Sejarah

Sejarah dan Filosofi Sufi tentang Kopi

...

al-Ibar.net – Diakui atau tidak, jika ada satu minuman yang begitu banyak diperdagangkan di bumi Indonesia ini, maka kopi-lah minuman itu. Ia begitu digemari oleh banyak orang, entah itu kalangan elit seperti pejabat dan kiai, atau orang bawah seperti kebanyak rakyat akar rumput. Cara penyajiannya pun luar biasa beragam, mulai yang sederhana dengan cangkir dan kopi hitam saja, atau dengan wadah unik, varisan dan campuran isi yang juga manarik. Semua kalangan itu menyatu dalam satu kehangatan kopi.

Jika diamati, warung-warung kopi telah begitu menjamur di setiap pelosok desa dan kota. Pengunjungnya pun luar biasa ramai. Hal ini menandakan bahwa kegemaran pada minuman yang satu ini telah begitu kuat melekat. Bahkan, mereka yang tidak suka marung, bisa dipastikan ada toples kopi di rumahnya. Hal ini wajar, karena selain teh, orang-orang yang bertamu sudah pasti disuguhi kopi. Apapun makanannya.

Dalam sejarahnya, minuman yang banyak digemari di hampir seluruh lapisan dunia ini pertama kali ditemukan pada akhir abad ke-8 dalam penanggalan hijriyah, oleh Imam Abul Hasan Ali asy-Syadzili bin Umar bin Ibrahim (1070 H-1113 H)  di negeri Yaman. Ali Asy-Syadzili sendiri adalah seorang ulama sufi pengikut tarekat Syadziliyah. Hal ini diungkapkan secara singkat oleh Sayid Abdurrahman bin Muhammad al-Husaini al-Hadrami dalam karyanya Inasush Shafwah bi Anfasil Qahwah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah) 137.

Jika al-Hadrami menjelaskan penemuan kopi seperti yang ada pada alenia di atas, maka hal ini berbeda dengan Imam Najmuddin al-Ghazzi yang menjelaskan dalam karyanya al-Kawakib as-Sairah Fi A’yan al-Miah al-A’syirah, bahwa orang pertama yang menjadikan minuman kopi sebagai minuman berkhasiat adalah Syekh Abu Bakar bin Abdullah Al-Aydrus. Beliau membuat racikan kopi dari buah pohon Bun.

Namun demikian, menurut Wiliam H. Ukers dalam bukunya All About Coffe, tanaman biji kopi sebenarnya berasal dari Abyssinia, atau yang lebih masyhur sekarang sebagai Ethiopia. Tanaman ini kemudian disebarluaskan oleh orang-orang Arab dari pelabuhan Mocha, Yaman. Pelabuhan Mocha inilah yang kemudian memegang kendali perdagangan biji kopi. Bahkan, nama pelabuhan ini sampai menjadi salah-satu varian favorit dari kopi: Kopi Mocha. Di Indonesia  sendiri, biji kopi dibawa dari Malabar, India oleh penjajah Belanda. Mereka menanam biji ini untuk pertama kalinya di desa Kadawung, Subang.

Terlepas dari semua itu, ada dokumen tertulis yang dikalim paling tua tentang kopi ini. Catatan ini ditulis oleh Al-Razi (850-922), ilmuwan Muslim yang juga ahli kedokteran. Pada masa hidupnya, dia pernah menyebut suatu minuman bernama Bunshum, dengan ciri-ciri seperti kopi yang suka kita seduh hari ini. Hal ini juga diperkuat Ibnu Sina (980-1037) yang pernah menyebut minuman dari Bunshum, dan bijinya disebut Bun, seperti apa yang disampaikan oleh Imam Najmuddin al-Ghazi di awal tulisan ini.

Kemudian terkait dengan keistimewaan kopi ini, bagi kebanyakan pria, merehatkan lelah saat otak mulai tak mampu berpikir dan badan mulai tidak enak digerakkan, maka secangkir kopi dan sebatang rokok berapi adalah solusi yang tepat. Terkhusus kopi, banyak hal yang bisa diceritakan bersamanya pada setiap asap yang mengepul, dan juga rasa pahit yang tenggelam bersama manisnya gula. Begitu enak dirasakan, dan begitu nikmat diresapi. Tidak heran jika kemudian bagi kalangan sufi, kopi adalah minuman terindah yang pernah diciptakan Tuhan:

Pertama, kopi dijadikan sebagai pelarut kesusahan. Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengungkapkan ini sebagai berikut:

ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار

“Ketahuilah duhai hati yang gelisah, kopi ini telah dijadikan oleh Ahli shafwah (orang orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan.”

Kedua, kopi sebagai ungkapan cinta dan kerinduan. Para pecinta dan perindu akan kasih sayang Tuhan dari kalangan sufi seringkali menyertakan perasaannya dengan secangkir kopi. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Umar bin Abdullah Bamakhramah dalam kumpulan sajaknya, Diwan Bamakhramah:

“Dalam gelas kerinduan itu membuat orang yang meminumnya berada dalam tingkatan para perindu dan memakaikannya pakaian ahli pecinta dalam kedekatan kepada Allah. Bahkan jika seandainya diminum oleh seorang Yahudi maka niscaya hatinya akan mendapatkan tarikan hidayah dan inayah Tuhan.

Ketiga, kopi sebagai pembangkit semangat untuk mendekat kepada Allah SWT. Hal ini diungkpakan oleh banyak ulama sufi, di antaranya adalah Ahmad bin Ali As-Subki. Beliau menyebutkan:

واما منافعها يعني القهوه تقريبا فالنشاط للعبادة والأشغال المهمة وهضم الطعام وتحليل الرياح والقولنج والبلغم كثيرا

“Manfaat kopi itu untuk membuat semangat ibadah, pekerjaan penting dan menghancurkan makanan agar tidak masuk angin. Juga, menghilangkan dahak yang banyak.”

Melihat keistimewaan ini, tidak heran jika kemudian ulama juga memiliki doa tertentu saat hendak memulai minum kopi. Konon, doa ini berawal dari seorang sufi asal Maroko yang berjumpa Rasulullah SAW dalam keadaan terjaga (sadar). Saat sufi ini mengadukan kesukaannya tentang kopi, Rasulullah SAW memberikan doa berikut:

اللهم اجعلها نورا لبصري وعافية لبدني وشفاء لقلبي ودواء لكل داء يا قوي يا متين ثم يتلو البسملة

“Ya Allah SWT, jadikanlah kopi yang saya teguk sebagai cahaya bagi penglihatanku, kesehatan bagi badanku, penawar hatiku, obat bagi segala penyakit. Duhai Dzat yang Mahakuat dan Mahateguh… kemudian membaca basmalah.”

Ali Imron

Alumni PP Sidogiri. Aktif sebagai Ketua PC HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan Direktur K2ASF PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Rayon Adab dan Humaniora UINSA Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com