Milenial

5 Tuntunan Memilih Idola agar di Akhirat Tak Celaka

...

al-ibar.net – Seiring dengan mudahnya berkomunikasi di era modern, semakin mudah pula anak-anak kita mengakses informasi dan hiburan dari berbagai sumber. Dengan kemudahan itu pula, semakin banyak bermunculan figur-figur baru yang menjadi idola di kalangan anak dan remaja. Saat ini, banyak di antara kita yang ngefans pada artis Korea.

Idola adalah figur yang dianggap istimewa karena mempunyai kelebihan atau meraih prestasi tertentu, sehingga sosok tersebut menimbulkan perasaan kagum pada diri banyak orang yang disebut dengan penggemar atau pengagum. 

Para pengagum atau penggemar itu saat ini semakin mudah untuk bersosialisasi, terutama di media sosial. Biasanya mereka mempunyai sebuah wadah atau komunitas tertentu dengan nama idolanya yang dimodifikasi dengan awalan atau akhiran tertentu seperti isme, isty, mania, dan sebagainya. Sesekali mereka juga merencanakan jumpa darat untuk mengadakan event tertentu. 

Bolehkah kita para remaja mempunyai tokoh idola? Ya, boleh saja dengan beberapa catatan tentunya. Bagaimanapun juga kecintaan pada seseorang atau sesuatu adalah fitrah manusia. Namun yang harus diwaspadai adalah, jangan sampai kita terjebak dalam sikap yang salah. Nah, inilah lima tuntunan memilih idola agar di akhirat tidak celaka.

1. Ambil sisi positif dari idola tersebut

Setiap idola adalah manusia biasa dengan sisi lain yang terkadang kurang bagus. Selama kesalahan itu masih manusiawi, tidak apa-apa. Namun jangan sampai kesalahan yang dilakukan adalah sesuatu yang fatal bahkan berbau kriminal.

2. Pilih idola yang sudah jelas baik hingga akhir hayatnya

Terkadang seseorang mengidolakan seorang tokoh atau public figure, tetapi harus kecewa ketika idolanya melakukan hal yang tidak baik. Itulah sisi negatif dari mengidolakan sesama manusia biasa. Berbeda jika kita mengidolakan para nabi atau alim ulama yang sudah jelas husnul khotimah di akhir kehidupan mereka.

3. Jangan meniru buta (at-taqlid al-a’ma). 

Seseorang cenderung menirukan apa yang menjadi kesukaan idolanya. Hal itu sah saja, asalkan memang sesuai dengan kebutuhan, karakter, dan kondisi anak sebagai penggemar. Sebagai contoh, bisa jadi seorang artis menyemir rambutnya karena tumbuh uban dini. Hanya karena ingin meniru idolanya, seorang penggemar yang masih berstatus pelajar sekolah pun ikut-ikutan menyemir rambutnya dan itu bisa dianggap sebagai pelanggaran tata tertib sekolah. Pelanggaran itupun  dapat berakibat pada kemarahan pihak sekolah.

4. Hindari fanatisme golongan

Rasulullah bersabda,

ليس منا من دعا إلى عصبيةٍ وليس منا من قاتلَ عصبيةً وليس منّا مَن مات على عصبيةٍ

“Bukan golongan kami yang mengajak pada fanatisme, bukan golongan kami yang membunuh dengan alasan fanatisme, dan bukan golongan kami yang mati dalam kondisi fanatisme.” (HR. Imam Abu Daud)

Fanatisme yang dimaksud adalah fanatisme buta terhadap golongan tertentu, misalnya karena berasal dari suku atau kelompok yang sama. Kita lihat buktinya, fanatisme kepada klub bola tertentu bisa menyebabkan saling serang hingga saling membunuh. Na’udzu billah.

5. Bersiaplah bersamanya di akhirat

Persiapkan betul siapa yang akan dijadikan teman sejati hingga ke akhirat. Jika selama di dunia mencintai para bintang drama Korea, ya bersiap saja bersama mereka di akhirat. Jika selama ini menyukai para artis barat, ya persiapkan diri untuk bersama mereka di hari akhir nanti ketika matahari hanya tinggal sejengkal. 

Bisakah sang idola menyelamatkan seseorang dari azab neraka? Bisa saja jika kita mencintai idola yang benar. Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasûlullâh! Kapankah hari kiamat itu?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Orang itu menjawab, “Untuk menyambutnya, saya tidak menyiapkan shalat yang banyak, tidak pula puasa ataupun sedekah yang banyak, akan tetapi saya mencintai Allâh dan Rasul-Nya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Imam Bukhari)

Jadi, kita harus selektif memilih idola. Memiliki rasa suka misalnya pada artis Korea, boleh saja. Tapi, bukan berarti mereka harus menjadi panutan kita dalam segala hal. Apa lagi dalam hal yang negatif. Ambil baiknya, buang buruknya. Agar kelak di akhirat kita tidak celaka.

Fera Andriani Djakfar

Lahir di Kediri pada 23 Oktober 1980, seorang istri, Ibu 4 anak, penulis, dosen STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Al-Mukhlishin, Pembina Majelis Ta’lim Utrujah, Pembina komunitas Pecinta Literasi, anggota Divisi Kepenulisan ODOJ.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com