Muslimah

Wahai Muslimah, Malumu Adalah Mahkotamu!

...

al-Ibar.net – Seorang wanita ternyata mampu mengguncangkan dunia tanpa harus mengangkat senjata. Hanya dengan kegemulaian atau kerlingan mata saja, rasanya sudah mampu membumihanguskan dunia.

 

Wanita yang tidak bisa menjaga rasa malunya, bisa menjadi pemicu atau alasan untuk menggoda laki-laki yang juga tak bisa menahan rasa malunya. Bila rasa malu sudah tak bisa lagi dijaga, tinggal menunggu kehancuran moral bangsa. Bila moral bangsa sudah hancur, niscaya dunia akan ikut hancur pula. Padahal Allah SWT telah memerintahkan agar berbicara dengan tegas (baik) dan tahu akan harga diri.

 

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِنِ ٱتَّقَيۡتُنَّ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلۡبِهِ مَرَضٌ وَقُلۡنَ قَوۡلًا مَّعۡرُوفًا

 

“Wahai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu merendahkan suara (dengan lemah lembut yang dibuat-buat) sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)

 

Di manakah seharusnya rasa malu itu diletakkan? Tentu bukan pada kerlingan mata yang menggoda, tetapi pada pandangan mata yang terjaga. Bukan pada suara manja yang sengaja dilantunkan, tetapi pada tutur kata yang sopan dan santun. Bukan pula pada sikap yang sengaja berlenggak-lenggok gemulai, tetapi pada tingkah laku yang dijaga dan hati yang tak pernah lalai. Sebab, rasa malu itu satu bagian dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ فَإِذَا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ الْإِسْلَامِ

“Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila Allah SWT hendak membinasakan seorang hamba maka Dia akan mencabut rasa malu darinya, apabila rasa malu sudah dicabut darinya maka kamu akan mendapatinya dalam keadaan sangat dibenci. Jika kamu tidak mendapatinya melainkan dalam keadaan sangat dibenci, maka akan dicabut amanah darinya. Apabila amanah telah dicabut darinya, maka kamu tidak mendapatinya kecuali dalam keadaan menipu dan tertipu. Apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan menipu dan tertipu, maka akan dicabut darinya sifat kasih sayang, dan apabila dicabut darinya kasih sayang, kamu tidak akan menjumpainya kecuali dalam keadaan terlaknat lagi terusir, dan apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan terlaknat lagi terusir, maka akan dicabut darinya ikatan Islam.” (HR. Ibnu Majah)

 

Begitulah rasa malu menjadi bagian dari Islam. Rasa malu adalah mahkota yang tidak memerlukan singgasana. Rasa malu wajib dimiliki semua Muslim, terlebih wanita muslimah. Pupusnya rasa malu seorang wanita bisa mengantarkannya pada kebatilan.

 

Kecantikan yang diamanahkan Allah SWT pada seorang wanita, jangan sampai dikhianati demi hal yang sia-sia di dunia. Bahkan, Islam telah mengatur cara berpakaian wanita muslimah sedemikian rupa sesuai batasan-batasan syariat. Hal itu adalah semata-mata untuk menjaga rasa malu dan menghindarkan wanita dari fitnah dunia. Maka jadilah muslimah yang menjadi perhiasan termahal di dunia, menjadi wanita salihah yang diridai Allah SWT.

 

Islam itu memuliakan wanita. Namun, apabila wanitanya sendiri meragukan kemuliaan yang telah diberikan oleh agama Allah SWT, sungguh ia akan menghancurkan masyarakat, negara, dan dunianya.

 

Rasa malu seorang muslimah adalah mahkota kemuliaan, perhiasan yang indah dan memukau. Rasa malu yang terjaga akan membuat diri seorang muslimah menjadi terhormat dan dimuliakan. Sebab, kekuatan iman seorang Muslim dapat dilihat dari sifat malu di dalam dirinya.

 

Setiap Muslim wajib membentengi dirinya dengan benteng malu terhadap Allah SWT bila berbuat dosa. Hal ini sebagaimana Rasulullah SAW menjaga dan mengedepankan rasa malunya di atas kepentingan dunia. Rasa malu adalah bagian dari fitrah manusia.

 

Muslimah yang berilmu akan senantiasa menjaga akhlaknya dengan senantiasa menghiasi diri dengan rasa malu, kapan pun dan di mana pun. Baik malu karena Allah SWT, atau malu kepada sesama manusia.

 

Muslimah yang berilmu akan senantiasa memelihara rasa malunya agar tidak terjerumus dalam dosa-dosa yang membuatnya lalai akan perintah-perintah Allah SWT. Lisannya akan terjaga dengan tutur kata yang baik, perbuatannya akan mencerminkan sifat seorang muslimah, dan ia tidak akan mudah menanggalkan mahkota rasa malunya demi pujian manusia. Semoga kita menjadi insan yang selalu dibersamakan dengan rasa malu oleh Allah SWT. Amin.

Arwa Lubna

Pengajar dan Aktivis Dakwah

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com