Tokoh

KH. Hasani Nawawi Sidogiri; Kiai Sufi yang Merindukan Mati

...

al-Ibar.net – Sebelumnya, sudah dimuat dalam website ini artikel tentang KH. Hasani Nawawi Sidogiri. Artikel itu membahas kisah beliau di masa muda. Mulai dari kisah belajar dan kiprahnya menghadang Belanda.

Tentu, kisah teladan putra salah satu pendiri NU ini masih berserakan. Di antara teladan yang perlu kita renungi adalah bagaimana KH. Hasani Nawawi Sidogiri menyikapi dunia. Sikap zuhud, wara’ dan sederhana adalah ciri khas beliau.

Harta Itu Seperti Obat

Sikap KH. Hasani Nawawi Sidogiri terhadap dunia atau harta tak ubahnya sikap Sayidina ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau tidak peduli sama sekali pada harta. Harta tidak menghiasai fasilitas hidup beliau, apa lagi hati beliau.

KH. Hasani Nawawi Sidogiri lebih memilih hidup ala kadarnya. Mengambil sebagian dari harta hanya untuk menutupi kebutuhannya. Terbukti, beliau tidak mau punya mobil, rumah beliau sederhana, dan tidak dihiasi prabotan mewah.

Bahkan, jika ada harta yang mengejar beliau, malah beliau tolak. Misalnya, KH. Hasani Nawawi Sidogiri tidak mau disalami uang. Sampai-sampai masyarakat memasukkan uang ke ndalem beliau lewat celah-celah rumah.

Ketika mengetahui hal itu, KH. Hasani Nawawi Sidogiri menutup semua celah rumah beliau. Masyarakat pun tidak bisa lagi memasukkan uang ke ndalem beliau.

Menurut KH. Hasani Nawawi Sidogiri, mencintai dunia itu sumber mala petaka. Apa lagi jika cinta dunia itu menimpa para ulama atau cendikiawan. Beliau menulis dalam manuskripnya, kerusakan dunia karena para ulama cinta dunia.

KH. Hasani Nawawi Sidogiri juga menekankan, jangan terlalu memikirkan harta. Bahkan tidak perlu menghitungnya. Beliau berpesan, “Jangan sampai engkau tahu, berapa jumlah uang yang ada di sakumu.” Lebih lanjut, KH. Hasani Nawawi Sidogiri mengatakan, “ad-Dunya Dawa’” bahwa dunia itu adalah obat.

Konon, kalam hikmah itu beliau dapatkan dari mimpi sebanyak 21 kali. Dalam mimpi itu, KH. Hasani Nawawi Sidogiri bertemu Ir. Soekarno, presiden pertama RI. Lalu Soekarno mengatakan, “ad-Dunya Dawa’”.

KH. Hasani Nawawi Sidogiri merenungi apa arti dari kata hikmah itu. Lalu, KH. Hasani menceritakan mimpinya kepada kakaknya, KH. Cholil Nawawi Sidogiri. Setelah berpikir panjang, KH. Cholil menjelaskan bahwa obat itu digunakan hanya saat membutuhkan. Begitu juga dunia atau harta, harus digunakan hanya untuk kebutuhan.

“Yang baik, obat itu apa kata dokternya. Tidak boleh overdosis,” KH. Hasani Nawawi Sidogiri melengkapi.

Lebih Memprioritaskan Hati

Banyak orang berusaha agar bisa terkenal. KH. Hasani Nawawi Sidogiri malah sebaliknya. Beliau lebih suka tidak menonjolkan diri. Kata beliau pada keponakannya, KH. Nawawi Abdul Jalil, “Sing enak saiki iki mastur,” (yang enak sekarang itu mastur). Arti mastur dalam dunia tasawuf adalah tidak diketahui siapapun bahwa dirinya seorang wali, dekat dengan Allah SWT.

