Tasawuf

Kisah Seorang Sufi yang “Menemukan Allah” Kembali

...

al-Ibar.net – Kesedihan adalah hal wajar yang dialami manusia. Semua orang pasti pernah mengalaminya, bahkan Nabi Muhammad SAW sekali pun. Meski demikian, kesedihan yang dialami oleh seseorang pasti beragam, baik dari aspek waktu atau penyebab dan lain-lainnya.

Kesedihan macam ini juga dialami oleh para ulama sufi. Namun berbeda dengan kebanyakan orang, mereka sedih bukan karena kehilangan atau ketidakmampuan memiliki hal-hal duniawi. Bagi mereka, hal-hal yang layak dijadikan alasan untuk bersedih adalah ketika “kehilangan Allah SWT” dari dalam hati mereka.

Di bawah ini adalah kisah kesedihan salah seorang sahabat Dzun Nun al-Mishri yang sampai membuatnya linglung dan seperti orang gila. Namun, Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, ia menemukan solusi untuk menghilangkan kesedihannya itu. Berikut kisahnya: 

Satu waktu, salah satu sahabat Dzun al-Nun ada yang mengalami gangguan ingatan. Anggap saja bernama Fulan. Ia sedang berjalan ke sana kemari tanpa arah dan tujuan. Dalam banyak kesempatan, ia acapkali berkata (baca: mengoceh), “Dimana hatiku?”, “Siapa yang menemukan hatiku?”. Dua kalimat itu selalu diulanginya lagi dan lagi.

Keadaannya yang seperti orang linglung itu dimanfaatkan oleh anak-anak kecil di sekitarnya. Mereka (anak-anak itu) tidak saja mengganggu Fulan, namun juga melemperinya. Mereka menganggapnya sebagai orang gila.

Untuk menghindar dari gangguan anak-anak itu, pada satu kesempatan, ia terpaksa berjalan melewati sebuah gang. Karena lelah, ia beristirahat. Saat itu, tanpa sengaja ia mendengar suara seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. Fulan tak mengetahui apa penyebabnya, yang jelas sang ibu sedang marah besar, bahkan sampai memukuli tubuh anaknya. Si anak hanya bisa menangis mendapat perlakuan itu.

Sangking marahnya, anak itu sampai diusir dari rumah. Setelah si anak berada di luar, sang ibu segera menutup pintu. Kini, anak itu berada di luar rumah sendirian. Ia tak tahu akan kemana.

Setelah kondisinya agak tenang, anak itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Keadaan yang begitu lelah membuatnya tertidur denga posisi kepala bersandar ke pintu rumah.

Pemandangan itu membuat Fulan semakin tertarik untuk melihat kelanjutannya. Di satu sisi ia merasa kasihan, namun di sisi yang berbeda, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya memandangi dan memantau tubuh anak kecil yang sedang tidur itu.

Beberapa waktu kemudian, anak itu terbangun. Ia kembali menangis. Juga, ia merengek kepada sang ibu agar dia iba dan berkenan membukakan pintu, “Ibu, jika pintunya engkau tutup, siapa yang akan membukakannya untukku? Siapa yang akan menyayangiku lagi jika engkau marah kepadaku? Siapa yang akan membantuku mendekatimu jika kamu sendiri malah menjauh dariku?”

Mendengar rengekan itu, sang ibu mencoba melihatnya dari celah pintu. Rengekan itu ternyata berhasil membuatnya benar-benar merasa iba. Ia tak tega melihat kondisi anaknya. Pintu rumah pun dibuka. Sang ibu segera memangku, memeluk dan mencium anaknya.

“Anakku, ibu marah seperti ini karena ulahmu sendiri. Seandainya kamu menuruti apa kata ibu, ibu pasti tak akan marah,” kata sang ibu menasihati.

Dialog ibu-anak itu ternyata menginspirasi Fulan untuk memecahkan masalah yang selama ini ia hadapi: kehilangan hati. Fulan mengiaskan masalahnya dengan masalah anak kecil itu. Ia berteriak kencang dan membuat orang-orang pun datang menghampiri. Mereka bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Fulan.

“Kini, aku telah menemukan hatiku kembali,” jawabnya singkat.

Dalam satu kesempatan saat bertemu dengan Dzun Nun, Fulan berterus terang, “Wahai Dzun Nun, aku telah menemukan kembali hatiku di gang dekat rumah si Fulanah itu”. Kalimat yang terakhir ini pun ia ulangi terus manakala ia merasakan kesedihan.

*Disarikan dari Ibn al-Jauzi, Uyun al-Hikayat (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2019), 310.

M Nurul Huda

Seorang guru ngaji lulusan, Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, PesantrenBayt al-Qur’an Pondok Cabe, S1 PTIQ (prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lulus 2019), Pascasarjana S2 IIQ (jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 2020-sekarang).

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com