Sejarah

Kisah Seorang Hakim yang Tak Bisa Diintervensi Oleh Siapapun

...

al-Ibar.net – Seorang perempuan, sebut saja Fulanah, mendatangi qadli (hakim) yang bernama Syarik. Saat itu, Fulanah melaporkan bahwa dirinya telah dizalimi oleh amir (pemerintah) setempat, Musa bin Isa.

“Apa masalahmu?,” tanya Syarik.

Fulanah pun buka suara. Ia memiliki sebidang tanah berupa kebun kurma. Kebun itu lantas ia bagi kepada para saudaranya. Sebagai pembatas, dibuatlah pagar antara kebun-kebun itu.

Satu hari, Musa bin Isa membeli semua kebun milik saudara-saudara Fulanah. Tak hanya itu, ia juga berusaha membeli kebun Fulanah. Namun, Fulanah menolak.

“Musa bin Isa lantas menyuruh banyak orang untuk mencabut pagar pembatas yang membedakan mana kebun saya dan mana kebun milik saudara-saudara saya yang barusan dia beli itu,” kata Fulanah mengakhiri laporannya.

Setelah mendengar penjelasan Fulanah itu, Syarik lantas menulis surat panggilan kepada Musa bin Isa untuk menghadiri persidangan. Surat itu tak diindahkan Musa. Malah, ia menyuruh seorang kepala kepolisian (sebut saja Zaid) untuk mendatangi Syarik; melapor bahwa laporan Fulanah itu adalah fitnah belaka.

Merasa ada yang janggal, Zaid menolak perintah itu. Namun, Musa tetap keukeuh. Hati Zaid mulai gelisah. Ia lantas menyuruh anak buahnya untuk mempersiapkan segala perlengkapan di dalam penjara.

Dugaan Zaid benar. Setelah mendengar uraian Zaid, Syarik lantas memenjarakannya. Zaid berkata, “Saya sudah menduga bahwa engkau akan memenjarakan saya. Oleh karenanya, tadi saya sudah menyuruh orang untuk mempersiapkan beberapa perlengkapan di dalam penjara.”

Mendengar Zaid ditahan, Musa lantas menyuruh seorang pengawalnya untuk mengajukan sikap keberatan. Syarik tetap tak setuju. Bahkan, ia juga memenjarakan pengawal itu.

Musa tak tinggal diam. Ia melobi para tokoh di Kufah yang merupakan kawan-kawan Syarik. Namun, sikap Syarik tetap tak tergoyahkan. Ia berkata, “Kalian ini, kayak tak ada yang layak dibantu saja, selain Musa bin Isa. Malam ini, silakan kalian bermalam di penjara.”

“Serius?” kata para kawan Syarik heran.

“Iya, serius. Ini saya lakukan agar kalian tak lagi membantu dan membawa pesan si zalim  itu,” jawab Syarik menjelaskan.

Hingga pada suatu malam, Musa diam-diam pergi ke penjara dan membebaskan semua suruhannya yang telah dipenjarakan Syarik.

Keesokan harinya, ketika mendapat laporan bahwa Musa meloloskan para tawanan, Syarik benar-benar kecewa. Merasa dilecehkan, Syarik memutuskan untuk pergi ke Baghdad untuk mengajukan pengunduran diri kepada Amirul Mukminin.

Musa yang mengetahui tindakan Syarik, lantas menemuinya di tengah jalan dan membujuknya agar rencana menemui Amirul Mukminin itu digagalkan. Terjadi dialog panjang antar mereka. Intinya, Musa bersedia mengembalikan orang-orang yang dia bebaskan malam itu ke dalam penjara. Juga, ia siap untuk disidang.

Sebelum sidang dimulai, Musa meminta agar orang-orang suruhannya yang telah dipenjara itu dibebaskan terlebih dahulu. Syarik setuju.

Singkat cerita, sidang hari itu berjalan lancar. Musa mengakui kesalahannya dan siap mengembalikan haq al-‘adami Fulanah, yakni membuatkan lagi pembatas pagar dan mengganti seluruh kerusakan yang ada.

