Tokoh

Menelisik Perjalanan Intelektual Syekh Nawawi Banten, Mufassir Kebanggaan Indonesia

...

al-Ibar.net – Syekh Muhammad Nawawi bin Umar bin Araby bin ‘Ali al-Bantani atau lebih populer dikenal dengan Syekh Nawawi Banten atau Nawawi al-Bantani. Beliau merupakan seorang ulama dan mufasir yang mutafannin. Beliau lahir di Kampung Tanara, Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 H/1813 M dan wafat pada usia 84 tahun di tempat kediamannya yang terakhir yakni di kampung Syiib Ali, Makkah.

 

Selain menjadi pembelajar dan pengajar yang luar biasa, Syekh Nawawi Banten juga merupakan seorang penulis yang produktif. Rafiuddin Ramli dalam buku ‘Sejarah Hidup dan Silsilah Syaikh Kiai Nawawi Tanara Banten’ menyebutkan setidaknya terdapat 115 kitab, atau dalam riwayat lain disebutkan 99 kitab yang telah ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani.

 

Sekilas Kisah Pencarian Ilmu Syekh Nawawi al-Bantani

Berdasarkan catatan Muhammad Syamsu dalam buku ‘Ulama Pembawa Islam di Indonesia’, Syekh Nawawi pertama kali berguru kepada ayahnya sendiri, Kiai Umar. Bisa dilihat bahwa orang tua dan keluarganya memiliki peran yang krusial terhadap perkembangan Syekh Nawawi saat kecil.

 

Selain itu, beliau juga belajar kepada Haji Sahal, seorang ulama besar di Banten dan Haji Yusuf yang merupakan seorang ulama dari Purwakarta. Merasa masih belum puas dengan ilmu yang dipelajarinya, ia melanjutkan pencarian ilmunya hingga ke Masjidil Haram.

 

Semangat belajar Syekh Nawawi ini mengingatkan kita pada sebuah syair yang pernah dilantunkan oleh Imam al-Syafi’i dalam diwannya:

ما في المقام لذي عقل وذي أدب من راحة فدع الأوطانَ واغترِب

سافر تجد عوضا عمن تفارقه                 وانصب فإن لذيذ العيش في النصب

Terjermah bebas:

“Tidaklah layak bagi seorang yang berakal dan beradab untuk beristirahat (dari mencari ilmu). Berkelanalah, niscaya akan kau temukan ganti atas hal-hal yang engkau tinggalkan, dan bekerja keraslah karena ketinggian derajat hidup itu hanya didapat dengan usaha yang tekun (tidak dengan malas-malasan).”

 

Saat berada di Makkah, Syekh Nawawi berguru pada banyak ulama besar, di antaranya adalah Sayyid Ahmad Nahrawi, Sayyid Ahmad Dimyathi, Sayyid Zaini Dahlan dan lain-lain. Selain itu, ia juga berguru pada Syekh Muhammad Khatib al-Hanbali saat berada Madinah. Syekh Nawawi juga pernah menuntut ilmu ke Mesir dan Syam, serta berguru dengan para ulama di sana.

 

Kegiatan Mengajar

Menurut catatan Didin Hafudhuddin dalam tulisan berjudul ‘Tinjauan Atas Tafsir Al-Munir Karya Syaikh Nawawi al-Bantani’, sebenarnya sesudah belajar ke empat negeri di atas, Syekh Nawawi menyempatkan pulang ke tanah air dan belajar lagi kepada seorang ulama besar di Karawang, Jawa Barat.

 

Beliau juga sempat mengajar selama beberapa saat di tanah air, namun hal itu tidak berlangsung lama karena kondisi tanah air pada masa itu masih berada di bawah penjajahan kolonial Belanda, gerak-gerik ulama diawasi oleh penjajah. Dari sini kita juga belajar nikmat kemerdekaan itu begitu besar dan harus disyukuri.

 

Karena kondisi tersebut, beliau akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke Masjidil Haram. Pada keberangkatannya yang kedua ini beliau menuntut ilmu lagi kepada Syekh Khatib Sambas, Abdul Gani Bima, Yusuf Sumulaweni dan Abdul Hamid Dagastan. Sesudah itu beliau mengajar dan mendakwahkan agama Islam di Makkah.

 

Sebagai seorang yang alim, tinggi akhlak dan bekal pengetahuan agama yang ditekuninya selama kurang lebih tiga puluh tahun, beliau akhirnya mengajar di Masjidil Haram setiap harinya. Setiap kali beliau mengajar, tercatat tidak kurang dari 200 orang hadir untuk menyimak pemaparan beliau.

