Tasawuf

Seri Kajian Tasawuf (1); Sejarah Lahirnya Tasawuf

...
Sejarah lahirnya tasawuf/fr.reepik

Mengenai asal muasal kata tasawuf, banyak spekulasi berkembang di kalangan ulama, baik tentang asal kata maupun asal tradisi, baik tentang spekulasi sebagai bahasa Arab atau non Arab, bahkan tentang spekulasi apakah tasawuf berasal dari tradisi Islam atau non Islam.

Abū al-Fatḥ al-Bustī (330-401H/942-1010M) menulis syair untuk meyakinkan bahwa tasawuf berasal dari kata ṣafā: jernih, bening. Ṣūfī mengikuti wazan ‘Ūfī. Mungkin dari kata tersebut al-Shaykh Muḥammad Mutawallī al-Sha‘rāwī (1911-1998M) mendasarkan pendapatnya bahwa tasawuf berasal dari akar kata “ṣāfā”. Sufi, dengan demikian, tuṣāfī Allāh fa yuṣāfīka Allāh, engkau jernihkan (cinta) kepada Allah, maka Allah menjadi jernih bagimu.

Tak hanya dari segi bahasa, pengertian tasawuf secara iṣṭilāḥī juga mengalami banyak variasi pendapat. Abū al-Ḥasan al-Shādhilī memaknai tasawuf sebagai bentuk latihan diri atas sifat kehambaan untuk membawanya pada ketetapan Ketuhanan.

Yang agak lebih lengkap adalah definisi dari Ibn ‘Ajībah, bahwa tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui cara sulūk menuju Yang Maha Kuasa, membersihkan hati dari berbagai hina, menghias hati dengan aneka utama, pada mulanya ilmu, di tengahnya amal, dan di penghujung adalah pemberian.

Beberapa definisi tasawuf yang bervariasi itu pada intinya mengarah pada satu hal yang disepakati bahwa tasawuf merupakan implementasi salah satu dari tiga pilar penting dalam beragama, yaitu pilar Iman, Islam, dan Iḥsān. Iman berkembang menjadi Ilmu Kalam atau teologi, Islam menjadi sharī‘ah, dan Iḥsān menjadi tasawuf. Ketiga pilar itu berkembang sebagai disiplin ilmu dan dipraktikkan secara akademis setelah melewati abad pertama perjalanan sejarah agama Islam.

Pertanyaan penting mengapa pada zaman Sahabat tidak dikenal sebutan ulama sesuai dengan disiplin ilmu, sekurang-kurangnya, yang mencakup ketiga-tiganya atau salah satu dari tiga pilar tersebut, al-Qushayrī menyebutkan pada masa Sahabat hanya dikenal satu sebutan untuk menggambarkan gelar ulama, yaitu “Sahabat”. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan gelar “Sahabat” tidak mutakallīm, faqīh, mufassir, muḥaddith, maupun ṣufī, maka wajar jika pada zaman itu gelar selain Sahabat tidak diperlukan.

Sederhananya, semua Sahabat adalah mutakallīm, faqīh, mufassir, muḥaddith, maupun sūfī secara ma‘nawī, tidak dalam kategori ilmu yang dikenal di zaman modern. Hal ini dapat dibuktikan dengan mudah bahwa sejarah yang terekam dalam kitab-kitab hadis maupun tārīkh menjelaskan posisi dan status para Sahabat sebagai referensi utama yang paling otoritatif di semua disiplin ilmu agama, tentu termasuk dalam hal ini ilmu tasawuf, di mana silsilah semua ṭarīqah dalam tradisi tasawuf berujung pada dua Sahabat utama, yaitu Abū Bakr al-Ṣiddīq dan ‘Alī bin Abī Ṭālib. Dari kedua Sahabat tersebut lahir dua arus besar dalam sejarah tasawuf, yang dikenal dengan “Bakriyyah” dan “‘Alawiyyah”.

Diriwayatkan dalam banyak hadis yang sangat masyhur bahwa sepeninggal Nabi Muhammad saw., Abu Bakr menenangkan kaum muslimin dengan berpidato, “Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya dia telah meninggal. Siapa yang menyembah Allah swt, sesungguhnya Dia hidup dan tak akan mati.” Menurut al-Wāsiṭī ucapan dari mulut mulia Abū Bakr itu adalah ungkapan sufistik pertama yang menandai kelahiran tasawuf.

‘Alī bin Abī Ṭālib pernah ditanya mengenai Iman. Dia menjawab dengan lugas bahwa iman dibangun di atas 4 (empat) pilar: kesabaran, keyakinan, keadilan, dan jihad. Lalu diterangkan pula bahwa keempat pilar tersebut masing-masing dicapai dengan cara melewati 10 (sepuluh) maqām (station). Abū Naṣr al-Ṭūsī berkomentar, penjelasan ‘Alī bin Abī Ṭālib itu untuk pertama kalinya menerangkan teori mengenai aḥwāl dan maqāmāt.

Dua tokoh besar Sahabat itu dalam perjalanan waktu membentuk dua arus besar transmisi kesufian. Setelah melewati kurun waktu dua abad lebih dua arus tersebut bertemu pada sosok penting, yaitu Abū al-Qāsim al-Junayd al-Baghdādī (221-297H/835-910). Di dalam kitab-kitab sejarah tasawuf, dia dijuluki Sayyid al-Ṭā’ifah (pemimpin golongan), ada pula yang menyebutnya Shaykh al-Ṭā’ifatayn (guru dua golongan).