Dalam kehidupan bertasawuf, yang paling ditekankan adalah bersihnya hati. Bersih dari riya’, sombong, ujub, dan penyakit-penyakit hati lainnya. Apapun yang bisa mengganggu kebersihan hati, harus dihindari.

Nah, menjadi orang terkenal itu kadang bisa merusak hati. Bisa lahir ujub (bangga diri) dan riya dalam hati. Hal itu dapat mengurangi, bahkan merusak keikhlasan hati dalam menghamba kepada Allah SWT.

Dalam kehidupan sehari-hari pun KH. Hasani Nawawi lebih memprioritaskan hati. Tidak peduli pada atribut-atribut atau tampilan luar saja. Misalnya dalam berpakaian, KH. Hasani Nawawi Sidogiri tidak mengenakan takwa putih, apa lagi sorban layaknya ulama. Beliau lebih suka memakai baju takwa hitam dan songkok hitam.

Dalam ibadah, KH. Hasani Nawawi Sidogiri juga lebih memilih ibadah yang dapat mendidik hati. Oleh karenanya, beliau lebih memilih ibadah yang dirasa berat dilakukan. Dalam ibadah yang demikian, ada upaya untuk menundukkan hati kepada Allah SWT. Beliau pernah dawuh, “Lebih berat maksiatnya hati dari pada maksiatnya badan.”

Ingin Segera Meninggal Dunia

Beda dengan kebanyakan orang yang ingin hidup lebih lama, KH. Hasani Nawawi Sidogiri malah ingin segera wafat. Hal itu karena ada kerinduan untuk segera bertemu Allah SWT. Kerinduan ini sering beliau ungkapkan, terutama menjelang wafat.

Selain itu, beliau juga memandang, kematian adalah kebaikan. Jika yang mati adalah orang baik, maka dia akan segera bertemu kebaikannya. Jika orang jahat yang mati, maka dia akan berhenti dari kejahatannya.

”Kalau orang baik pendek umur, ia cepat ketemu kebaikannya. Kalau orang yang jelek pendek umur, ia cepat putus dari kejelekannya agar tidak banyak dosanya,” dawuh KH. Hasani Nawawi Sidogiri suatu ketika.

Tasawuf dan Syariat

Dalam menjalani kehidupan, KH. Hasani Nawawi Sidogiri mengamalkan ajaran-ajaran tasawuf. Namun, beliau tidak mengabaikan syariat.

Tasawuf dan syariat memang tidak boleh dipilih salah satu. Harus dikerjakan dalam waktu bersamaan. Menjalankan syariat berarti menjalankan tuntunan Islam. Menjalankan tasawuf berarti menjalankan tuntunan Islam dengan sebaik-baiknya.

Hal ini tercermin misalnya, KH. Hasani Nawawi Sidogiri sangat kukuh menjalankan tuntunan fikih dalam pelaksanaan salat. Beliau akan sangat marah jika ada santri salatnya tidak benar. Tidak hanya itu, dalam pengumandangan azan pun beliau melarang untuk dilagukan.

Menurut KH. Hasani Nawawi Sidogiri, pengamalan ilmu itu nomor satu, agar bisa menyelamatkan diri dari api neraka. Mencari ilmu tidak ada gunanya jika tidak diamalkan. Beliau pernah dawuh, “Kalau dulu memang dibutuhkan orang-orang alim, sekarang sudah tidak perlu lagi. Semuanya sudah alim-alim. Kita hanya perlu menyelamatkan diri.”

KH. Hasani Nawawi Sidogiri wafat setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, malam Selasa, 13 Rabiuts Tsani 1422 H pukul 03.50 dini hari. Beliau wafat karena darah tinggi yang sudah sejak lama dideritanya. Semoga kita mendapat berkah beliau… Amin.

*Disarikan dari Jejak Langkah 9 Masyaikh Sidogiri
 

Saifuddin Syadiri

Kader HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya dan aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Surabaya.

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com