 

Di antara ulama besar di Indonesia yang pernah berguru dan menjadi murid Syekh Nawawi al-Bantani adalah Mbah Hasyim Asy’ari, KH. Kholil Bangkalan, KH. Asy’ari Bawaian -nantinya dijadikan mantu oleh Syekh Nawawi, KH. Nahjun Tangerang, KH. Asnawi Banten, KH. Ilyas Banten, KH. Abdul Ghafar Banten, KH. Tubagus Bakri Purwakarta dan lain sebagainya.

 

Karya-Karyanya

Sebagaimana sudah disinggung di awal, Syekh Nawawi al-Bantani merupakan seorang penulis yang cukup produktif, tercatat beliau telah mengarang 99-115 kitab dalam berbagai bidang, mulai dari akidah sampai tafsir, baik berupa karya sendiri maupun syarh terhadap karya ulama sebelumnya.

 

Untuk menyebut beberapa karyanya, dalam bidang akhlak dan tasawuf terdapat beberapa karya seperti Sullam al-Fudhala yang merupakan ulasan atas kitab Manzhumat al-Azkiya, Maraqi al-‘Ubudiyyah yang merupakan syarh atas kitab Bidayat al-Hidayah karya al-Ghazali.

 

Dalam bidang fikih terdapat beberapa karya seperti al-Tawsyih yang berupa ulasan atas kitab Fath al-Qarib, al-Tsimar al-Yani’at yang merupakan penjelasan atas kitab Riyadh al-Badi’at dan kitab Kasyifah al-Syifa sebagai syarah dari kitab Safinah al-Naja.

 

Lalu di bidang tauhid dan akidah ada kitab Nur al-Zhalam: penjelasan dari Manzhumat ‘Aqidah al-Awamm, Fath al-Majid: ulasan atas kitab al-Durr al-Farid fi al-Tauhid, Tijan al-Darari: ulasan atas al-‘Alim al-‘Allamah al-Syaikh Ibrahim al-Bajuri fi al-Tauhid dan Qami’ al-Tughyan yang merupakan syarh terhadap kitab Manzhumat Syu’ab al-Iman Karya Imam Zainuddin al-Malibari.

 

Selain itu, beliau juga menulis al-Tafsir al-Munir li Ma’alim al-Tanzil yang begitu fenomenal, dan menyebabkan beliau mendapatkan penghargaan dari para ulama Makkah dan Mesir. Karya ini diselesaikan beliau pada malam Rabu 5 Rabiul Akhir 1305 H. Kitab ini beliau sodorkan kepada para ulama di Makkah untuk diteliti kemudian dicetak pertama kali di sana.

 

Di Mesir, para ulama memberinya julukan “Sayyid Ulama Hijaz” atau pemimpin ulama Hijaz sebagai sebuah penghargaan yang luar biasa. Mereka juga menuliskan sebuah puisi yang artinya,

 

“Sungguh, ilmu itu cahaya yang menerangi pemiliknya # Dimanapun ia berada, akan senantiasa dimuliakan”.

 

Dari karya-karyanya di atas, bisa kita lihat bahwa beliau adalah seorang ulama yang mutafannin atau memiliki keahlian di berbagai bidang ilmu seperti fikih, akidah, akhlak, tasawuf dan tafsir. Selain beberapa yang disebutkan di atas, Syekh Nawawi juga memiliki beberapa karya di bidang sirah, maulid, gramatika bahasa arab dan ilmu sharaf.

 

Dari beliau kita belajar banyak hal, khususnya dalam soal semangat dan ketekunan menuntut ilmu serta menyebarkannya. Bagaimanapun, ilmu yang bermanfaat itu akan mengangkat derajat seseorang, yarfa’illahu alladzina amanu minkum walladzina utul ‘ilma darajaat. Wallahu A’lam.

Achmad Syariful Afif

Sedang menempuh pendidikan strata-1 (S1) pada jurusan ilmu Alquran dan Tafsir, Fakultas Ushuludin & Filsafat di UIN Sunan Ampel Surabaya

Kontributor

al-ibar.net dikelola oleh para penulis dan kreator yang butuh dukungan dari sahabat-sahabat. Yuk bantu al-ibar.net agar istikamah melahirkan karya yang mengedukasi dan berkualitas. Atas partisipasinya, kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Transfer donasi ke:

Bank Jatim
No Rek: 1282095285
A.n Yayasan Harakah Annajah Surabaya

Konfirmasi ke alibardotnet@gmail.com