Tafsir

Spirit Berbagi dalam QS. Al-Hasyr [59]: 9

...

al-Ibar.net – Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT salah satunya sebagai huda atau petunjuk bagi umat manusia. Karenanya, ia berisikan pedoman bagi manusia dalam kehidupannya sehari-hari, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia. Salah satu spirit yang diajarkan oleh Al-Quran adalah agar manusia tidak berlaku kikir terhadap orang lain. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr [59]: 9:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri juga memerlukan. Dan siapa yang dirinya dijaga dari kekikiran, maka merekalah orang-orang yang beruntung.

 

Sebab Turunnya Ayat

Pengetahuan mengenai asbabunnuzul akan membantu untuk memahami konteks ketika suatu ayat diturunkan. Al-Suyuthi dalam al-Durr al-Manthur (XIV/367-370) menyajikan beberapa riwayat yang menunjukkan sebab turunnya ayat ini, yang kalau boleh disimpulkan semuanya berupa pujian Allah SWT atas kemurahan hati kaum Anshar.

Di antara riwayatnya adalah: Pertama, riwayat dari Yazid bin al-Asham, bahwa dahulu kaum Anshar pernah meminta Rasulullah SAW untuk membagi hasil tanah yang mereka punyai untuk kaum Muhajirin. Rasulullah SAW tidak mau melakukannya dengan menjawab, “Tidak, cukup seperlunya saja”. Lalu mereka (Anshar) ridha kepada perintah Rasulullah SAW dan berbagi tanah, hasil panen, hingga bahan bangunan yang mereka miliki untuk kaum Muhajirin. Maka, ayat ini turun untuk memuji akhlak mulia kaum Anshar agar menjadi teladan bagi umat kemudian.

 

Kedua, riwayat Imam al-Bukhari-Muslim dan lain-lain dari Abu Hurairah, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW kedatangan seseorang yang sedang kelaparan, lalu Rasulullah SAW mendatangi istri-istrinya, namun tidak ada apapun untuk diberikan. Lalu Rasulullah SAW menawarkan kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang mau menjamu orang ini malam ini, maka dia akan dirahmati Allah SWT”. Seorang sahabat dari kalangan anshar mengajukan diri untuk menjamu tamu tersebut, walaupun dirumahnya hanya tersisa satu porsi makanan saja untuk anak kecilnya.

 

Ketulusan Hati Kaum Anshar

Al-Baidhawi dalam Anwar al-Tanzil (V/200), menjelaskan bahwa pada bagian awal ayat ini Allah SWT menyebut kaum Anshar sebagai kaum yang menempati Madinah dan teguh memegang keimanan di dalam hatinya, bahkan mereka beriman sebelum kaum muhajirin hijrah ke Madinah, dan mereka merindukan kedatangan Rasulullah SAW di Madinah.

 

Mereka (Anshar) menyambut rombongan Rasulullah SAW beserta kaum Muhajirin dengan kecintaan yang membara, tak terbesit sedikitpun keberatan di hati mereka atas kedatangan kaum Muhajirin, dan tak tersisa sedikitpun ruang di hati mereka untuk iri dan dengki atas apa yang telah diberikan kepada kaum Muhajirin berupa fai’ dan selainnya.

 

Kaum Anshar tak segan untuk berbagi kepada kaum Muhajirin yang sudah mereka anggap sebagai saudaranya sendiri, bahkan menurut penuturan al-Baidhawi ada seorang sahabat Anshar (punya dua istri) yang sampai menceraikan seorang istrinya untuk kemudian dinikahkan kepada sahabat Muhajirin.

 

Semua itu membuktikan benar dan besarnya cinta kaum Anshar kepada Rasulullah SAW dan semua saudaranya sesama Muslim. Cinta sejati memang memerlukan pembuktian, dan itu dibuktikan dengan ketulusan dan kerelaan berbagi yang ditunjukkan kaum Anshar kepada para sahabat yang berhijrah bersama Rasulullah SAW ke Madinah.