Kisah ini penulis sarikan dari kitab ‘Uyun al-Hikayat karya Ibnu Jauzi (Lihat: Jamaluddin Abi al-Farj bin Al-Jauzi, ‘Uyun al-Hikayat (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019), 245).

Lewat kisah ini, kita bisa belajar bagaimana hendaknya menjadi penegak hukum atau dalam makna luas, pihak berwenang yang memiliki kewajiban mengurus hajat hidup orang banyak.

Selain kecerdasan dan ketangkasan, sikap lain yang tak kalah penting harus mereka miliki adalah sikap adil. Sikap yang mengharuskan tidak ada sedikit pun sikap pilih kasih atau pandang bulu. Sikap yang membuat pemiliknya tidak berat sebelah dalam memutuskan suatu permasalahan. Pakar bahasa, al-Jurjani mendefinisikan adil sebagai berikut:

عبارة عن الأمر المتوسط بين الطرفي الإفراط والتفريط

 “Suatu ungkapan untuk suatu hal yang berada di tengah-tengah antara ifrath dan at-tafrith.” (Lihat: Muhammad al-Sayyid al-Syarif Al-Jurjani, Mu’jam al-Ta’rifat (Kairo: Dar al-Fadhilah, t.th), 124).

Al-Ifrath adalah membuat lebih sedikit dan lebih sempit. Sedangkan at-tafrith adalah menghambur-hamburkan (memboroskan) dan melampaui batas. Keduanya adalah hal yang berlawanan satu sama lain, yang satu terlalu kiri dan yang satu terlalu kanan. Adil adalah berada di tengah antara keduanya. Tidak condong ke salah satu sisi.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“…dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil…” (QS. an-Nisa’ [4]: 58)

Menurut al-Qurthubi, ayat ini ditujukan kepada para pemimpin, hakim dan orang-orang yang diberi amanat (Lihat: Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, al-Jami’ al-Ahkam al-Qur’an (Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 2003), V/258). Dapat kita pahami bahwa keadilan di sini artinya bisa sangat luas sekali. Bahkan, dalam lingkup sangat kecil sekalipun, kita adalah pemimpin bagi keluarga kita atau paling tidak, diri kita sendiri.

Seorang pemimpin, hakim atau sejenisnya harus bisa bersikap obyektif dan berada di tengah-tengah di antara banyak kepentingan yang ada. Satu-satunya yang dijadikan patokan adalah konstitusi hukum yang berlaku. Sehingga, yang benar harus diapresiasi dan siapa yang bersalah harus dihukum, siapapun orangnya.

Hukum tanpa sikap keadilan hanya akan menjadi tulisan di atas kertas belaka. Jauh panggang dari api, ia hanya akan menjadi sebilah pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Memang, adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, yakni lawan kata dari zalim. Artinya, adil tidak harus sama. Namun, jelas itu tidak berlaku dalam dunia hukum. Slogan “Di mata hukum, semua sama” adalah kalimat yang harus selalu diindahkan bersama. Bukankah nabi telah mecontohkan keadilan apa yang beliau lakukan bila ternyata Fathimah mencuri?

Mereka yang berlaku adil akan mendapatkan pahala yang luar biasa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ ، هُمُ الَّذِي يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهَالِيهِمْ وَمَا وُلُّوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil akan ditempatkan di sisi Allah Ta’ala di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, di sisi sebelah kanan ar-Rahman. Yaitu, orang-orang yang adil dalam menghukumi mereka, adil dalam keluarga mereka dan dalam mengerjakan tugas mereka.” (HR. Muslim)

Walhasil, keadilan adalah sikap utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Tanpa keadilan, suatu kepemimpinan atau pemerintahan hanya akan menjadi tempat legitimasi untuk berbuat semena-mena dan menguntungkan segelintir pihak saja. Semoga para pemimpin kita selalu dalam jalan keadilan dan pertolongan Allah SWT. Amin. 

M Nurul Huda

Seorang guru ngaji lulusan, Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, PesantrenBayt al-Qur’an Pondok Cabe, S1 PTIQ (prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lulus 2019), Pascasarjana S2 IIQ (jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2020-sekarang).

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com