagai penutup, kiranya dapatlah kita sepakat dengan pernyataan Blaise Pascal yang senada dengan Ali bin Abi Thalib, ‘a rational person should believe in God. If God does not exist, it does not matter whether or not you believe in God. However, if God exists, you can gain eternal life by believing and eternal damnation if you don’t.’ Wallahu a’lam.

Achmad Syariful Afif

Sedang menempuh pendidikan strata-1 (S1) pada jurusan ilmu Alquran dan Tafsir, Fakultas Ushuludin & Filsafat di UIN Sunan Ampel Surabaya

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com