Tokoh

Patut Dicontoh, 4 Ulama yang Istikama Membaca dan Menulis sampai Usia Senja

...
Ulama yang suka membaca dan menulis/sastraarab.com

“Jika kamu bukan anak seorang raja atau bukan anak seorang ulama, maka menulislah”

Sudah tidak asing lagi bahwa peradaban Islam pada abad pertengahan merupakan peradaban gemilang pada saat itu. Hal ini berbanding terbalik dengan dunia Eropa yang masih diliputi kabut kebodohan di mana mereka masih buta ilmu pengetahuan. Kegemilangan peradaban Islam saat itu melintasi masa  dua kerajaan besar yaitu Abbasiyah dan Umayyah. 

Faktor utama kegemilangan yang dicapai oleh dua kerajaan tersebut adalah perhatian penuh para khalifah terhadap ilmu pengetahuan yang didukung oleh ghirah para ulama untuk mengkaji dan menulis, sehingga terciptalah budaya membaca di tengah-tengah masyarakat saat itu. Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan 4 ulama abad pertengahan yang menghabiskan seluruh umur hidupnya untuk membaca dan menulis kitab-kitab yang pengaruhnya masih bisa kita rasakan sampai saat ini. Berikut 4 ulama tersebut:

 1. Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd memiliki nama lengkap Abu Al-Walid bin Muhammad bin Rusyd. Ia memiliki banyak nama panggilan seperti Averroes, Aben Rosd, Ibn Rusid, Avenryz, dan Ben Resched. Lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Ibn Rusyd merupakan keturunan dari keluarga yang cukup terpandang, kakeknya adalah seorang Qadhi dan pejabat kerajaan Cordova. 

Sejak kecil, Ibn Rusyd mendapat pendidikan ilmu keislaman  seperti fikih, kalam, Al-Quran, dan hadis. Selain itu ia juga mempelajari ilmu kedokteran, matematika dan filsafat. Ilmu-ilmu itu dipelajari langsung dari ulama-ulama ternama saat itu, seperti Abu Al-Qasim bin Basykal, Abu Bakr bin Samhun, Abu Marwan bin Massaroh, dan Abu Ja’far bin Harun At-Tujali. Untuk guru yang terakhir ini, Ibn Rusyd mempelajari ilmu filsafat darinya.

Ibnu Rusyd sangat gemar membaca buku sehingga tampak darinya perkembangan intelektual yang luar biasa. Hal itu dibuktikan dengan kemampuannya dalam menguasai filsafat Aristoteles. Pernah suatu waktu ia diperintah oleh Khalifah Muwahhidun yang bernama Abu Ya’qub untuk mengulas dan memberikan komentar terhadap karya Aristoteles. Tugas tersebut akhirnya ia selesaikan dengan baik. 

Selain filsuf, Ibnu Rusyd juga berstatus sebagai Qadhi dan dokter pribadi khalifah. Mengutip dari Fuad Mahbub Siradj dalam buku Ibnu Rusyd Cahaya Islam di Barat, Seumur hidupnya ia selalu menyibukkan diri dengan membaca. Diriwayatkan dari Ibnu Al-Abbar bahwa Ibnu Rusyd hanya  tidak belajar ketika menikah dan ketika ayahnya meninggal. Karya-karyanya juga sangat banyak seperti Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Tahaffut At-Tahaffut,Fashl al-Maqal fii ma baina al-Hikma wa as-Syariah, Al-Dharuri fil Mantiq, Al-Dharuri fil al-Nahwi, Al-Dharuri fi Ushul Fiqh au Mukhtashar Al-Mustashfa, Masa’il fil Manthiq dan masih banyak lagi. 

2. Imam Al-Ghazali

Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali lahir di kota Thus pada tahun 1058 M. Memulai pendidikannya saat masih kecil. Beliau belajar Fikih kepada Syaik Ahmad bin Muhammad Ar-Radzakani. Kemudian berguru kepada Imam Abu Nashr al-Isma’ili di kota Thus. Setelah itu beliau berguru kepada Imam Abu al-Ma’ali al-Juwaini di kota Nisapur. Dari guru yang ketiganyalah beliau memeroleh pengetahuan penting seperti perbandingan mazhab, ilmu retorika, ushul fikih, manthiq, dan filsafat.

Imam Al-Ghazali adalah pribadi yang kritis dan selalu haus akan ilmu pengetahuan. Jika ilmu itu ibarat lautan, al-Ghazali akan menyelam hingga ke dasarnya. Dalam pengembaraan intelektualnya, al-Ghazali pernah menekuni ilmu filsafat. Namun ia menemukan banyak kerancuannya di dalamnya, hingga lahir lah kitab Tahafut al-Falasifah. Pada akhirnya, al-Ghazali masuk ke dunia sufistik dan tenggelam di dalamnya. 

