Tafsir

Larangan Memperjualbelikan Ayat-ayat Tuhan

...

al-Ibar.net – Agama adalah barang suci yang hendaknya diperlakukan secara suci. Namun sayangnya, praktik di lapangan tidak demikian. Ada segelintir orang, baik Muslim atau bukan, yang memanfaatkan agama sebagai bahan untuk mencari keuntungan duniawi. Entah itu urusan politik, bisnis, sosial atau yang lain.

Dalil yang sering digunakan untuk menentang hal itu adalah ayat-ayat yang berbicara tentang larangan memperjualbelikan ayat-ayat Tuhan. Salah satunya adalah berikut ini:

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

“Dan berimanlah kamu kepada apa (Al-Quran) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat) yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah, dan bertakwalah hanya kepada-Ku.” (QS. al-Baqarah [2]: 41)

Salah satu inti dari ayat di atas adalah larangan “menjual ayat-ayat Tuhan dengan harga yang murah”. Apa maksudnya?

Sebagaimana ditulis al-Baghawi dalam tafsirnya, yang menjadi obyek ayat ini adalah para petinggi Yahudi. Kala itu, setiap tahun, mereka selalu mendapatkan semacam pajak atau upeti dari pengikut mereka.

Ketika Nabi Muhammad SAW hadir dengan membawa agama Islam, mereka sebenarnya mengetahui hal itu, hanya saja sengaja menutupinya. Mereka takut para pengikutnya akan berpindah dari mereka bila mengetahui kebenaran itu, dan jsutru berbalik arah mengikuti Nabi Muhammad SAW. Hal ini tentu akan merugikan mereka secara finansial (Lihat: Al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), I/109-110).

Di sisi lain, ayat ini juga merupakan larangan berpaling dari petunjuk-petunjuk Al-Quran demi untuk mengejar keuntungan duniawi (harta dan kedudukan). Begitu kurang lebih penjelasan dalam tafsir Kemenag (Lihat: Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya (Jakarta: Departemen Agama RI, 2008), I/95).

Padahal, keuntungan-keuntungan yang diperoleh itu tidaklah sebanding dengan hidayah-hidayah agama (nabi dan ajarannya). Oleh karenanya, ia—sebanyak apapun—akan dinilai sebagai hal yang sedikit (tsamanan qalilan). Orang yang demikian tak akan mendapat rida Allah SWT. Sebaliknya, ia akan memperoleh siksa-Nya, baik di dunia maupun di akhirat (Lihat: Ahmad bin Musthafa Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Mesir: Musthafa al-Babiy, 1946), I/101).

Lewat penjelasan-penjelasan di atas, kita bisa berkata bahwa yang dimaksud dengan “menjual ayat Tuhan” adalah tidak menjalankan ajaran agama karena kepentingan dunia (takut tidak mendapatkannya atau takut kehilangan kenikmatan yang selama ini telah didapat).

Bentuk atau wujud dari “memperjualbelikan agama” jelas sangat beragam. Mulai dari melakukan politisasi agama, sibuk bekerja sehingga melupakan ibadah, atau bahkan—yang saat ini banyak terjadi—mengadu domba para ulama dalam keberagamaannya untuk dijadikan bahan konten di media sosial.

Secara tegas, Nabi Muhammad SAW telah mewanti-wanti terkait hal orang-orang yang rela menghamba pada sesuatu yang duniawi ini:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba qathifah (baju dari kain beludru) dan khamilah (pakaian berbentuk persegi empat). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”. (HR. al-Bukhari).

Dapat dipahami bahwa agama adalah pegangan hidup yang hendaknya selalu dipegang agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia di akhirat. Bukan alat yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesenangan dunia.

Sebenarnya, mendapatkan keuntungan dan kebahagiaan duniawi lewat agama juga direstui agama. Namun demikian, tentu saja bukan dengan cara memperjualbelikan ayat-ayat Tuhan sebagaimana dijelaskan di atas, melainkan dengan cara mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Dengan cara itu, niscaya seseorang akan menjadi manusia paling bahagia dan paling “kaya”. Bahkan tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Meski harus diakui bahwa kebahagiaan dunia yang diberikan Allah SWT itu tidak selalu berkaitan dengan materi.

Dari penjelasan di atas, apakah lantas bisa disimpulkan bahwa kita tidak boleh mengambil imbalan dari mengajarkan agama? Bukankah adalah hal wajar bila kita mengajar dan mendapatkan gaji atau upah? Penjelasan ini akan penulis sajikan dalam tulisan terpisah. Insyallah.

‘Ala kulli hal, memperjualbelikan agama adalah hal yang terlarang dan karenanya harus dijauhi. Makna memperjualbelikan agama yang dimaksud oleh al-Quran sungguh sangat luas, bisa berupa memanfaatkan agama secara langsung untuk mendapatkan keuntungan duniawi, atau terlalu sibuk dengan dunia sehingga melupakan ajaran agama. Wallahu a’lam.

M Nurul Huda

Seorang guru ngaji lulusan, Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, PesantrenBayt al-Qur’an Pondok Cabe, S1 PTIQ (prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lulus 2019), Pascasarjana S2 IIQ (jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2020-sekarang).

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com