 

Satu Sifat Mulia: al-Ithaar

Salah satu sifat mulia yang juga ditunjukkan oleh ayat ini adalah al-ithaar. Menurut al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Munir (XIV/458) al-ithaar berarti taqdim al-ghair ‘ala al-nafs wa huzhuzhiha al-dunyawiyyah, wa al-raghbah fi al-huzhuzh al-diniyyah, yakni mengutamakan orang lain daripada kepentingan diri sendiri dalam urusan-urusan duniawi demi keuntungan-keuntungan di akhirat.

 

Dalam hal ini, kaum Anshar tidak hanya dermawan. Lebih dari itu, mereka bahkan memberikan hal-hal yang mereka sendiri membutuhkannya. Maka dari itu, Syekh al-Sya’rawi dalam tafsirnya membedakan antara al-jud yang berarti memberikan ‘sebagian’ yang dimiliki dan al-ithaar yang berarti memberikan semua yang dimiliki, bahkan pada saat mereka sendiri berhajat pada hal tersebut.

 

Sikap mendahulukan orang lain dalam urusan dunia untuk mendapatkan kebaikan akhirat ini merupakan salah satu akhlak mulia yang dicontohkan oleh para sahabat dan para salaf al-shalih. Namun demikian, anjuran sikap mendahulukan orang lain ini tidak berlaku pada urusan-urusan ukhrawi. Para ulama dalam hal ini mengatakan hukumnya makruh jika mendahulukan orang lain dalam perkara ukhrawi.

 

Orang yang Beruntung: Mereka yang Dijaga dari Kekikiran

Pada ayat ini Al-Quran menggunakan kata syuhha yang mana seringkali diterjemahkan sebagai kekikiran atau al-bukhl. Namun menurut al-Sya’rawi kata syuh itu sebetulnya lebih umum dan lebih parah daripada al-bukhl. Jika al-bukhl itu hanya ‘sekedar’ kikir, maka syuh lebih dari sekedar pelit. Ia tak mau hartanya barang sedikitpun terlepas dari tangannya. Bahkan, bisa dikatakan al-bukhl itu bermula dari al-syuh.

 

Karenanya, sungguh beruntung orang yang Allah SWT jaga dirinya dari sifat kikir, karena pelit dan kikir itu tidak akan membawa kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia ia tak akan disenangi manusia, di akhirat ia sukar mendapatkan keselamatan.

 

Manusia yang senang berbagi itu tidak hanya akan mendapatkan ridha Allah SWT kelak, namun juga cenderung akan disenangi manusia lain saat di dunia. Bahkan, masyarakat yang baik tak akan terwujud kecuali dengan adanya ta’awun atau saling tolong-menolong satu sama lain. Rasulullah SAW bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya akan tumbuh cinta di antara kalian” (HR. Bukhari).

 

Penutup: Ambil ‘Ibrah dari Kisah-Kisah Al-Quran

Syekh Mutawalli al-Sya’rawi dalam kitabnya Surah al-Kahf menjelaskan bahwa ada banyak kisah yang dipaparkan dalam Al-Quran itu tidak menyebutkan siapa tokohnya, di mana tempatnya maupun kapan waktunya. Hal ini menurut beliau dikarenakan setiap kisah dalam Al-Quran itu bertujuan untuk memberikan ibrah atau pelajaran, bukan sekedar untuk mengisahkan rentetan peristiwa sejarah.

 

Dari kisah kaum Anshar ini kita bisa belajar tentang ketulusan, keimanan, kedermawanan dan semangat berbagi yang tinggi. Sifat dermawan ini pula kedepannya yang akan mengikis sifat cinta dunia dan keengganan untuk berinfak yang pada dasarnya ada dalam hati setiap insan. Pada akhirnya, semua sifat bagus ini akan mengundang pujian dari Allah SWT. Wallahu A’lam.

Achmad Syariful Afif

Sedang menempuh pendidikan strata-1 (S1) pada jurusan ilmu Alquran dan Tafsir, Fakultas Ushuludin & Filsafat di UIN Sunan Ampel Surabaya

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com