Sejarah

Para Syuhada’ Tidak Benar-benar Mati, Hanya Berpindah Tempat Saja

...

al-Ibar.net – Ketika sedang berada di padang rumput, Muhammad al-Baththal mendengar ada suara hewan yang berjalan di belakangnya. Ia menoleh. Ternyata ada seseorang (sebut saja Ahmad) yang menaiki kuda sambil membawa pedang dan tongkat.

Dengan keadaan masih menunggang kuda, Ahmad lantas mendekati al-Baththal dan mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum”.

“Wa’alaikum salam,” jawab al-Baththal.

“Apakah engkau mengetahui seorang yang bernama al-Baththal?”, tanya Ahmad tidak paham bahwa orang yang di depannya itu adalah al-Baththal.

“Iya, aku sendiri. Aku adalah al-Baththal,” jawab al-Baththal menunjukkan jati dirinya.

Setelah mengetahui bahwa orang yang di depannya adalah al-Baththal, Ahmad lantas turun dari kuda dan tiba-tiba memeluk serta mencium kaki al-Baththal. Tentu hal itu membuat al-Baththal bertanya-tanya.

“Mengapa engkau melakukan semua ini?,” tanya al-Baththal penasaran.

Ahmad mengutarakan alasannya. Ia ingin mengabdikan hidupnya kepada al-Baththal. Permintaan itu diamini oleh al-Baththal. Namun, tak berselang lama, tiba-tiba ada empat penunggang kuda yang mendatangi mereka berdua.

Melihat gelagat mencurigakan, Ahmad langsung meminta izin kepada al-Baththal agar diperbolehkan untuk mengusir empat orang itu. Belum sempat Ahmad bergerak sedikit pun, empat orang itu langsung membunuhnya (Ahmad). Mereka menyerahkan jasad Ahmad kepada al-Baththal.

Kini, hanya al-Baththal dan empat orang itu yang ada di sana. Al-Baththal menyatakan siap berperang dengan mereka asalkan diberi kesempatan untuk mengambil pedang dan menaiki kuda milik Ahmad. Permintaan itu diizinkan.

Ketika sudah memegang pedang dan naik kuda, tiba-tiba al-Baththal merasa pertempuran yang akan terjadi itu tidak imbang. Bagaimana tidak, ia seorang diri harus melawan empat orang secara bersamaan.

“Ini tidak imbang. Kalau berani, mari, kita berkelahi satu lawan satu!” ajak al-Baththal.

Mereka setuju. Satu orang maju dan berhasil dikalahkan oleh al-Baththal. Begitu pula dengan orang kedua dan ketiga. Mereka berdua juga terbunuh. Hingga akhirnya, orang keempat yang maju. Tidak seperti tiga orang sebelumnya, orang ini cukup kuat. Tidak mudah bagi al-Baththal untuk mengalahkan, apalagi membunuhnya.

Perkelahian terjadi begitu sengit dan seru. Bahkan, sampai tombak masing-masing dari mereka hancur pun, belum diketahui mana yang tampil sebagai juara. Mereka turun dari kuda. Berperang di tanah dengan menggunakan perisai dan pedang. Nasib pertempuran itu sama sebagaimana sebelumnya: belum ada yang menang dan kalah meski senjata mereka rusak.

Hingga sore tiba, perkelahian masih berlangsung. Hal ini membuat Al-Baththal dan si Fulan ini lelah. Karena sama-sama merasa tidak melaksanakan ibadah di hari itu, mereka pun akhirnya sepakat untuk beristirahat dan mengerjakan ibadah menurut agamanya masing-masing. Baru, keesokan hari, perkelahian akan dilanjutkan.

Keesokan harinya, Al-Baththal berhasil membuat Fulan bertekuk lutut. Ketika akan dibunuh, dia memohon keringanan. Al-Baththal mengampuni, dan perkelahian dilanjutkan lagi.

Kali ini, al-Baththal kalah. Ketika ia akan dibunuh, al-Baththal meminta keringanan. “Bukankah tadi aku juga telah memberimu keringanan sehingga kamu tak jadi aku bunuh? Kini, aku minta hak yang sama!”. Permintaan itu disetujui.

Namun, malang tak bisa ditolak mujur tak dapat diraih, pada perkelahian berikutnya, al-Baththal kalah lagi. Ia berkata, “Satu dibalas satu. Kali ini engkau menang lagi”.

Anehnya, Fulan masih memaafkan al-Baththal. Perkelahian dilanjutkan. Namun, tetap saja, al-Baththal kalah lagi. Kali ini, Fulan tak memberi ampun. 

“Kini aku telah mengetahui bahwa engkau adalah al-Baththal. Aku akan membunuhmu dan akan mengambil tanah Romawi darimu,” kata Fulan memastikan ia akan membunuh al-Baththal.

Mendengar kalimat itu, al-Baththal berkata, “Hal itu tidak akan terjadi, kecuali jika Tuhanku berkehendak”.

Fulan mempersilahkan al-Baththal untuk berdoa. Sejurus kemudian, Fulan bersiap untuk membunuh al-Baththal dengan sebilah pisau. Namun, Ahmad, orang yang mengabdi kepada al-Baththal dan telah mati terbunuh sebagaimana dicerikatakn di awal, hidup lagi. Dengan cerpat, ia menebas leher Fulan. Setelah itu, ia membaca ayat:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah SWT itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran [3]: 169).

Kisah ini ditulis oleh Ahmad Shihabuddin bin Salamah Al-Qalyubi dalam karyanya, an-Nawadir. Sedangkan untuk QS. Ali Imran: 169 di atas, dalam tafsir al-Maraghi dijelaskan bahwa mereka yang gugur di jalan Allah SWT adalah mereka yang disebut dengan nama para syuhada’. Mereka tetap hidup, namun di suatu alam yang berbeda dengan alam ini (dunia). Ini adalah balasan bagi mereka berupa kemuliaan dari Allah SWT (lihat: Al-Maraghi, Ahmad bin Musthafa. Tafsir al-Maraghi.  Kairo: Musthafa al-Babiy, 1946).

Dari kisah ini bisa kita ketahui bahwa Allah SWT akan memberikan apresiasi luar biasa bagi siapa saja yang ikhlas dalam berjuang di jalan-Nya. Wallahu a’lam.

M Nurul Huda

Seorang guru ngaji lulusan, Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, PesantrenBayt al-Qur’an Pondok Cabe, S1 PTIQ (prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lulus 2019), Pascasarjana S2 IIQ (jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2020-sekarang).

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com