Kolom

Gus Dur, Humor, dan Dakwah Santai

...
KH. Abdurrahman Wahid/NUOnline

Suatu ketika seorang kiai berkata dalam ceramahnya, “Polisi jujur itu ada tiga: polisi tidur, patung polisi, dan polisi Hoegeng”. Hadirin ikut tertawa mendengar celotehan kiai tersebut.

Sekitar 10 tahun kemudian, humor itu dipakai oleh orang biasa di status Facebooknya. Sungguh malang nasibnya setelah ia unggah, beberapa polisi langsung menangkapnya dengan dalih “melecehkan” lembaga negara. Banyak pihak yang membela si pengunggah, karena polisi polisi dianggap tak tahu humor, terlalu kaku, dan gampang baper.

Di zaman yang serba membingungkan ini, sulit bagi kita untuk membedakan antara kritik, pelecehan, dan guyonan. Ketika ada tulisan yang agak satire, pihak yang tersinggung langsung mengklaim bahwa si penulis ini menghina meski itu hanya sebatas guyon. Lucu memang, padahal hidup tak selamanya serius, kita juga perlu yang namanya humor.

Humor sendiri sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Ia ibarat sayur sop yang berisi perpaduan sayuran kubis, kol, tomat, daging sapi, wortel, dan kacang panjang. Namun apa jadinya jika tak ada garam atau penyedap rasa dalam sop itu? Pasti hambar rasanya. Begitulah posisi humor dalam kehidupan kita. Humor bisa merekatkan orang, humor membuat suasana menjadi damai, dan humor kadang kadang juga bisa sebagai kritik yang terselubung. Tapi tidak menyakitkan.

Abdurrahman Wahid bisa penulis katakan sebagai humoris ulung. Beliau suka membaca dan menulis, hidup di lingkungan Nahdhatul Ulama (NU), seorang budayawan, presiden, dan penggiat kemanusiaan. Meski beliau telah tiada, namun karya-karyanya masih enak untuk dibaca. Serius, mengkritik, satire, dan humoris. Itulah nilai yang ada dalam tulisannya.

Gus Dur, sapaannya, sangat produktif menulis esai dan artikel di berbagai media. Tulisannya terdiri dari beragam tema seperti isu-isu keislaman, politik, sosial, dan kebudayaan. Artikelnya banyak dimuat di berbagai media massa terkemuka seperti Tempo, Kompas, Jurnal Prisma, dan lain-lain. Gaya penulisannya juga beragam, mulai dari yang serius, kritis, reflektif, santai, dan ngguyoni.

Seperti artikelnya yang dimuat oleh majalah Tempo, beliau menuliskan esai yang mengkritik namun ngguyoni. Kita tahu bahwa pemerintahan Soeharto sangat anti terhadap pengkritik kebijakan-kebijakannya. Namun berkat kepiawainnya, Gus Dur mengkritiknya dengan cara berhumor seperti pada tulisannya yang berjudul “Melawan Melalui Lelucon”.

Ia anekdotkan pemerintahan Pak Harto seperti ini, “Seorang pejabat tinggi negara kita bercerita di muka umum tentang banyaknya orang Indonesia yang mengobatkan dan memeriksakan gigi mereka di Singapura. Apakah sebabnya karena kita kekurangan dokter gigi, ataukah karena kualitas dokter gigi rendah? Ternyata tidak, karena yang menjadi sebab adalah di Indonesia orang tidak boleh membuka mulut.”

Memang, menurutnya, betapa rumitnya orang untuk mengkritik kebijakan-kebijakannya karena khawatir akan menimbulkan perpecahan antar SARA. Beliau kemudian melanjutkan bahwa protes dengan lelucon memang tidak efektif kalau dilihat dari sudut pandang politik. Namun, lelucon merupakan wahana berekspresi politis, minimal dapat menyatukan bahasa rakyat dan mengidentifikasi masalah yang sedang dirasakan. Selain mempersatukan, humor menurut Gus Dur juga sebagai alat kritik.

Ya, begitulah humor. Ia bisa dipakai dalam kegiatan apapun asal sesuai porsi, semuanya akan menjadi hangat. Ketika kita nongkrong dan ngopi bareng kawan, humor pasti ada dalam setiap obrolan. Saat seharian bekerja, humor mampu melepaskan stres dalam pikiran kita. Humor bisa diibaratkan dengan cinta, bila hidup tanpanya, tentu bagai taman tak berbunga.

Pentingnya Humor dalam Berdakwah

Jika dikontekskan dengan berdakwah, humor juga perlu disisipi. Rasulullah SAW pun terkadang mengajak umatnya bercanda. Seperti dalam sebuah kisah yang cukup masyhur bahwasannya Rasulullah SAW pernah didatangi oleh seorang wanita tua. Ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Rasulullah, apakah nanti di surga ada orang tua seperti saya?”. Beliau pun menjawab, “Di surga tidak ada orang tua seperti anda”. Wanita itu sontak menangis. Rasulullah pun tertawa lalu meluruskan, “Di surga semua penghuninya muda semua, tidak ada yang berusia tua. Dan anda tidak akan tua seperti ini di surga, namun akan menjadi muda”. (HR. Imam Turmudzi )

Al-Quran sendiri menjelaskan bahwa kita perlu menyampaikan dakwah dengan lemah lembut, santai, dan hikmah sebagaimana yang tertuang dalam Surat An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl 125)

Bentuk dari “hikmah” di atas, salah satunya adalah dengan guyonan. Gus Dur dalam kehidupan sehari-harinya, termasuk berdakwah, selalu menyelipkan humor. Beliau pernah menyinggung pendakwah yang jikalau menyampaikan dakwahnya dengan nada emosi. “Kalau khutbah (dakwah) sambil marah-marah itu bukan mubaligh, tetapi mantan Danramil.”

Beliau melanjutkan, “Yaa ayyuhan nas ittaqullah haqqo tuqotih wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimun.” Wahai manusia! Bertakwalah kepada Allah! Awas kalau tidak!”

Begitulah kiai yang akrab dipanggil Gus Dur ini, humor tidak pernah lepas dari hidupnya. Dalam buku Sang Kosmopolit, Hairus Salim menuliskan bahwa Gus Dur tidak pernah absen dengan humor, baik saat santai, pertemuan formal, memberikan sambutan, atau saat mengisi seminar.

Namun beribu-ribu sayang, saat ini humor seolah telah hengkang dari dakwah Islam. Juru dakwah lebih sering mengafirkan dan membidahkan golongan yang tak sepaham dengannya. Lelucon pun jarang terlontar, yang ada hanya hujatan. Padahal, tujuan dari humor adalah mencairkan suasana. Dalam dakwah, humor bertujuan untuk memberikan kesan Islam damai dan anti kekerasan.

Maka, karena itulah kita perlu membela humor, karena dengan humor segalanya menjadi hangat, ingga pesan bisa mudah tersampaikan. Juga, dengan humor muncullah dialog hangat.

Memang benar kata Kasino, komedian Warkop DKI, “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Selagi kita bisa tertawa, maka tertawalah. Kalau sudah spaneng, lebih baik tertawa bersama. “Gitu aja kok repot”, celetuk Gus Dur.

Thoriq Kemal

Penulis memiliki nama lengkap Thoriq Kemal, biasa dipanggil Cak Thor. Lahir di Surabaya, 18 Desember 1998. Penulis merupakan aktivis IMM komisariat Al-Qossam di bidang keilmuan 2019-2020. Saat ini aktif di organisasi Forum Lingkar Pena Cabang Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com