Sejarah

Kisah Seseorang yang Mendapat Amanah dari Nabi SAW Melalui Mimpi

...

al-Ibar.net – Zaid, sebut saja begitu, adalah salah satu penduduk Bashrah. Ia sangat ingin menunaikan ibadah haji. Agar keinginan itu menjadi kenyataan, ia pun berdoa kepada Allah SWT selama tiga tahun lamanya. Suatu malam, Zaid didatangi Nabi Muhammad SAW di dalam mimpinya.

“Berangkatlah haji tahun ini!,” kata Nabi Muhammad SAW memerintahkan.

Ketika bangun, Zaid sadar bahwa ia tak memiliki apa-apa yang bisa digunakan sebagai bekal. Nabi Muhammad SAW kemudian menemuinya lagi pada mimpi di malam kedua. Dalam mimpinya yang ke-2 ini, Nabi Muhammad SAW mengulang kalimat yang sama dalam mimpi pertama.

Zaid kemudian berniat, bila nanti Nabi Muhammad SAW menemuinya ia akan mengatakan bahwa dirinya benar-benar tak memiliki bekal. Benar saja, Nabi Muhammad SAW datang lagi pada malam ketiga. Pertanyaan yang telah disiapkan itu pun ia utarakan: “Maaf, Nabi, saya sama sekali tidak memiliki bekal untuk berhaji.”

Nabi menanggapi pernyataan itu dengan sebuah perintah untuk menggali salah satu bagian di dalam rumah Zaid. Di sana, kata Nabi Muhammad SAW, Zaid akan menemukan baju perang milik leluhurnya.

Setelah bangun, Zaid benar-benar melaksanakan perintah itu. Apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW itu benar-benar ada. Zaid menemukan baju perang yang terkubur dalam rumahnya. Baju itu dijual dan laku dengan harga empat ratus dirham. Sebagian darinya, ia gunakan untuk membeli unta untuk perjalanan. Zaid lantas membuat kesepakatan dengan teman-temannya bahwa ia ingin berangkat haji bersama-sama.

Singkat cerita, seluruh rangkaian ibadah haji telah selesai dikerjakan. Selesai tawaf wada, yakni tawaf yang dilakukan setelah selesai melaksanakan ibadah haji dan meninggalkan kota Makkah, Zaid melakukan salat di hijir Ismail. Aneh, tiba-tiba ia merasakan kantuk yang tak bisa ditolak. Ia tertidur.

Dalam tidurnya, ia bermimpi didatangi Nabi Muhammad SAW untuk ke sekian kalinya. Saat itu, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa Allah SWT menerima haji yang dilakukan Zaid. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga menyuruh Zaid untuk mendatangi Umar bin Abdul Aziz selepas ia meninggalkan kota Makkah.

Zaid diperintah untuk menyampaikan sebuah kalimat kepada Khalifah Umar. Kalimat itu adalah, “Hai Umar, engkau memiliki tiga nama di sisi kami, Umar bin Abdil Aziz, Amirul Mukminin, dan Abu Yatama”.

Selepas berpamitan kepada teman-temannya untuk pulang, ia mencari rombongan haji yang akan pulang ke Syam, tempat Umar bin Abdul Aziz tinggal. Saat bertemu khalifah umat Islam itu, Zaid berkata:

“Saya adalah orang yang diutus Nabi Muhammad SAW untuk menemui Anda,” kata Zaid kepada Umar.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya Umar menanyakan apa maksud kedatangan Zaid yang sesungguhnya. Seluruh kejadian yang dialami Zaid pun diceritakan kepada Umar. Umar terlihat sangat yakin dengan penjelasan itu. Ketika Zaid mau undur diri, Umar berniat memberikan beberapa uang saku sebagai oleh-oleh, namun ditolak Zaid dengan sangat bijaksana.

“Saya selamanya tak akan mengambil imbalan apapun atas suatu pekerjaan yang diperintahkan Nabi Muhammad SAW,” kata Zaid.

Kisah di atas penulis sarikan dari kitab ‘Uyun al-Hikayat karya Ibnu  Jauzi ( Lihat: Jamaluddin Abi al-Farj bin Ibn al-Jauzi, ’Uyun al-Hikayat (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019), 326-327).

Ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini. Selain tentang kebenaran dan mungkinnya seseorang bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW, kita juga diajarkan bagaimana hendaknya sikap seseorang ketika mendapatkan pesan (amanah). Dipercaya untuk menyampaikan amanah adalah juga amanah. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sungguh, Allah SWT menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. an-Nisa’ [4]: 58).

Lewat ayat ini, Allah SWT memerintahkan seluruh orang mukmin untuk menyampaikan amanah yang diberikan kepadanya, baik amanah dari Allah SWT maupun dari sesama manusia (Lihat: Tim Lajnah Ulama Al-Azhar, al-Muntakhab fi Tafsir al-Qur’an al-Karim (Mesir: al-Majlis al-A’la, 1995), 118).

Alhasil, dipercaya menjadi perantara untuk menyampaikan sebuah pesan atau lainnya adalah suatu kehormatan tersendiri. Hal itu harus dilaksanakan sepenuh hati agar sang pemberi amanah tidak kecewa.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat.” (HR. Al- Bukhari).

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW di atas, tidak melaksanakan amanah yang diberikan adalah salah satu tanda kemunafikan. Na’udzubillah. Semoga Allah SWT menjadikan kita satu dari sekian banyak hamba-Nya yang melaksanakan amanah. Amin.

M Nurul Huda

Seorang guru ngaji lulusan, Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, PesantrenBayt al-Qur’an Pondok Cabe, S1 PTIQ (prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lulus 2019), Pascasarjana S2 IIQ (jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2020-sekarang).

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com