Tasawuf

Kemuliaan Orang yang Bersedekah

...

al-Ibar.net – Nuansa lebaran atau Hari Raya Islam merupakan moment yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Banyak orang berbondong-bondong bersedekah dalam moment ini. Mulai dari berbagi parcel, sembako, ampao, kue, bahkan makanan dan uang.  Begitu indah Islam mengajarkan umatnya tentang pentingnya berbagi. Namun, alangkah baiknya jika sedekah bukan hanya di moment lebaran. Sebab di balik sedekah, secara otomatis seseorang telah menyempurnakan dirinya tentang keimanannya. Seorang yang bersedekah, telah membenahi dirinya tentang hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia. Berikut adalah kemuliaan orang yang bersedekah:         

 

Sebagai kesempurnaan iman dan Islam

Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi alam semesta. Karena itu, Islam bukan hanya mengajarkan bagaimana seorang Muslim berhubungan dengan tuhannya, tapi juga mengajarkan bagaimana seorang Muslim berhubungan baik dengan keluarga, tetangga dan masyarakatnya. Bisa dilihat bahwa rasa empati sosial dalam ajaran Islam bukan hanya dalam wacana-wacana kosong, tapi juga diwujukan dengan tindakan-tindakan nyata.

 

Oleh karenanya, orang yang mengaku beragama Islam, beriman, dan mengaku bertakwa ditantang oleh Allah SWT untuk melakukan perbuatan baik itu sebagai bukti keimanan, keislaman, dan ketakwaan. Jika perbuatan yang diperintahkan tersebut bisa dilakukan dengan baik maka mereka pantas disebut mukmin, Muslim dan muttaqin. Allah SWT berfirman dalam al-Quran:

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِين

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Imran: 133).

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 134).

 

Tanda berprasangka baik kepada Allah SWT

Orang yang mau mengeluarkan sebagian rejekinya untuk disedekahkan kepada orang lain berarti dalam dirinya ada rasa berbaik sangka kepada Allah SWT. Ada keyakinan dalam dirinya bahwa Allah SWT akan mengganti sedekah yang dikeluarkannya tersebut dengan sesuatu yang lebih baik.

 

Hal ini berbeda dengan orang pelit yang menganggap pintu rizki itu hanya kerja keras dan kikir terhadap orang lain. Mereka tidak yakin jika mereka mengeluarkan sedekah niscaya Allah SWT akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa Allah SWT berfirman:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Sesungguhnya Allah berkata: Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya.” (HR. Muslim)

 

Sebab memperoleh cinta Allah SWT dan cinta manusia

Salah satu langkah untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah SWT adalah dengan cara mengasihi sesama manusia, dan salah satu cara mengasihi sesama manusia adalah dengan bersedekah kepada mereka. Perbuatan cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia bisa menjadikan sebab seseorang dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang mengasihi dirahmati oleh Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), kasihilah yang ada di bumi niscaya yang di langit akan mengasihi kalian” (HR. Abu Dawud)

 

Selain kecintaan Allah SWT, orang yang suka bersedekah akan mendapatkan kecintaan dari sesama manusia. Sudah menjadi tabiat manusia untuk ingin diperhatikan, dimengerti dan dibantu. Sedekah merupakan salah satu bentuk empati sosial. Setiap orang yang diberi sesuatu kenikmatan pasti ia akan merasa senang dengan pemberinya.

 

Mensucikan jiwa

Cinta dunia adalah kotoran yang menempel dalam jiwa manusia. Salah satu bentuk cinta dunia adalah mencintai harta yang berlebihan. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ – ٱلَّذِى جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ – يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُ

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (1) Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (2) Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. (QS. Al-Humazah: 1-3)

 

Sifat bakhil adalah kotoran yang menodai jiwa dan kotoran itu harus disucikan. Cara mensucikannya adalah menanamkan sifat pemurah dengan cara senang bersedekah. Jika hati dan jiwa sudah bersih maka akan mendapatkan kelapangan dan kemudahan untuk
beribadah kepada Allah SWT.

 

Begitu mulia orang yang senang bersedekah. Ia disenangi oleh Allah SWT dan disenangi oleh manusia. Sedangkan orang yang bakhil, ia tidak disukai Allah SWT dan manusia. Begitu banyak kemulian orang yang bersedekah karena ia telah menanamkan kebaikan bagi keimanannya dan sikap empati terhadap sesama manusia. Harta bukan jaminan seorang menjadi bahagia, tapi membahagiakan orang lain dengan membagi rejekinya merupakan kebahagiaan tersendiri bagi yang bersedekah.

Nurul Makrifah

Dosen STIT Al-Ibrohimy Galis Bangkalan

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com