Tasawuf

Tiga Amalan yang Memudahkan Hisab

...

al-Ibar.net – Al-jaza’ min jins al-‘amal, balasan itu didapat sesuai dengan perbuatannya. Demikian bunyi sebuah untaian hikmah yang seringkali kita dengar. Kalimat ini memberikan nasihat agar seseorang berhati-hati dengan setiap amal perbuatannya di dunia, karena setiap perbuatan memiliki konsekuensi terhadap pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

 

Dalam Al-Qur’an digambarkan bahwa setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah dan kelak mereka akan dihisab atau “dihitung” amal perbuatannya. Dalam surah Al-Insyiqaq digambarkan dua kelompok manusia pada yaumul hisab, yaitu mereka yang dihisab dengan mudah dan yang celaka. Allah berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا وَيَنْقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا

Terjemahnya, “Adapun orang yang diberikan catatannya dari sebelah kanan, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan catatannya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”, dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala (neraka)” (Q.s. Al-Insyiqaq: 7-12)

 

Dari ayat ini, lantas muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar mendapatkan hisab yang mudah (hisaban yasiran) tersebut? Atau amal apa saja yang bisa dipraktikkan agar kelak Allah menghisab kita dengan hisab yang mudah? Pertanyaan ini terjawab oleh Imam al-Suyuthi dalam kitab tafsirnya yang berjudul al-durr al-manthur fi al-tafsir bi al-ma’thur (15/318).

 

Al-Suyuthi menukil sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dikeluarkan oleh al-Bazzar, al-Thabrani dalam al-ausath, Ibn ‘Addi, al-Baihaqi serta al-Hakim. Bahwa Rasulullah dalam salah satu sabdanya pernah menjelaskan tiga amalan yang membuat seseorang akan dihisab oleh Allah dengan hisab yang ringan. Tiga amalan tersebut adalah:

 

1. Memberi Orang yang Tak Pernah Memberimu

Amalan pertama adalah memberi orang yang tidak pernah memberimu atau hampir tidak pernah berbuat baik kepadamu. Dalam hadis tersebut beliau bersabda:

ثلاث من كن فيه حاسبه الله حسابا يسيرا, وأدخله الجنة برحمته: تعطي من حرمك…

Terjemahnya, “Tiga hal yang jika itu ada dalam diri seseorang, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah dan memasukkannya ke dalam surga dengan rahmat-Nya: Memberi orang yang tidak pernah memberimu.

 

Salah satu kemuliaan ajaran Islam adalah memerintahkan para pemeluknya untuk berbuat baik kepada orang lain, tidak hanya kepada mereka yang telah berbuat baik kepada kita. Namun juga kepada mereka yang tidak pernah berbuat baik kepada kita. Pada tahap yang lebih tinggi, umat Islam juga dianjurkan untuk berbuat baik kepada mereka yang telah berbuat buruk kepadanya.

 

2. Memaafkan Orang yang Berbuat Salah Kepadamu

Amalan kedua sesuai dengan kelanjutan Hadisnya adalah,

…وتعفو عمن ظلمك…

“…memaafkan orang yang telah zalim kepadamu…

 

Al-Syinqithi dalam adhwa’ al-bayan menjelaskan bahwa tidaklah manusia itu dinamakan dengan al-insan melainkan karena sifatnya yang pelupa (wa maa summiya al-insan illa li nisyanihi).

 

Maka karena manusia itu lekat dengan sifat lupa dan salah sudah sepantasnya maaf juga menjadi sifat mulia yang harus dimiliki oleh tiap insan, karena tidak ada manusia sempurna yang luput dari salah dan tidak akan ada hubungan yang langgeng kecuali adanya kerelaan untuk saling memaafkan di antara keduanya. Ajaran untuk memaafkan ini juga merupakan bukti kebaikan ajaran Islam dalam membina hubungan di antara manusia.

 

3. Menyambung Silaturahim dengan Mereka yang Memutuskannya

Adapun amalan yang ketiga atau yang terakhir yaitu,

…وتصل من قطعك

…dan menyambung (silaturahmi) dengan mereka yang memutuskannya

 

Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, karena ia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Maka dari itu, Islam mengajarkan pemeluknya untuk terus menjaga hubungan yang baik antara sesama manusia, bahkan jika orang lain itu memutuskan hubungannya dengan kita, kita tetap dianjurkan untuk memulai ‘perdamaian’ dengannya. Lebih-lebih lagi jika terhadap kerabat dan keluarga dekat sendiri.

 

Dalam hadis lain tiga amalan ini juga disebutkan sebagai tiga akhlak yang paling mulia untuk dimiliki manusia dan akan memberikan dampak positif dalam kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat. Tampak dari ketiga amal tersebut semuanya bersifat amalan sosial antarmanusia. Maka dari itu, penting diperhatikan bagaimana kita bersosialisasi dengan orang lain. Islam bukan sekadar ritual dan rapalan saja, melainkan juga bagaimana kita bermuamalah dengan manusia (al-mu’amalah ma’a al-nas). Wallahu a’lam.[]

Achmad Syariful Afif

Sedang menempuh pendidikan strata-1 (S1) pada jurusan ilmu Alquran dan Tafsir, Fakultas Ushuludin & Filsafat di UIN Sunan Ampel Surabaya

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com