Abū al-Qāsim al-Junayd al-Baghdādī

Abū al-Qāsim al-Junayd al-Baghdādī bukanlah sufi generasi awal. Dalam Ṭabaqāt al-Ṣūfiyah, Abū Bakr al-Sulamī (325-412H/937-1021M) menulis bahwa pelopor gerakan tasawuf adalah Fuḍayl bin ‘Iyāḍ (107-187H/803M). Kitab Ṭabaqāt karya al-Sulamī adalah kitab biografi tertua yang naskahnya ditemukan dan berhasil dicetak. Kitab ini berisi riwayat hidup singkat ulama tasawuf yang disusun dalam lima ṭabaqah, layer, atau lapisan. Mungkin untuk memudahkan kajian ṭabaqah dapat disebut sebagai angkatan, sekalipun penyebutan angkatan tidak menggambarkan suatu rentang waktu tertentu.

Abū al-Qāsim al-Junayd al-Baghdādī bukanlah nama yang tergolong dalam angkatan pertama versi al-Sulamī. Angkatan pertama adalah nama-nama sufi antara lain al- Fuḍayl bin ‘Iyāḍ (107-187H/803M), Dhū al-Nūn al-Miṣrī, Ibrāhīm bin Adham, al-Ḥārith al-Muḥāsibī (170H/781M-243H/857M), dan lain-lain. Nama al-Baghdādī sendiri termasuk angkatan kedua. Meskipun bukan termasuk dalam kelompok generasi awal, al-Baghdādī tergolong istimewa. Dari sosoknya lahir 4 (empat) ordo sufistik, lazim disebut al-Aqṭāb al-Arba’ah, yang bertahan hingga era kini, yaitu al-Rifā’ī, al-Jīlānī, al-Dasūqī, dan al-Badawī.

Al-Baghdādī berjasa dalam mengembangkan tasawuf sebagai kecenderungan baru dalam epistemologi ilmu-ilmu agama, mengharmonisasi penghayatan sufistik dengan syariah, padahal dua hal itu dipersepsi bertentangan di era sebelumnya. Sangat mungkin hal itu disebabkan pengaruh gurunya, yaitu al-Ḥārith al-Muḥāsibī.

Di tangan al-Muḥāsibī, tasawuf dapat didekati dengan suatu metodologi yang rasional, antara lain karena faktor latar belakang al-Muḥāsibī sebagai fikih dan ulama kalam, ditempa dalam tradisi dan cara berfikir mazhab Iraq di bawah bimbingan al-Ḥasan al-Baṣrī, pemuka Tābi’īn ahli fikih, ilmu kalam, hadis, dan sufi yang berpengaruh, di mana dasar-dasar pemikiran kalam dikembangkan secara salah oleh murid-muridnya yang menamakan kelompoknya dengan sebutan Mu’tazilah.

Basra adalah tempat di mana al-Muḥāsibī mematangkan pendidikannya, sebelum berpindah ke Baghdad, tempat dia membangun sekolah pemikiran dan tasawuf. Di samping itu, al-Muḥāsibī terekam oleh al-Asnawī, sebagaimana ditulisnya dalam Ṭabaqāt al-Shāfi`īyyah, tergolong sebagai Aṣḥāb al-Shāfi‘ī. Maka wajar jika pada diri al-Muḥāsibī terhimpun kualitas ulama fikih, ilmu kalam, tasawuf, hadis, sekaligus.

Kualitas tersebut lalu menurun kepada muridnya, al-Junayd al-Baghdādī. Sayangnya tidak ada kitab yang secara utuh menggambarkan al-Junayd. Akan tetapi pelajaran sufistiknya menyebar ke hampir kitab-kitab tasawuf pada era selanjutnya. Al-Qushayrī menukil ungkapan al-Junayd: “Kita mengambil ilmu ini (tasawuf) bukan tentang apa dan siapa, tapi tentang rasa lapar , memutus dunia, yang kita cintai dan kita anggap baik.” Asketisme seperti ini jelas bersumber dari koneksi spritual guru-gurunya, karena memiliki jejak yang sama dengan asketisme al-Ḥasan al-Baṣrī.

Yang membedakan al-Junayd dengan sufi lainnya sangat mungkin karena usahanya yang keras untuk menundukkan ajaran tasawuf di bawah al-Qur’an dan Hadis, bahkan secara tekstualis. Oleh karena itu dia mengungkapkan dalam banyak jalur periwayatan, di antaranya yang dinukil oleh Abū ‘Alī al-Rūdhbārī bahwa al-Junayd mengatakan: “Madhhabunā hādhā muqayyad bi usūl al-kitāb wa al-sunnah” (mazhab kita ini [tasawuf] terikat dengan al-Qur’an dan al-Sunnah). Dengan demikian tasawuf tidak dipersepsi secara kontroversial, seperti yang dilakukan oleh sufi lain, termasuk salah satunya muridnya yang bernama Abū Manṣūr al-Ḥallāj.

Kemahiran di dalam mengkombinasikan tasawuf di bawah panduan al-Qur’an dan al-Sunnah menjadikan al-Junayd memiliki pengaruh luas, yang dapat kita rasakan hingga saat ini. Semoga kita mendapatkan keberkahan dari karamahnya. Amin.

H. Anwar Sadad

Penulis adalah Anggota DPRD Jatim 2004, 2009, 2014, 2019. Dewan Pakar IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) dan Aktivis Dakwah.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com