Sejarah

Seribu Satu Cara Setan Menggoda Manusia

...

al-Ibar.net – Alkisah di suatu tempat, ada sebuah pohon yang dikeramatkan. Pohon itu disembah oleh masyarakat sekitar. Salah seorang penduduk (sebut saja Zaid) geram dengan hal itu. Baginya, itu termasuk salah satu bentuk kesyirikan (menyekutukan Allah).

Suatu hari Zaid berangkat untuk menebang pohon tersebut dengan niat “murni” karena Allah Swt. Jika pohon itu ditebang, maka masyarakat tak akan lagi berbuat kesyirikan. Begitu kurang lebih pikir Zaid.

Dengan membawa kapak, ia berangkat dengan penuh semangat. Setan yang mengetahui tindakan Zaid tidak tinggal diam. Bagi setan, tindakan Zaid itu harus digagalkan. Dalam wujud manusia, setan menghampiri Zaid di tengah jalan.

“Hai Zaid, mau ke mana dan apa yang akan kamu lakukan?” tanya setan pura-pura tidak mengetahui.

“Aku akan menebang pohon yang di sana itu agar tidak lagi disembah oleh masyarakat,” jawab Zaid tegas.

Setan segera mengambil kuda-kuda. Jurus pertama yang ia setan adalah jurus argumentasi. “Memang apa kerugian yang akan kamu terima bilamana banyak yang menyembah pohon tersebut?” tanya setan mencoba membuat Zaid ragu.

Zaid tak menjawab pertanyaan itu. Malahan, ia menegaskan untuk tetap menebang pohon itu. Kali ini, setan menggoda Zaid lagi. Namun tidak lagi menggunakan argumentasi, tapi tipu daya dunia (harta).

Begitulah setan, ketika ia gagal dengan satu cara, ia akan menggunakan cara lain. Ia memiliki seribu satu cara yang siap diluncurkan sebagai bahan menipu dan mengelabui manusia.

Allah Swt. berfirman:                             

ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ 

“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Q.s. Al-A’raf [7]: 17)

Terbaca dengan jelas dari terjemah ayat di atas bahwa ada empat sisi yang digunakan setan untuk menggoda manusia: depan, belakang, kanan, dan kiri. Yang dimaksud depan adalah motivasi keduniaan; belakang adalah provokasi untuk meninggalkan akhirat; kanan adalah bisikan untuk menjauhi kebaikan; sedangkan kiri adalah dorongan untuk melakukan keburukan. (Al-Baghawi, 1997: 217).

Empat sisi itu adalah yang hendaknya diantisipasi dan waspadai agar kebahagiaan rohani tidak sirna. Dunia harus diperhatikan secara proporsional dan dengan niat taqarrub illallah (mendekat kepada-Nya); akhirat hendaknya selalu menjadi prioritas; kebaikan wajib untuk selalu dikerjakan; dan keburukan adalah hal yang penting untuk senantiasa dijauhi.

Lantas mengapa ayat di atas tidak menyebutkan arah atas dan bawah? Karena setan tak akan bisa menggoda manusia ketika ia (rajin) menghadap arah atas untuk berdoa dan menghadap arah bawah untuk melaksanakan salat. (Ar-Razi, 1420 H: 215). Dua hal inilah yang akan menjadi benteng pertahanan manusia dari godaan setan.

Namun bukan setan kalau tak memiliki banyak cara. Bukan setan jika tak pandai dan pintar (baca: licik) merayu. Ia memiliki seribu satu cara agar manusia bisa tergoda olehnya. Yang terpenting baginya adalah keberhasilan.

“Bagaimana jika aku memberimu uang, asal kamu mau membatalkan niatmu menebang pohon itu? Setiap hari, aku akan memberimu uang dua dinar. Engkau akan menemukannya di pagi hari, di bawah bantal tidurmu,” begitu kurang lebih kata setan kepada Zaid.

Singkat cerita, Zaid tergoda. Ia menerima tawaran itu. Keesokan paginya, apa yang dijanjikan setan kemarin itu benar-benar terjadi. Zaid menemukan uang dua dinar di samping bantal tempatnya tidur. Ia sangat senang sekali.

Namun, esoknya lagi, keajaiban “duit bantal” itu tak lagi terjadi. Hati Zaid mulai gusar. Ia marah karena tak lagi mendapat uang secara gratis. Dengan semangat kemarahan (bukan lillahi ta’ala), Zaid berangkat menuju pohon kesyirikan itu menebangnya.

Di tengah jalan, setan kembali menemuinya. Setelah ditanyai setan, Zaid pun menjawab tentang tujuannya pergi menemui pohon itu. Kali ini setan dengan bangga mengatakan bahwa Zaid akan gagal.

“Kamu tak akan bisa menebang pohon itu,” kata setan mantap.

“Kenapa?” jawab Zaid penasaran.

Setan menjawab pertanyaan Zaid dengan penuh bangga, “Pada kesempatan pertama kemarin itu, niatmu benar-benar lillah (karena Allah Swt). Sehingga aku tak mampu mengalahkanmu. Itulah yang menyebabkan aku menyogokmu dengan uang dinar dan kamu pun menerimanya.”

“Namun, hari ini kamu marah ketika tak lagi menemukan uang dinar itu dan akan kembali menebang pohon itu. Niatmu bukan lagi lillahi ta’ala, namun semata-mata karena tak lagi mendapat uang gratis dariku,” tambah Setan. (Al-Jauzi, 2019: 129).

M Nurul Huda

Seorang guru ngaji lulusan, Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, PesantrenBayt al-Qur’an Pondok Cabe, S1 PTIQ (prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lulus 2019), Pascasarjana S2 IIQ (jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2020-sekarang).

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com