Imam Al-Ghazali meninggalkan banyak karya, dan tercatat ada 457 kitab yang ia karang. Karya-karyanya memuat banyak cabang ilmu, mulai dari fikih, ushul fikih, ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf. Karyanya begitu mengagumkan, subur, tajam dan kritis. Gurunya mengatakan bahwa Imam Al-Ghazali adalah Bahr al-Mughdiq (lautan luas nan deras).

3. Ibnu Jarir At-Thabari

Ibnu Jarir Ath-Thabari adalah seorang ulama yang terkenal dengan kitab tafsirnya yaitu Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Quran atau lebih familiar dengan Tafsir Ath-Thabari . Beliau lahir di kota Amul, Afghanistan pada tahun 839 M. Memiliki nama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib Ath-Thabari. Ayahnya begitu mencintai ilmu pengetahuan sehingga ia dididik untuk  menekuni serta menghafal Al-Quran dan hadis. 

Pada usia 7 tahun beliau telah menghafalkan Al-Quran dan pada usia 9 tahun beliau telah menulis hadis. Seorang sejarawan Islam, Al-Khatib Al-Baghdadi, mengatakan bahwa selama hidupnya beliau istiqomah menulis sebanyak 40 lembar dalam setiap harinya. Dalam buku 60 Biografi Ulama Salaf karya Syaikh Ahmad Farid, Muhammad Az-Zuhailli mengatakan  bahwa selama masa mudanya, Ibnu Jarir menghabiskan waktunya untuk berkelana jauh dari satu daerah ke daerah lain untuk menuntut ilmu, menyalin, dan membeli kitab.

Beliau begitu zuhud, sampai usia 30 tahun beliau hidup sederhana dan memiliki sedikit harta. Baginya, ilmu adalah suatu kelezatan dan kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan membuat Ibnu Jarir tidak sempat untuk menikah dan lebih memilih membujang hingga akhir hayat. 

Beliau banyak meninggalkan banyak karya, di antaranya adalah Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ayi Al-Quran, Tarikh Ar-Rusul, Tahdzib al-Atsar, Ikhtilaf al-Ulama al-Amshar, Adab al-Qadhi, At-Tabshirah fi Ma’alim ad-Din, Syarh as-Sunah, Abad al-Manasik, Adab al-Nufus, dan Fadhail Abi Bakr wa Umar

4. Imam Nawawi

Imam An-Nawawi sama seperti Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, lebih memilih membujang seumur hidupnya. Hari-harinya habis dibuat untuk belajar dan mengarang kitab. Imam Nawawi  lahir pada tahun 631 H/1233 M di desa Nawa, Iran. Semenjak kecil beliau sangat mencintai ilmu pengetahuan. Hal ini berkat didikan Alquran dari sang ayah. Pada suatu ketika, Imam Nawawi kecil  dipaksa untuk bermain dengan teman-temannya. Namun Imam Nawawi menolak dan menangis karena tak ingin berpisah dengan Al-Quran.

Baca juga:

Pada usia 9 tahun, sang ayah menyekolahkannya di Madrasah Ar-Rawahiyah. Dalam waktu 4,5 bulan, Imam Nawawi mampu menghafal  2 kitab karangan al-Imam Abu Ishaq Ibrahim al-Syairazi al-al-Fairuzabadi yaitu kitab At-Tanbih dan Al-Muhadzdzab. Setelah itu, beliau mempelajari aneka ragam cabang ilmu, seperti Syarah, Tashih, Fikih, Hadis, Ushul, Nahwu dan ilmu Balaghah.

Sejak kecil  hingga akhir hayatnya, Imam Nawawi tak pernah berhenti belajar dan menuntut ilmu. Mengutip dari K.H. Hussein Muhammad, Diriwayatkan dari Abu Al-Hasan bin Athar ia berkata bahwa gurunya pernah bercerita jika An-Nawawi menghabiskan waktunya sepanjang siang dan malam hanya untuk membaca, mengkaji, dan menulis. Dan boleh dikatakan beliau tiada hari tanpa menuntut ilmu, mengajar, dan menyampaikan nasehat kepada masyarakat. Sedikit makan, minum dan tidur rutin dijalaninya. Wallahu a’lam.

 

Thoriq Kemal

Penulis memiliki nama lengkap Thoriq Kemal, biasa dipanggil Cak Thor. Lahir di Surabaya, 18 Desember 1998. Penulis merupakan aktivis IMM komisariat Al-Qossam di bidang keilmuan 2019-2020. Saat ini aktif di organisasi Forum Lingkar Pena Cabang Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com