Tafsir

Meneladani Karakter Kesatriaan dan Perjuangan Ashabulkahfi: Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 16-17

...

al-Ibar.net Ada sebuah hikayat masyhur yang diabadikan Al-Qur’an yang menjelaskan enam pemuda taat yang bersembunyi di gua, mereka ini disebut Ashabulkahfi. Setelah sebelumnya, mereka dipaksa menyembah berhala oleh seorang raja dan diiming-imingi harta dan kemewahan dunia. Namun para pemuda tersebut memilih kukuh dengan imannya. Oleh karena itu, demi menjaga diri dari kejahatan sang raja, mereka memilih pergi dari kediamannya.

 

Dalam surah Al-Kahfi ayat 16-17, Allah berfirman:

وَإِذِ ٱعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأْوُۥٓا۟ إِلَى ٱلْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِۦ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا – وَتَرَى ٱلشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَٰوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ ٱلْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ ٱلشِّمَالِ وَهُمْ فِى فَجْوَةٍ مِّنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ۗ مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

(16) Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu. (17) Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan baran gsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (QS. Al-Kahfi (18): 16-17)

 

Ayat di atas menjelaskan perintah Allah kepada Ashabulkahfi agar menjauhi kekejaman raja dan pengikutnya dengan mendeportasi diri ke dalam gua. Di dalam gua, mereka akan melihat kebesaran Allah dan mendapat limpahan rahmat dari-Nya. Pelajaran yang dapat kita ambil bahwa di mana ada kemaksiatan, maka kita diperintah untuk segera menjauhinya, agar dalam beribadah kepada Allah tidak diganggu oleh kemaksiatan-kemaksiatan di sekitar kita.

 

Tafsir Al-Kahfi Ayat 16-17

Syekh Muhammad Sayyid Thantawi dalam tafsirnya, Al-Wasith, menafsiri sebagai berikut:

1. Kata “i’tizal” berarti mengasingkan diri dari sesuatu secara fisik dan hati. Meminjam istilah dalam tasawuf yakni uzlah.

2. Kata “mirfaqan” artinya pemanfaatan atau mengambil manfaat (al-intifa’). (Tafsir Al-Wasith/8/483-484)

 

Para pemuda tersebut menyatakan kalimat tauhid kemudian memilih menjauhi kaum musyrikin setelah bernegosiasi dengan mereka. Para pemuda berkata, “Karena raja kalian kafir dan mengajak kepada kekafiran, kami lebih memilih menyepi ketimbang mengikuti kalian yang menyembah kepada selain Allah. Kami akan berlindung ke dalam gua”. Mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal dan menetap di sana.

 

Menurut pandangan Abu Hasan Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun, menukil pernyataan Al-Kalabi terkait redaksi “وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا” terdapat dua makna: Kenyamanan dan penghidupan dari Allah. Dari dua makna di atas, juga mengandung arti pertolongan dan kebebasan. 

 

Lanjut Al-Mawardi, beliau menafsiri ayat 17 dalam dua poin. Poin pertama, mereka akan ditunjukkan matahari terbit dan matahari terbit dari jalan masuk gua, yakni arah kanan mereka. Adapun poin yang kedua, juga terdapat tiga pendapat, di antaranya:

1). Menurut Al-Kisa’i dan Al-Farra’, arti melintas yaitu berhadapan. Matahari berjalan sejajar di hadapan mereka.

2). Lajur matahari “memotong” dari kanan ke arah kiri mereka, seperti saat kita mengucap “Aku memotong sesuatu dengan gunting”.

3). Allah memberi mereka kemudahan melalui sorot matahari, mereka dapat memanfaatkannya hingga matahari tenggelam, mendapat bantuan dana (dirham), karena yang mereka diami adalah tempat yang sepi. Konon, tempat tersebut tidak memiliki atap (langit-langit), maka itulah mereka dapat melihat matahari dan sinarnya yang menyengat saat melintas di atas mereka. 

 

Adapun arti kata “fajwah”, Al-Mawardi mengutip ada empat pendapat: a) Qatadah: tanah lapang atau ruang terbuka; b) Said bin Jubair: ruangan dalam gua; c) tempat yang sunyi; d) Al-Akhfasy: sisi gua yang luas. (An-Nukat wa Al-‘Uyun/3/289-291)

 

Dalam catatan Syekh Mutawali Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya, kata “al-mirfaq” berarti segala kebutuhan hidup yang dibutuhkan manusia. Ketika Allah menidurkan mereka di dalam gua, Allah memberi apa yang mereka butuhkan. Dan tatkala mereka terbangun dari tidur, semua yang mereka inginkan telah ada di depan mereka. 

 

Perintah menyelamatkan diri kepada Ashabulkahfi bukanlah ke negeri seberang, melainkan ke dalam gua sempit di suatu gunung, di mana di dalamnya tidak cukup untuk bekal hidup sehari-hari. Karena itulah Allah memberi tahu kepada mereka tentang kebenaran. Mereka dilarang berpikiran bahwa, “Gua itu tempat yang sempit, lantas bagaimana kami bisa hidup di dalamnya?”. Sesungguhnya mereka dicatat sebagai orang-orang yang berhijrah, mencari perlindungan dan berserah diri kepada Allah. (Tafsir Asy-Sya’rawi/14/8856-8857)

 

Lawan sempit ialah lapang dan membentang. Maka dalam sesuatu yang sempit, ada sesuatu yang luas di dalamnya. Para Ashabulkahfi yakin bahwa rahmat Allah akan turun kepada mereka, setelah mereka berhijrah mencari keselamatan diri. Mereka yakin Allah tidak akan mengecewakan hati mereka. Di dalam gua, Allah akan mencurahkan keluasan rahmat-Nya meskipun di tempat yang sangat sempit.

 

Mufasir Indonesia asal Rembang, K.H. Bahauddin Nursalim, dalam suatu pengajian menjelaskan kepada hadirin, bahwa tips menjaga diri dari perilaku maksiat adalah dengan berhijrah atau uzlah, maksudnya mencari tempat lain yang lebih aman untuk beribadah kepada Allah. Gus Baha’, panggilan akrabnya, juga menjelaskan bahwa pada masa Nabi saw., para sahabat diperintah agar hijrah ke Habasyah untuk menghindari kezaliman orang-orang kafir. 

 

Beliau juga menganalogikan, sejatinya seorang ulama (yang takut kepada Allah) ialah termasuk orang yang uzlah. Pasalnya, meskipun secara fisik berkumpul dengan manusia lain, tetapi dalam hatinya hanya ada Allah semata. Para ulama tidak terganggu dengan perkara duniawi yang mengandung kesenangan-kesenangan. 

 

Perilaku Ashabulkahfi ini layak diteladani dari sisi kesatriaannya, berani mengagungkan kalimat tauhid bahkan dalam kondisi nyawa yang sedang dipertaruhkan hidup dan mati. Termasuk sifat kesatria yakni berani meninggalkan tanah asal, keluarga, dan masyarakat untuk berjuang mengabdi demi agama, bangsa, dan negara.

Muhammad Ilham Fikron

Sahalian (Santri Mbah Sahal), Alumnus Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) & Alumnus Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh Kajen Pati.

Bisa disapa di Twitter: ilhamfikron & Instagram: phickolobabaraya

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com