Tafsir

Inspirasi Surat an-Nahl Ayat 78: Relasi Pengetahuan dengan Keimanan dan Rasa Syukur

...

al-Ibar.net – Seorang teman bertanya apakah saya memiliki PDF buku terjemah (bahasa Indonesia) terkait fikih perempuan. Saya langsung menyuruhnya untuk mengunduh aplikasi iPusnas di Playstore. Saya jelaskan di sana, ia bisa membaca buku secara gratis dan legal.

Tak lama setelah itu, ia pun mengaku. Pertanyaan yang diajukan kepada saya itu sebenarnya adalah pertanyaan ibu-ibu di daerahnya. Selain iPusnas, juga saya informasikan masih ada dua lagi aplikasi serupa, setidaknya sepengetahuan saya, yaitu iBI Library dan iJakarta.

Pertanyaan ibu-ibu kepada teman saya itu menunjukkan betapa manusia sangat butuh informasi. Ia (informasi) adalah kebutuhan dasar bagi manusia. Ketika ia tidak tahu, maka secara naluri ia akan mencari. Jiwa pembelajar adalah naluri dasar setiap manusia.

Mengapa manusia belajar? Karena memang tak ada manusia yang terlahir dalam keadaan pintar. Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dia yang mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. al-Nahl [16]: 78)

Terbaca dari ayat di atas betapa adil dan kuasa-Nya Allah SWT. Karena terlahir tanpa mengetahui suatu apapun, maka Allah SWT memberinya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Ketiganya berfungsi sebagai perantara untuk belajar dan memahami apapun.

Tujuan dari pengetahuan itu adalah agar manusia beriman kepada Allah SWT dengan ilmu (bi al-‘ilmi). Tak hanya itu, manusia dituntut untuk bisa mensyukuri atas apa yang diberikan Allah SWT kepadanya. Begitu kurang lebih penjelasan dalam tafsir al-Muntakhab (Tim Lajnah Ulama Al-Azhar, al-Muntakhab fi Tafsir al-Qur’an al-Karim (Mesir: al-Majlis al-A’la, 1995), h. 398).

 

Secara detail, kandungan surat an-Nahl ayat 78 ini (lewat tafsiran ini) bisa dijabarkan menjadi tiga informasi penting berikut ini:

Keadilan Allah SWT

Karena terlahir dengan tidak mengetahui apapun dan agar manusia bisa belajar dan menjadi tahu, maka Allah SWT memberinya fasilitas berupa pendengaran, penglihatan, dan hati naluri. Ketiga hal ini menjadi alat yang digunakan untuk mendapatkan dan memperoleh informasi. Setelah semua tersedia secara gratis, sekarang kembali kepada manusianya: mau memanfaatkannya atau tidak.

Keadilan-Nya ini mencangkup semua hal. Bahkan, terhadap orang-orang yang secara fisik biasa dikatakan tidak sempurna. Dengan memanfaarkan salah satu ketiga fasilitas (pendengaran, penglihatan, atau hati nurani) di atas, mereka tetap bisa belajar dan menemukan pengetahuan (baca: bakat) sebagaimana yang Allah SWT titipkan kepada mereka. Tak jarang, bakat atau kemampuan mereka di atas rata-rata orang kebanyakan. Adalah tugas orangtuanya membantu menemukan bakat itu.

Landasan Keimanan

Pengatahuan yang didapatkan lewat ketiga fasilitas di atas, hendaknya mengantarkan manusia untuk semakin beriman kepada-Nya. Keimanan yang didasari dengan ilmu akan jauh berbeda dengan yang tanpa ilmu.

Dengan ilmu, keimanan seseorang akan kokoh dan kuat. Ia tidak saja yakin secara hati, namun mantap sejak dalam pikiran. Misalnya, ketika seseorang sedang terpuruk secara ekonomi, ia tidak akan pernah menggadaikan atau menukar keimanannya dengan kenikmatan duniawi. Mengapa? Sebab ia yakin bahwa itu adalah “hanya” ujian dari Allah SWT.

Mensyukuri Pengetahuan

Menyadari asal muasal manusia yang semula tidak mengetahiui apapun, kemudian mengetahui banyak hal akan membuat manusia lebih mudah bersyukur. Ditambah lagi, sarana yang ia gunakan untuk mendapatkan pengetahuan itu juga pemberian dari-Nya.

Menyukuri nikmat pengetahuan bisa dilakukan dengan banyak hal. Secara garis besar adalah ia tidak sombong dan mau menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan orang banyak. Apa yang ia ketahui berasal dari-Nya dan digunakan untuk beribadah kepada-Nya dengan cara berbuat baik kepada umat-Nya. Wallahu ‘lam.

 

M Nurul Huda

Seorang guru ngaji lulusan, Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, PesantrenBayt al-Qur’an Pondok Cabe, S1 PTIQ (prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lulus 2019), Pascasarjana S2 IIQ (jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2020-sekarang).

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com